Home Artikel / Opini

Prof Andalan

15

BIASANYA pulang dari tempat kerja aku singgah di kedai kopi. Pagi ini kuputuskan singgah di kedai kopi langgananku sebelum ke tempat kerja. Mau saja seperti itu. Tak ada alasan khusus yang menyertainya.

Seperti biasa aku memilih meja dekat jendela kecil. Angin sepoi itu selalu kurindukan, tentu saja juga rasa kopinya yang gurih, di kedai kopi yang bernuansa tradisional ini.

Baru saja aku memperbaiki posisi kursi dan melirik pelayan kedai, cewek berwajah hitam manis itu, tiba-tiba seseorang memanggilku. Menyebut nama panggilanku. Aku pun balik mengarahkan mataku ke lelaki yang duduk di belakangku. Oh, Her, lengkapnya Herman, teman semasa kuliah, dulu.

Teringatlah aku dengan teman itu. Dia seorang aktivis hebat di kampus. Bukan saja cerdas mengkritisi penguasa, tapi juga berani berhadap-hadapan dengan militer. Tak terlupakan dengan teman itu adalah karakternya yang flamboyan. Semi playboi. Entah sudah berapa teman mahasiswi yang pernah menjalin cinta dengannya. Ah, sudahlah. Mengapa aku harus mengenang kisah asmaranya. Tak penting lagi. Aku senang berjumpa dengannya, pagi ini, setelah sekian tahun tak pernah mendengar kabar tentangnya dan aktivitasnya.

Her meninggalkan kursinya. Kini aku dan dia satu meja. Dia memanggil cewek itu. Dia lalu tanya aku mau minum apa. Aku jawab, biasa, kopi susu. Dia pun memesan dua kopi susu, dan dua porsi roti bakar. Tampaknya dia sudah berduit. Sudah berani mentraktir teman. Beda dulu.

“Ke mana saja kau selama ini, Her?

“Berpetualang, Bos.”

“Melihat penampilanmu, Her yang pantas dipanggil Bos.”

“Ha ha ha ha…”

“Her, apa kau dengar ada lagi pejabat ditangkap KPK?’

“Oh, si Nurdin Abdullah, Gubernur Sulawesi Selatan, itu?”

“Iya, memangnya kenapa?”

“Dia pengusaha kan?”

“Profesor, pengusaha, dan kini masuk partai politik.”

“Lengkap sudah. Makanya aku tak heran kalau dia korupsi.”

“Profesor andalan, Her. Dikenal cerdas dan jujur, makanya waktu pemilihan gubernur tiga tahun lalu, Nurdin Abdullah atau sering disingkat NA menang mutlak. Itu artinya disenangi oleh rakyat Sulawesi Selatan. Dan dia buktikan. Selama tiga tahun terakhir ini dia dinilai berhasil membangun daerahnya, sehingga tak heran dia mendapat penghargaan nasional dan internasional.”

“Ah, penghargaan itu hanya siasat belaka. Sikapku masih seperti dulu, kawan. Pokoknya kini rata-rata pejabat, apalagi kalau pejabat itu pilihan rakyat, pasti melakukan korupsi, siapa pun dia. Mahar politik makin mahal. Partai politik pendukung kan juga butuh dana banyak, demi membesarkan partai lalu merebut kekuasaan. Semua permainan. Rakyat hanya jadi alat, ya alat kekuasaan.”

Aku lalu diam. Merenungi kata-kata Her. Dia lalu melanjutkan, “eh kawan, kau tahu kini para pejabat bukannya gentar melakukan korupsi karena adanya KPK. Mereka itu kini hanya menambah ilmu siasatnya agar tak terendus oleh penyadapan KPK, begitu. Artinya, boleh jadi kini lebih parah praktik korupsi dibadingkan era Orde Baru.”

“Oh, begitukah, Her?”

“Percayalah, kawan.”

“Tapi, omong-omong, kelihatannya Her kini berduit. Dari mana tuh?”

Her tertawa. Menepuk pundakku. “Kawan, kini kita harus realistis. Idealisme itu hanya di waktu muda. Kini kita sudah tua, keluarga butuh duit banyak, karena itu carilah, bermitralah, yang penting hindari sadapan KPK..hahaha…”

Her pamit. Katanya ada pertemuan di hotel berbintang. Aku pun bersalaman. Dia meninggalkanku setelah dia memanggil cewek hitam manis itu untuk menyerahkan uang.

Dari jendela kedai kopi, aku melihat Her naik ke mobil mewah warna hitam. Aku pun geleng-geleng kepala. (#)

Ayo tulis komentar cerdas