Home Ekonomi

Februari 2021, NTPR Sulteng Turun 0,36 Persen

17
Dumangar Hutauruk. (Foto: Metrosulawesi/ Pataruddin)

Palu, Metrosulawesi.id – Nilai tukar subsektor tanaman perkebunan rakyat selama Februari 2021 mengalami penurunan indeks sebesar 0,36 persen. Nilai NTPR yang sebelumnya sebesar 94,55 pada bulan Januari 2021 turun menjadi 94,21 pada Februari 2021.

Menurut Kepala BPS Sulteng, Dumangar Hutauruk penurunan ini disebabkan oleh turunnya indeks harga yang diterima petani sebesar 0,39 persen lebih besar dibandingkan penurunan indeks harga yang dibayar petani yang hanya sebesar 0,03 persen.

Sedangkan, lanjut dia, It subsektor tanaman perkebunan rakyat turun dari 102,22 persen poin pada Januari 2021 menjadi 101,82 persen poin pada Februari 2021. Demikian halnya dengan Indeks Harga yang dibayar petani (Ib) pada subsektor tanaman perkebunan rakyat juga mengalami penurunan dari 108,11 pada bulan Januari 2021 turun menjadi 108,08 pada bulan Februari 2021.

“Penurunan Ib ini disebabkan oleh turunnya indeks harga untuk konsumsi rumahtangga sebesar 0,12 persen sementara indeks harga biaya produksi dan penambahan barang modal yang mengalami kenaikan sebesar 0,47 persen,” ujarnya

Lain hal dengan dengan subsektor peternakan pada bulan Februari 2021 mengalami kenaikan NTP sebesar 0,35 persen. Ia mengatakan nilai NTPT yang semula 96,39 pada Januari 2021 naik menjadi 96,73 pada Februari 2021.

“Kondisi ini disebabkan oleh peningkatan indeks harga yang diterima petani sebesar 0,28 persen sedangkan indeks harga yang dibayarkan petani turun sebesar 0,06 persen. Indeks harga yang diterima (It) petani subsektor peternakan pada bulan Februari 2021tercatat sebesar 104,00 sedangkan Ib tercatat sebesar 107,51,” katanya.

Sementara itu, ia menjelaskan untuk peningkatan It disebabkan oleh naiknya indeks harga pada subkelompok ternak besar mencapai 0,22 persen, subkelompok ternak kecil sebesar 2,28 persen, dan subkelompok hasil-hasil ternak/unggas sebesar 0,02 persen.

“Untuk subkelompok unggas mengalami penurunan indeks sebesar 0,03 persen. Selanjutnya penurunan Ib sebesar 0,06 persen disebabkan oleh turunnya indeks harga konsumsi rumahtangga sebesar 0,15 persen sedangkan indeks harga biaya produksi dan penambahan barang modal naik sebesar 0,05 persen,” jelasnya.

Reporter: Fikri Alihana
Editor: Pataruddin

Ayo tulis komentar cerdas