Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

Palu, Metrosulawesi.id – Yahdi Basma, melalui kuasa hukumnya resmi mengajukan banding atas putusan hakim Pengadilan Negeri Palu, yang menghukumnya 10 bulan penjara denda Rp300 juta subsider 1 bulan kurungan atas dugaan pelanggaran Undang-Undang ITE.

Kuasa Hukum Yahdi Basma, Rasyidi Bakrie SH, mengatakan, ada lima poin yang dijadikan materi dalam pengajuan banding ke Pengadilan Tinggi.

“Jadi memori bandingnya sudah dimasukkan tadi siang. Intinya lima poin,” katanya menjawab Metrosulawesi.id, Rabu 3 Maret 2021.

Hal pertama kata Rasyidi, pihaknya keberatan atas fakta bahwa judex facti Pengadilan Negeri Palu tidak mempertimbangkan keterangan saksi-saksi dan Ahli secara komprensif, karena hanya menyalin dari Tuntutan JPU.
Keberatan kedua katanya, yaitu terhadap pertimbangan judex facti dalam putusannya, yang menyatakan bahwa telah terpenuhi unsur “dengan sengaja dan tanpa hak” dalam Pasal a quo.

Kemudian keberatan ketiga, yaitu pertimbangan Judex Facti, yang menyatakan bahwa telah terpenuhi unsur “yang memiliki muatan penghinaan dan pencemaran nama baik” dalam Pasal a quo.

Keberatan keempat, terhadap pertimbangan Judex Facti PN Palu yang masih mengedepankan prinsip keadilan retributif dalam penanganan perkara a quo.

Poin kelima yang dicantumkan dalam memori banding itu adalah penerapan ketentuan yang lebih menguntungkan bagi pembanding dalam hal terjadi perubahan Undang-Undang.

Rasyidi mengatakan, sengaja memasukkan poin kelima itu, karena selang beberapa hari setelah putusan atas perkara ini, wacana untuk melakukan revisi terhadap UU RI No. 19 tahun 2016 tentang perubahan atas UU RI, No.11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik khususnya Pasal 27 ayat (3) jo Pasal 45 ayat (3) yang didakwakan kepada pembanding kembali menguat.

Sebelumnya Yahdi Basma diproses hukum, setelah diadukan oleh Gubernur Sulteng, Longki Djanggola. Yahdi dituduh telah mencemarkan nama baiknya karena telah mendistribusikan kliping berita koran hoaks yang menyudutkannya.

Yahdi sendiri menerima postingan kliping berita koran hoaks itu dari media sosial. Potongan kliping koran hoaks itu pertama kali diposting oleh dua orang yang hingga kini belum diproses secara hukum.

Reporter: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas