Home Artikel / Opini

Menjadi Kapten

7

JANTUNGKU terasa berdetak kencang. Embusan nafasku terengah. Ada cemas dan gembira. Berkecamuk. Seakan tak percaya kalau teman-temanku memercayai aku menjadi kapten kapal, kapal besar, besar sekali. Sebentar lagi kapal itu mengarungi laut lepas.

“Sanggupkah aku. Bukankah kelasku hanya nakhoda sampan. Tapi kapan lagi kalau bukan sekarang. Belum tentu datang kesempatan kedua. Ah, aku terima saja, meski rasa ketidaksanggupan itu menderaku. Aku mencoba menguburnya dengan sebuah keyakinan euforia.” Semangatku pun naik ke ubun-ubun. Kukepalkan tanganku ke atas, tinggi-tinggi. Tentu saja itu sebagai penyemangat bagi diriku yang memiliki ilmu kapten kapal pas-pasan. Sungguh pas-pasan. Tak lebih. Mungkin kurang.

Kupakai pakaian kebesaranku sebagai kapten. Aku melangkah menuju kapal. Seperti langkah seorang kapten yang berwibawa. Langkahku terasa kaku, mungkin pikiranku dipenuhi kecemasan lantaran tak lama lagi aku menghadapi laut lepas, boleh jadi berombak besar.

Kini aku sudah masuk di ruangan kapten. Tak kusangka, ruangan ini menawarkan berbagai kenyamanan. Serba lengkap. Teman-temanku, mereka yang dulu menyemangatiku menjadi kapten, silih berganti masuk ke ruanganku, dengan bebasnya. Para pengawal kapten tak kuasa mencegah mereka.

Pada awalnya kapal melaju biasa saja. Alun, riak, dan ombak, menawarkan keindahan perjalanan kapal. Teman-temanku yang bebas menemuiku itu terlihat tersenyum memandangku sedang menjalankan kapal besari. Aku pun gembira dan optimis. Para penumpang yang jumlahnya tak terhitung itu tampaknya tenang seperti tenangnya laut biru. Aku senang dan gembira melihat mereka. Ternyata menjadi kapten itu tak sulit. Dalam kesendirian di ruanganku aku menghela nafas panjang dan mengangkat kedua tanganku tinggi-tinggi lalu membisikkan kata ke laut: kini aku kapten, kapten kapal besar, kapten yang sanggup menaklukan samudera luas.

Seiring waktu kapal itu tiba-tiba oleng. Langit makin mendung. Ombak terus memainkan kapal. Para penumpang panik. Aku tiba-tiba membayangkan kisah kapal TITANIC, kapal besar yang tenggelam itu.

“Ah, tidak. Kapal ini tidak akan tenggelam,” gumamku, entah berdasar apa.

Aku segera memerintahkan tema-temanku untuk menenangkan dan memberikan rasa optimisme kepada para penumpang bahwa olengnya kapal hanya disebabkan badai kecil. Tak lama lagi semua akan teratasi.

“Bila ada penumpang yang tak patuh, jangan segan mengamankan. Tangkap. Kalau perlu borgol kedua tangannya. Kapal besar ini dilengkapi dengan penjara,” perintahku kepada tema-teman.

Berbagai kebijakan telah kekeluarkan sebagai kapten, namun kepal tetap oleng. Aku keluar dari ruanganku. Memandang laut lepas yang mengganas. Dalam hati aku pun cemas. Apalagi aku mendapat laporan dari pengawalku, kini banyak penumpang sakit. Tapi sebagai kapten tak boleh memerlihatkan rasa kecemasan.

Aku panggil teman-teman. Menggelar rapat terbatas di ruangan khusus yang tertutup. Mencari solusi terbaik. Hasilnya, tak mampu membuat kapal tenang. Bahkan kapal tak bergerak lagi. Ombak terus menghantamkan badainya. “Aku tak mungkin menyerah sebagai kapten. Kapal harus bergerak. Kalau perlu pura-pura optimis, tak masalah!”

Dalam suasana mencekam aku tiba-tiba ingat tuduhan seorang pengamat senior perkapalan.

Dia mengatakan, aku ini bukanlah kapten kapal yang tangguh. Tidak memahami luas samudera wilayah yang akan dijelajahi kapal. Katanya, aku dipilih menjadi kapten karena kebetulan.

“Terserah, kataku dalam hati, toh kini aku sudah kapten. Jabatan tertinggi, tak ada duanya, dalam menakhodai kapal ini,” jawabku, saat itu. (#)

Ayo tulis komentar cerdas