Home Parigi Moutong

Tambang Maut Buranga, Salah Siapa?

13
MENCARI KORBAN - Tim SAR dan aparat Polri/TNI sedang berusaha mencari dan mengevakuasi korban yang masih tertimbun longsor di lokasi penambangan emas tampa izin di Desa Desa Buranga, Kecamatan Ampibabo, Parigi Moutong (Parimo), Kamis 25 Februari 2021. (Foto: Dok. Basarnas Palu)
  • Polda Akan Lakukan Penyelidikan setelah Evakuasi Selesai

Palu, Metrosulawesi.id – Pertambangan emas tanpa izin (PETI) di Desa Buranga, Kecamatan Ampibabo, Parigi Moutong (Parimo) akhirnya makan korban. Puluhan penambang tertimbun longsor saat sedang mendulang emas di lubang besar berdiameter sekitar 30 meter itu, Rabu malam, 24 Februari 2021.

Akademisi Universitas Tadulako (Untad), Prof Dr Ir Saiful Darman MP C.E.I.A, selaku pengamat lingkungan menyarankan tambang emas ilegal yang menelan korban jiwa di Desa Buranga ditutup sementara.

“Menurut saya harus ditutup sementara, dibenahi dan ditertibkan aturan-aturanya serta masyarakat diimbau sekaligus diberi pengertian karena ini sudah terjadi bencana. Tujuannya supaya sadar jangan merusak lingkungan,” ucap Prof Saiful, kepada Metrosulawesi, Kamis, 25 Februari 2021.

Dia menilai jika memang benar tambang emas di Buranga ilegal, menguat indikasi pembiaran oleh pemerintah dan aparat penegak hukum. Masyarakat disebut pasti akan menambang secara bebas karena tidak ada tindakan dari aparat atau pemerintah daerah terkait.

“Ini yang jadi pertanyaan kenapa dibiarkan itu penambangan kalau tidak ada izinnya?. Tanpa perizinan berarti pembiaran namanya karena merusak lingkungan. Kalau masyarakat disalahkan susah juga karena apa saja akan ditabrak untuk mencari kehidupan,” ujar Prof Saiful.

Namun demikian, masyarakat juga dikatakan seyogianya harus menyadari kekeliruan melakukan penambangan tanpa memiliki dokumen perizinan. Sebab syarat mutlak yang harus dimiliki dalam usaha pertambangan, termasuk tambang rakyat, wajib terlebih dahulu mengurus izin.

Untuk izin tambang rakyat wajib memiliki mineral skunder dan harus ada persetujuan atau perizinan dari DPR. Guru besar bidang ilmu tanah itu menyebutkan dengan memiliki izin disebut akan meminimalisir kerusakan fisik lingkungan, biologi, sosial budaya sampai kesehatan masyarakat.

“Tentu kalau ada dokumen akan dilihat itu wilayahnya bagaimana dan apa yang harus dilakukan supaya tidak mencelakakan masyarakat, termasuk K3 (keselamatan dan kesehatan kerja),” ungkap dosen Fakultas Pertanian Untad itu.

Prof Saiful juga menyarankan jika kedepan tambang emas di Buranga akan menjadi legal sebagai tambang rakyat harus dilakukan perizinan secara kelompok. Jika secara pribadi akan membutuhkan biaya besar.

“Kalau secara pribadi susah, biayanya mungkin tidak akan terjangkau, makanya harus kelompok. Jadi masyarakat menyatu menjadi satu kelompok, itulah yang mengurus dokumen,” tandasnya.

Terpisah, Kapolda Sulawesi Tengah, Irjen Pol Abdul Rahman Baso mengatakan, pihaknya akan melakukan penyelidikan setelah evakuasi korban yang tertimbun longsor selesai dilakukan.

“Penegakan hukum dengan memanggil saksi-saksi yang berada pada saat terjadi longsor, dan akan menutup aktivitas masyarakat di sekitar tambang,” kata Kapolda di sela kegiatan kunjungan ke salah satu Kampung Tangguh di Kota Palu, Kamis 25 Februari 2021.

Kapolda mengatakan, saat ini sejumlah personel dari Polres, Kodim, Basarnas dan BNPB tengah melakukan evakuasi korban yang diduga masih ada yang tertimbun.

“Yang sudah terdata ada tiga yang meninggal dunia dan tiga luka-luka, sementara yang masih dilakukan pencarian masih menunggu data ril di lokasi,” katanya.

Anggota Basarnas dan Polri mengevakuasi salah satu jenazah dari lokasi longsor. (Foto: Dok. Basarnas Palu)

Sebenarnya katanya, masalah tambang yang ada di lokasi itu sudah sempat ditertibkan oleh Kepolisian. Hanya saja masyarakat di wilayah itu kembali lagi melakukan aktivitas.

“Warga yang melakukan penambangan beralasan bahwa lokasi tersebut adalah lahannya sendiri. Dan bila dilakukan penertiban oleh Polri dan TNI serta instansi terkait, mereka melakukan aksi unjuk rasa dengan alasan mereka tidak mempunyai lahan perkejaan, untuk mencari penghidupan ekonomi,” jelasnya.

Namun kali ini kata Kapolda, pihaknya bertindak tegas dan melakukan penegakan hukum terhadap kasus longsor yang menelan korban jiwa itu.

“Kami akan melakukan penyelidikan terkait dengan kejadian tersebut, dan apabila ada ditemukan anggota polisi yang bermain, akan ditindak tegas,” katanya.

Informasi yang diperoleh Metrosulawesi, longsor yang menimbun puluhan penambang itu terjadi sekitar pukul 18.30 Wita. Mereka yang jadi korban, sedang mendulang di dalam kubangan berdiameter sekitar 30 meter.

Anto (28)) yang juga ikut menambang mengatakan, lokasi tambang yang longsor itu adalah milik Baba selaku penyandang dana.

Lokasi tempat mendulang emas itu, adalah lubang besar yang sebelumnya digali menggunakan ekskavator. Longsor itu terjadi diuga karena warga membuat lubang di diding tanah kubangan itu.

“Para pendulang emas itu sudah pernah dilarang agar tidak membuat lubang di diding lubang tanah yang sudah dikeruk alat berat, akan tetapi warga tidak mengindahkan,” kata salah seorang warga.

Kubangan besar itu memiliki kedalaman sekitar 20 meter dengan diameter sekitar 30 meter.

“Di dalam lubang besar itu, para penambang lokal mendulang sisa material dari talang jumbo. Nah, saat mendulang itulah tiba-tiba terjadi longsor dan menimpa sekitar 30 orang penambang,” kata warga itu.

David (43) warga dusun 2 Desa Tombi yang juga mendulang di lokasi itu mengatakan, sebelum terjadi longsor di lokasi milik Baba itu, pada pagi harinya sekitar pukul 08.00 Wita, ada sebanyak empat ekskavator sedang beraktivitas merelei material, yaitu satu ekskavator menggali, sedangkan tiga lainnya berada di atas memindahkan material ke talang jumbo untuk diolah.

Pada sekitar pukul 09.00 Wita kata David, sekitar 100-an warga datang dan turun ke lubang galian besar itu untuk mendulang.

“Hingga petang hari, warga terus berdatangan, karena hasil emas di lubang itu cukup banyak, sehingga warga saling berhimpitan untuk mendapatkan material,” kata warga itu.

Sebenarnya pada pukul 17.30 Wita sebelum longsor besar itu terjadi, longsor kecil-kecil sudah terjadi karena terbawa air dari talang besar yang mengalir menuju lubang besar. Bahkan beberapa di antara penambang sudah mengingatkan, agar mereka segera naik ke atas. Namun, hanya sebagian penambang yang naik, sedangkan sebagian lagi masih tetap bertahan mendulang pada sisi tumpukan dan sudut dinding galian tanah.

Hingga akhirnya pukul 18.30 Wita, longsor besar yang dikhawatirkan itu benar-benar terjadi. Longsor itu menimbun puluhan penambang yang ada di bawah dasar lubang besar tersebut.

Reporter: Michael Simanjuntak, Djunaedi
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas