Home Parigi Moutong

Pemda Parimo Berharap Solusi dari Pemprov

20
ALAT BERAT - Pencarian korban tertimbun longsor di areal tambang emas Desa Buranga menggunakan alat berat eksavator. (Foto: Metrosulawesi/ Zulfikar)
  • Tiga PETI di Parimo Masih Operasi

Parigi, Metrosulawesi.id – Di Parigi Moutong, Sulteng, terdapat empat lokasi Pertambangan Tanpa Izin (PETI). Tiga di antaranya hingga saat ini masih beroperasi dengan menggunakan alat-alat berat.

Wakil Bupati Parigi Moutong Badrun Nggai mengemukakan di Parigi, Jumat 26 Februari 2021, keempat lokasi tambang tersebut berada di Kayu Boko, Tinombo Selatan, dan Lambunu. Sedangkan yang di Desa Buranga untuk sementara ditutup.

Menurutnya, sejumlah lokasi tambang ilegal tersebut sudah pernah diminta oleh pemerintah untuk menghentikan kegiatannya namun hingga saat ini masih beroperasi.

“Yah sudah itulah, yang lalu sudah pernah, macam Kayu Boko, kita sudah pernah surati untuk ditutup,” ungkapnya.

Sementara untuk PETI di Buranga, Badrun mengatakan pihaknya menunggu solusi dari Pemerintah Provinsi dan Pusat. Solusinya ditunggu adalah, apakah masih diperbolehkan kembali atau tidaknya penambangan emas di Buranga.

“Untuk itu, saya katakan bukan ditutup, tetapi dihentikan sementara. Sebab, menunggu dan mencari solusi terbaik bagi masyarakat kita agar tidak terjadi lagi korban berikutnya,” tutup Badrun.

Badrun mengungkapkan, kegiatan pertambangan ilegal di Desa Buranga Kecamatan Ampibabo yang telah menelan korban jiwa untuk sementara dihentikan.

“Sambil menunggu solusi dari pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dan pemerintah pusat untuk sementara penambangan di Buranga kita hentikan.”

Berbeda dengan, Ketua DPRD Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sayutin Budianto. Pimpinan wakil rakyat itu malah kembali menegaskan, pihaknya tetap meminta Pemda agar menutup aktivitas PETI tersebut. Sejak Desember 2019 lalu katanya, pihaknya sudah mengeluarkan dua rekomendasi meminta pemerintah daerah beserta aparat penegak hukum untuk menutup seluruh pertambangan Ilegal yang ada di Parimo.

Insiden yang terjadi di tambang Buranga itu menurutnya, hendaknya membuka mata semua pihak bahwa resiko tambang Ilegal itu akan seperti ini jadinya yakni memakan korban.

“Maka saya sebagai ketua DPRD Parimo bersikap tegas meminta untuk seluruh tambang ilegal, bukan hanya yang ada di desa Buranga itu, untuk ditutup secara resmi,” katanya.

Suyutin juga minta agar kasus longsor di Buranga yang menelan korban jiwa dibawa ke proses hukum.

“Saya minta untuk diusut siapa di balik dari pertambangan ilegal ini. Kemudian siapa pemodal tambang itu, dan harus bertanggung jawab atas akibat adanya korban yang terjadi di tambang ilegal Buranga,” pungkasnya. (zul/ant)

Ayo tulis komentar cerdas