Home Artikel / Opini

Tokoh dalam Pagar

23

PADA suatu zaman kisah ini pernah terjadi. Tentu saja dulu, dulu sekali. Seorang lelaki cerdas, rendah hati, tampan, disukai oleh rakyat banyak, dijegal oleh segelintir orang yang berkuasa agar gagal menjadi kepala desa. Lelaki yang wajahnya selalu menyunggingkan senyum itu sering dipanggil dengan nama Bedan. Itulah nama keseharian tokoh itu. Lengkapnya di kartu tanda penduduknya, tertulis: Mohamad Bedan.

Tidak jelas alasannya mengapa segelintir orang itu tidak menghendaki Bedan menjadi kepala desa. Rakyat juga heran dengan tingkah atau tepatnya siasat segelintir orang itu yang terus menciptakan aturan agar Bedan tidak dapat mencalonkan diri dalam pemilihan kepala desa yang akan digelar tahun depan.

Bukan hanya menciptakan sistem pagar atau lebih tepatnya penjegalan yang dibuat oleh segelintir orang itu, tetapi mereka juga melakukan pembusukan nama Bedan di tengah rakyat banyak. Misalnya, sejak Bedan menjadi salah seorang kepala dusun di desa itu dinilai gagal menjalankan amanah yang diberikan ke pundaknya. Dengan cara itu ternyata mereka kecewa, bahkan sakit hati, lantaran tak dapat membuktikan kegagalan Bedan. Justru terbalik. Rakyat di desa itu khususnya yang tinggal di dusun wilayah kekuasaan Bedan sebagai kepala dusun, sebagian besar mengelu-elukan keberhasilannya. Karena jiwa kepemimpinannya yang telah dibuktikannya di dusunnya, sejumlah lembaga terpercaya–diam-diam meneliti kebijakan-kebijakan Bedan yang dirasakan langsung manfaatnya oleh rakyatnya–memberinya penghargaan sebagai pemimpin yang memahami kehendak rakyat. Penghargaan tersebut bukan hanya sekali, tetapi beberapa kali Bedan menerimanya.

Segelintir orang itu–tentu saja–tidak senang dengan pemberian penghargaan yang diterima Bedan. Mereka pun menyebarkan isu ke seluruh pelosok desa bahwa penghargaan yang diberikan kepada Bedan adalah penghargaan salah alamat.

Penghargaan tersebut seharusnya bukan untuk Bedan. Siasat mereka sia-sia. Soalnya, selain lembaga independen kredibel itu benar ada dan nyata, juga rakyat telah merasakan kebijakan-kebijakan Bedan yang sungguh bermanfaat, sehingga rakyat pun merasa setuju adanya penghargaan itu.

Menariknya, Bedan menghadapi semua siasat segelintir orang itu dengan perlawanan yang sejuk. Tak ada kemarahan dan dendam. Bedan terus saja bekerja membangun dusunnya dan meladeni rakyatnya dengan wajah yang selalu berkhiaskan senyuman.

“Kalau memang Tuhan dan rakyat menghendaki aku menjadi kepala desa, tentu tak ada kekuatan yang mampu menghalanginya. Begitu pula sebaliknya, bila Tuhan dan rakyat tidak menghendaki aku menjadi kepala desa, tentu mimpi itu tak menjadi kenyataan. Jadi aku hadapi biasa-biasa saja. Tak ada masalah.” Bedan sering menyampaikan hal itu bila dia menghadiri acara-acara di dusunnya, termasuk saat dia memimpin rapat bersama sejumlah staf dusunnya.


Suatu hari di akhir pekan, di teras rumahnya, Bedan duduk sendirian. Menatap bunga-bunga bermekaran di pot-pot yang berjajar di depannya. Beranjak dari tempat duduknya. Mengambil air lalu menyiram bunga-bunga itu sembari merenungi tingkah laku manusia-manusia yang terus membangun pagar untuknya. Sesungguhnya mereka, renung Bedan, adalah manusia-manusia yang belum mampu melawan “harimau” dalam dirinya, seperti kisah dalam novel “Harimau! Harimau!” karya sastrawan Mochtar Lubis. (#)

Ayo tulis komentar cerdas