Home Ekonomi

Motif Corona dan Tai Ganja Paling Diminati

7
MOTIF CORONA - Afrianto, pemilik Usaha Batik Waliri Desa Beka, Kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi memperlihatkan motif Corona pada kain batik produksinya. (Foto: Metrosulawesi/ Pataruddin)
  • Jalan-Jalan ke Tempat Usaha Batik Waliri Milik Afrianto di Sigi

Afrianto, pemilik usaha Batik Waliri di Desa Beka, Kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi ini perlu menjadi contoh. Semangatnya tidak terpengaruh dengan lesunya ekonomi saat ini. Seperti apa dia mengelola usahanya itu? Berikut laporannya.

PANDEMI corona virus disease 2019 (covid-19) merusak sendi-sendi ekonomi masyarakat secara global. Namun, di balik itu, ada seorang pengrajin batik cetak di Jalan Palu-Bangga, Desa Beka, Kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi justru mengangkat virus corona sebagai salah satu tema motif. Dan, tak disangka di tengah sepinya penjualan, motif corona justru diminati banyak pembeli.

Afrianto, memulai usaha awal tahun 2020 lalu setelah ‘berguru’ di pusat batik bomba di Kelurahan Lekatu, Kota Palu. Pengalaman dari situlah dia kembangkan sendiri dengan mengangkat tema-tema lokal khas Kabupaten Sigi.

Usaha batiknya semakin dikenal masyarakat. Pesanan masuk mulai dari perorangan, pesta, instansi pemerintah di Kabupaten Sigi maupun tamu-tamu dari kementerian. Untuk motif yang paling laris dan banyak diminati adalah motif Tai Ganja, khas Kabupaten Sigi. Tai ganja memiliki filosofi tentang kesuburan.

“Dalam sebulan bisa menghasilkan 20 sampai 30 lembar. Produksi tergantung dari tingkat kerumitan pewarnaan. Motif Tai Ganja lebih cepat diproduksi,” kata Afrianto.

Sepekan, kata Afrianto paling banyak bisa menghasilkan lima lembar kain yang sudah dibatik. Mulai dari persiapan, mencetak, pewarnaan, pengeringan hingga perebusan.

Pembuatan batik akan semakin menyita waktu bila banyak variasi warna yang digunakan. Harus menunggu berhari-hari untuk memastikan setiap warna sudah kering dengan baik dan tidak luntur ketika direbus.

“Untuk pemasaran dilakukan lewat media sosial seperti facebook, instagram serta penawaran langsung ke dinas-dinas. Pesanan dari dinas biasanya untuk seragam kantor dan motif tai ganja yang banyak dipesan. Tapi karena produksi masih minim sehingga penjualan belum bisa hingga keluar daerah,” kata Afrianto yang juga tenaga kontrak Polisi Pamong Praja Kabupaten Sigi itu.

Bahkan, pada HUT Sigi, Afrianto mendapatkan pesanan 200 lembar untuk seragam. Selain itu pesanan juga biasa datang perorangan, pesta kawin dan majelis taklim hingga seragam komunitas. Untuk dinas, pesanan warna dibedakan sesuai eselon penggunanya.

Afrianto menyedikan lebih 20 jenis motif baik umum maupun lokal. Di masa pandemi, dia melakukan inovasi dengan membuat motif corona yang dipadukan dengan motif tai ganja. Rupanya motif corona cukup menarik perhatian. Per lembar dijual mulai Rp200 ribu sampai Rp250 ribu.

Usaha batik Waliri ini mempekerjakan 13 orang. Mereka tidak bekerja sekaligus. Termasuk ibu-ibu dilibatkan untuk pelipatan, anak muda ikut untuk pewarnaan.

“Kendala saat ini karena covid. Semua bahan baku harganya naik. Apalagi bahan baku didatangkan dari Pekalongan, Pulau Jawa,” kata Afrianto.

Sedangkan permodalan, masih mengandalkan modal sendiri. Selain itu ada bantuan dari Dinas Perindag dan Dekranasda Sigi berupa mal motif dan pemasaran.

Untuk mal atau cetakan motif terbuat dari tembaga dan cukup mahal. Minimal Rp500 ribu hingga Rp1 juta dan semua dipesan dari luar. Belum lagi saingan dari batik printing yang bisa memproduksi dalam jumlah besar dalam sehari.

Ke depan, Afrianto berharap pemerintah Kabupaten Sigi semakin memberikan perhatian yang besar untuk usaha-usaha kecil sehingga bisa mandiri dan mensejahterakan.

Reporter: Pataruddin

Ayo tulis komentar cerdas