Home Hukum & Kriminal

Oknum Pengusaha Palu ‘Bermain’ PETI di Parimo

62
MERUSAK LINGKUNGAN - Beginilah penampakan lokasi pertambangan emas tanpa izin di desa Buranga, Kecamatan Ampibabo, Kabupaten Donggala tampak dari udara. (Foto: Dok. Walhi Sulteng)

Palu, Metrosulawesi.id – Pertambangan emas tanpa izin (PETI) cukup marak terjadi di Sulawesi Tengah. Ada beberapa lokasi PETI aktivitasnya berlangsung sangat masif, semisal di lokasi pertambangan Desa Buranga, Kecamatan Ampibabo, Kabupaten Parigi Moutong, yang baru saja menelan korban jiwa.

Pascatragedi tertimbunnya sejumlah penambang ilegal, lokasi tambang di Desa Buranga menjadi perhatian serius sejumlah pihak. Tindakan Kepolisian dinantikan untuk mengungkap dugaan pidana yang terjadi di sana.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sulawesi Tengah berharap kasus pertambangan ilegal di Desa Buranga tidak hanya difokuskan pada penanganan dampak lingkungannya, tapi pengungkapan siapa aktor intelektual di balik aktivitas PETI tersebut.

“Di Buranga itu ada tindak pidana, ini bukan delik aduan, tapi sampai sekarang Kepolisian belum melakukan tindakan. Harus ditemukan siapa oknum yang terlibat,” ujar Pengkampanye Walhi Sulawesi Tengah Khairul Syaputra Laadjim saat ditemui di kantornya, Rabu 3 Maret 2021.

Bahkan, awal pekan kemarin Aliansi Peduli Lingkungan Parigi Moutong melakukan aksi demonstrasi untuk mendesak Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tengah agar menindak pemilik dan pemodal tambang di Desa Buranga.

Dari hasil temuan Walhi di lapangan, diduga kuat ada keterlibatan sejumlah oknum dalam aktivitas PETI di Desa Buranga, baik dari oknum pemerintahan di tingkat desa, kecamatan, oknum keamanan berpangkat hingga pemodal yang memang sudah malang melintang di bisnis pertambangan ilegal.

Bukan hanya itu oknum yang terlibat langsung dalam aktivitas pertambangan ilegal tersebut, oknum pemerintahan di tingkat kabupaten pun diduga terlibat karena melakukan pembiaran. Sebab, di lokasi terjadi aktivitas pertambangan menggunakan alat berat secara masif.

“Oknum yang terkait ini kalau kita lihat dari keterangan masyarakat itu, misalnya dari aparat desa, kemudian yang diduga juga memberikan izin atas kegiatan pertambangan yang ada di Desa Buranga, pembiaran dari Kecamatan, itu juga dapat dipidana,” ujar Khairul.

Pasca terjadinya longsor pada Rabu 24 Februari 2021 lalu di lokasi pertambangan Desa Buranga ditemukan sejumlah alat berat. Alat itu diduga digunakan untuk aktivitas pertambangan.

“Yang teman-teman (wartawan) lihat di lokasi memang hanya ada empat unit alat berat, tapi sebenarnya ada 10 unit lainnya yang disembunyikan tidak jauh dari lokasi tersebut,” ungkap dia.

Meskipun Walhi hanya menemukan belasan unit alat berat, tapi berdasarkan pengakuan warga jumlahnya bisa lebih banyak lagi, diperkirakan bisa lebih dari 20 unit. Alat berat itu dimobilisasi untuk aktivitas di dua lokasi pertambangan, yakni di Desa Buranga dan lokasi pertambangan di Desa Kayuboko, Kecamatan Parigi Barat.

Bahkan, sesaat pascalongsor di lokasi tambang Desa Buranga sejumlah alat berat dikeluarkan secara sembunyi-sembunyi melewati perkebunan warga.

Lalu, siapa pemilik alat berat di lokasi tambang emas ilegal itu? Diduga pemiliknya adalah oknum pengusaha dari Kota Palu. Oknum tersebut memiliki sejumlah perusahaan yang bergerak di berbagai bidang, baik jasa konstruksi, properti hingga pertambangan.

Oknum pengusaha tersebut tidak hanya terlibat pada pertambangan emas ilegal di dua lokasi itu. Dia juga diketahui pernah terlibat pada kasus pertambangan di Kelurahan Poboya. Namun sampai saat ini oknum pengusaha yang dimaksud seolah belum tersentuh tindakan hukum.

“Dugaan kita aktornya masih sama karena wilayah yang berdekatan dari Kayuboko misalnya di wilayah Parimo, patut diduga ini masih aktor yang sama yang menguasai pertambangan ilegal di wilayah Parimo,” sebut pria berkacamata yang akrab disapa Irul itu.

Akibat adanya sejumlah alat berat di dua lokasi pertambangan tersebut, juga berdampak pada ketersediaan bahan bakar. Temuan lainnya oleh Walhi, warga kerap mengeluhkan ketersediaan bahan bakar karena diduga dimonopoli oleh oknum tertentu untuk kebutuhan bahan bakar operasional alat berat di pertambangan.

“Warga itu susah beli solar di sana, itu diduga karena sudah dikuasai oleh oknum,” katanya.

Selain itu, ada pula temuan retribusi yang tidak jelas mengalir ke mana. Di lokasi tambang emas Desa Buranga, setiap warga yang ingin menambang harus menyetor uang senilai Rp10.000 setiap kali ingin ikut menambang.

“Nah, jumlah warga yang menambang setiap hari itu sampai 700 orang, setiap hari mereka harus menyetor Rp10.000,” jelas Khairul.

Jika per orang harus menyetor Rp10.000 setiap harinya dijumlahkan dengan banyaknya penambang yang mencapai 700 orang maka ada uang retribusi sebesar Rp7 juta setiap harinya, yang entah ke siapa retribusi tersebut diserahkan.

Penambangan emas ilegal di Desa Buranga sendiri sudah berlangsung cukup lama, namun baru masif dilakukan sejak tiga bulan terakhir. Masifnya penambangan oleh warga diduga karena masuknya alat berat yang mempermudah proses penambangan.

Sejak itu, warga bisa memperoleh penghasilan rata-rata per hari sebesar Rp200 ribu hingga Rp1 juta lebih dari hasi menambang. Jika warga yang menambang harus membayar setoran Rp10.000 per hari sebanyak 700 orang selama tiga bulan terakhir, setidaknya ada sekitar Rp630 juta uang retribusi yang tidak jelas siapa yang menikmati.

Menurut data Walhi, ada beberapa lokasi PETI di Sulawesi Tengah, tapi yang dampaknya paling berimplikasi yakni pertambangan di Desa Dongi-dongi, Kelurahan Poboya serta Desa Kayuboko dan Desa Buranga.

Masih di Pagi Moutong, selain di Buranga, ada juga PETI di Kayuboko. Sumber Metrosulawesi menyebutkan tambang di Kayuboko dikelola oknum pengusaha asal Kota Palu berinisial “J”. ‘J’ tidak sendiri dia dibantu temannya yang juga pengusaha dari Sulawesi Selatan berinisial ‘G’,” kata sumber Metrosulawesi.

“Keduanya sudah berbagi tugas masing-masing. Sebagai pemilik bendera, ‘J’ bertugas sebagai orang yang meredam permasalahan di tingkat pejabat tinggi Provinsi. Sedangkan ‘G’, bertugas mengawal proses penambangan emas di Kayuboko, sekaligus melakukan koordinasi dan meredam kicauan pejabat-pejabat di Kabupaten Parimo,” jelas sumber itu.

Untuk diketahui, longsor di lokasi tambang Desa Buranga beberapa waktu lalu menelan korban jiwa sebanyak tujuh orang, sementara puluhan lainnya mengalami luka-luka dan selamat.

Reporter: Tahmil Burhanuddin
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas