Home Donggala

Pengusaha Mengaku Punya Izin Timbun Laut

12
PUNYA SERTIFIKAT - Tuo memperlihatkan sertifikat kepada wartawan saat ditemui di rumahnya, Kamis (18/2/2021). (Foto: Metrosulawesi/ Tamsyir Ramli)
  • Bantah Rusak Mangrove dan Bikin Dermaga

Donggala, Metrosulawesi.id – Tuo, sapaan akrab pengusaha keturunan Tionghoa akhirnya angkat bicara terkait polemik penimbunan laut dan dugaan pengrusakan mangrove yang terjadi di Kelurahan Tanjung Batu Kecamatan Banawa, Donggala.

Saat ditemui di rumahnya di Kelurahan Tanjung Batu, Kamis 18 Februari 2021, pemilik pabrik es batu balok ini menjelaskan ia tidak pernah merusak mangrove seperti yang diberitakan.

Dia mengatakan menimbun laut itu bukan membuat dermaga pribadi untuk pendaratan ikan tapi penimbunan dilakukan untuk mempermudah akses jalan ke rumah miliknya yang akan dikontrakkan.

“Saya punya tiga sertifikat dalam satu lokasi, termasuk yang diberitakan sekarang. Ini laut ada sertifikatnya, saya timbun laut karena mempermudah akses jalan menuju rumah saya yang mau dikontrakkan, bukan membangun dermaga,”sebutnya.

“Saya dituduh ba rusak mangrove, kalian kan orang pintar semua, tentu ada bekasnya kalau mangrove ditebang. Mangrove itu sudah rapuh dan patah, kalau ditebang ada bekas parang, kalau disensor ada juga bekasnya, LSM sengaja bikin kacau saja,”jelasnya.

Pengusaha barang bekas ini menambahkan aktivitas penimbunan yang dilakukannya sudah sepengetahuan pemerintah kelurahan sampai ke tingkat provinsi.

“Saya sudah izin RT, kelurahan, camat, kadis kehutanan provinsi, dinas lingkungan hidup, mereka mengatakan tidak ada masalah, sertifikat saya sudah diperiksa,” tutur pemilik gedung Oasis ini.

Diberitakan sebelumnya Forum Komunikasi Masyarakat Pesisir Donggala (FKMPD) akan melaporkan ke penegak hukum dugaan pengrusakan ekosistem mangrove di RT 4, Kelurahan Tanjung Batu, Kecamatan Banawa yang dilakukan oknum pengusaha.

Dugaan pengrusakan mangrove ini dilakukan dengan kegiatan penimbunan laut atau reklamasi pantai yang dilakukan oleh salah satu oknum pengusaha yang juga adalah warga Kelurahan Tanjung Batu.

Penimbunan atau reklamasi pantai itu diduga digunakan untuk pembuatan dermaga pembongkaran ikan pribadi.

“Kami dalam waktu dekat akan melakukan pelaporan ke Polres, terhadap kegiatan reklamasi pantai yang dapat merusak ekosistem pesisir utamanya habitat ekosistem mangrove di Kelurahan Tanjung Batu,” kata Ketua FKMPD Yuryanto.

Camat Banawa Rustam mengatakan pihaknya telah memerintahkan kasi trantib untuk memanggil oknum pengusaha itu, dan kemudian kemudian membuat janji bertemu di TKP.

“Kami sudah bertemu dengan oknum pengusaha, sebagai aparat pemerintah kecamatan saya memerintahkan memberhentikan aktivitas penimbunan di seputaran pantai,” sebut Rustam.

“Pengakuan oknum pengusaha cuma mau buat jembatan kayu. Cuma kelirunya kenapa mangrove dirusak, kenapa lokasi pantai ditimbun, dia kasi lihat sertifikatnya , setahu saya yang namanya laut tidak boleh, kalau memang bersertifikat kenapa bisa sertifikat terbit di laut,” tuturnya.

Reporter: Tamsyir Ramli
Editor: Syamsu Rizal

Ayo tulis komentar cerdas