Home Banggai Laut

Suap Bupati Balut Disidang 18 Februari

16
TERSANDUNG SUAP - Bupati Banggai Laut nonaktif Wenny Bukamo dan rekannya pada saat akan menjalani proses pemeriksaan di KPK. Sebagia berkasnya sudah dilimpahkan, sedangkan sebagian lagi masih dalam proses penyidikan di KPK. (Foto: Ist/ Dok)
  • Berkas Tiga Tersangka Telah Dilimpahkan ke PN Palu

Palu, Metrosulawesi.id – Tiga dari enam tersangka dugaan kasus suap Bupati Banggai Laut (Balut) non-aktif, Wenny Bukamo akan disidangkan pada Kamis 18 Februari 2021 mendatang. Berkas perkara Wenny sendiri dan dua lainnya masih dalam proses penyidikan.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI, pada Rabu 10 Februari 2021, telah melimpahkan berkas ketiga tersangka tersebut ke Pengadilan Negeri (PN) Kelas IA/PHI/Tipikor Palu, untuk disidangkan. Ketiga tersangka itu diduga berperan sebagai pemberi suap. Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK, Andi Kurniawan, yang ditemui Metrosulawesi di PN Kelas IA/PHI/Tipikor Palu, membenarkan kalau kehadirannya untuk melimpahkan berkas perkara dugaan suap tersebut untuk segera disidangkan.

“Yang kita limpah itu baru tiga terdakwa. Hedy Thiono, Andreas Honkiriwang, dan terdakwa Djufri Katili,” ungkap Andi Kurniawan yang saat ditemui bersama rekannya dari KPK Handri.

Lanjut Penuntut Umum KPK itu mengatakan, ketiga terdakwa itu dalam perkara kasus dugaan suap ini adalah pihak yang memberikan suap.

“Ketiganya ini adalah pemberi suap. Untuk yang diberi suap saat ini prosesnya masih dalam tahap penyidikan,” ujarnya sembari mengatakan kalau tiga berkas terdakwa kasus suap itu prosesnya di PN Kelas IA/PHI/Tipikor Palu sudah teregistrasi.

Sementara itu, Humas PN Kelas IA/PHI/Tipikor Palu, Zaufi Amri SH, menerangkan kalau JPU KPK telah melimpahkan berkas tiga terdakwa perkara dugaan suap yang di dalamnya juga melibatkan mantan Bupati Balut Wenny Bukamo.

“Barusan tadi dilimpah oleh JPU KPK. Ada tiga berkas perkara. Terdakwa atas nama Hedy Thiono, perkaranya teregister dengan No.14/Pid.Sus-TPK/2021/PN.Pal, selajutnya berkas terdakwa Andreas Honkiriwang dan Djufri Katili, teregister dengan No. 15 dan 16/Pid.Sus-TPK/2021/PN.Pal,” urainya, ditemui Rabu, 10 Februari 2021.

Selain itu, kata Zaudi, pengadilan juga telah menetapkan majelis hakim yang akan memeriksa dan mengadili perkara itu, serta penetapan jadwal sidang perdananya. Katanya, untuk ketua majelis hakim ketiga terdakwa itu sama yakni ketua majelis hakim Marliyus MS SH MH, dua hakim anggota Darmansyah SH MH, dan Bonifasius SH.

“Untuk sidang perdana proses sidang perkara dugaan suap ini, dijadwalkan, Kamis, 18 Februari 2021, pekan mendatang,” tandasnya.

Sementara itu lanjut Zaufi, sebagaimana berkas perkara, untuk tiga terdakwa tersebut, didakwa dengan dakwaan kesatu Pasal 5 ayat 1 Huruf b, Undang-undang (UU) No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, jo Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP.

“Atau dakwaan kedua Pasal 13 didakwa dengan dakwaan kesatu Pasal 5 ayat 1 Huruf b, Undang-undang (UU) No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, jo Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP,” tutup Zaufi Amri.

Data Metrosulawesi, tiga terdakwa yang dilimpahkan ini adalah selaku pemberi suap terkait paket pekerjaan tahun 2020 senilai Rp2 miliar lebih kepada mantan Bupati Balut Wenny Bukamo. Ketiga terdakwa itu Komisaris PT Bangun Bangkep Persada Hedy Thiono, Direktur PT Antarnusa Karyatama Mandiri Djufri Katili, dan Direktur PT Andronika Putra Delta Andreas Hongkiriwang.

Kasus dugaan suap yang menjerat ketiga terdakwa dan melibatkan tersangka mantan Bupati Balut Wenny Bukamo, serta dua tersangka lagi terjadi Kamis, 3 Desember 2020.

Operasi tangkap tangan (OTT) yang menjerat Wenny ini bermula dari informasi yang diterima KPK terkait adanya dugaan penerimaan sejumlah uang oleh Andreas Hongkiriwang (AHO) selaku Direktur PT APD (Andronika Putra Delta). Uang itu diduga ditransfer melalui rekening salah satu perusahaan milik Hedy Thiono selaku Komisaris PT BBP (Bangun Bangkep Persada) sebanyak Rp 200 juta yang diduga sisa pemberian uang dari kesepakatan sebelumnya.

Tim KPK kemudian menindaklanjuti informasi tersebut dengan mengamankan 16 orang pada Kamis, 3 Desember 2020. Tujuh orang diamankan di Banggai Laut, delapan orang diamankan di Luwuk dan satu orang diamankan di Jakarta.Selanjutnya pihak-pihak tersebut di bawa ke Polres Banggai Kepulauan dan Polres Luwuk untuk pemeriksaan lanjutan.

Dari OTT ini, tim KPK menemukan barang bukti berupa uang sejumlah Rp 2 miliar yang dikemas dalam kardus. Selain itu, ditemukan buku tabungan bonggol cek dan beberapa dokumen proyek. Selanjutnya akhirnya KPK menetapkan enam orang tersangka dalam kasus ini. Tiga diantaranya itulah yang prosesnya tinggal menunggu jadwal persidangan.

Reporter: Sudirman
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas