Home Artikel / Opini

Kudeta di Kedai Kopi

13

PULANG kerja, sore gerimis, aku singgah di sebuah kedai kopi di kotaku. Tidak seperti biasanya ramai, kali ini agak sepi. Hanya sekira sepuluh orang yang datang menikmati kopi panas. Di kedai langgananku ini aku selalu memilih meja dekat jendela. Aku suka angin sepoi yang terus menyapa tubuhku lewat jendela berdaun jadul itu.

Di depan mejaku, tepatnya di dekat kasir, dua lelaki muda masing-masing memakai baju kaos oblong warna merah dan hitam sedang berdiskusi serius. Kadang berdebat. Kuperhatikan mejanya, tampak dua kopi susu dan sepiring pisang goreng natural. Boleh jadi kedua orang ini baru saja datang. Itu bisa dilihat dua gelas minuman kopi dan sepiring pisang goreng belum tersentuh.

Bagiku, minuman dan pisang goreng itu tidak penting aku ceritakan. Dialog keduanya itulah mungkin menarik kusampaikan. Seperti gaya seorang intelijen aku pura-pura serius membaca surat kabar, sambil menajamkan pendengaranku akan isi dialog keduanya. Keduanya mungkin tidak tahu kalau aku fokus mendengar apa yang diperbincangkannya itu. Mungkin.

“Apakah kau tahu kini situasi makin mencekam?” tanya lelaki berbaju kaos oblong warna hitam.

“Tidak tahu. Atau maksudnya situasi mencekam itu karena korban virus corona sudah mencapai satu juta lebih,” jawab lelaki berbaju kaos oblong warna merah.

“Pandemi memang mencekam lantaran korbannya terus bertambah meski vaksin sudah mulai diterapkan. Tapi yang aku maksud situasi mencekam itu bukan karena penyebaran wabah.”

“Lalu apa?”

“Ada yang merencanakan kudeta.”

“Ah, jangan main-main. Negara lagi susah, tega-teganya orang yang merencanakan kudeta itu.”

“Rencana kudeta ini bukan main-main. Skenarionya sudah matang. Mungkin beberapa hari lagi eksekusi kudeta itu sudah bergerak…”

“Apakah militer terlibat perencanaan kudeta itu, seperti yang terjadi di Myanmar yang menyebabkan Pimpinan de Fakto, Aung San Suu Kyi dan Presiden Win Myint ditangkap dan kini dalam pengamanan pihak militer?”

“Sesuai kabar yang beredar seorang jenderal terlibat, meski jenderal itu sudah bertatus purnawirawan.”

“Terus terang, aku tidak yakin kudeta itu berhasil lantaran pemerintahan Joko Widodo berjalan normal-normal saja. Pemerintah dan pihak militer juga kesannya bersekutu alias bekerjasama memikirkan nasib bangsa yang kini lagi susah ekonominya. Beda dengan Myanmar, selama ini memang telah tercipta ketidaksepahaman antara pemerintah dan militer dalam menentukan arah bangsanya.”

“Mengapa kau singgung pemerintahan Joko Widodo, mengaitkan lagi rencana kudeta ini dengan pihak militer. Pikiranmu terlalu jauh…”

“Bukankah kau yang memulai mengatakan bahwa ada yang merencanakan kudeta?”

“Betul itu, tapi bukan pemerintahan Joko Widodo yang mau dikudeta.”

“Jadi siapa yang mau dikudeta dan siapa yang merencakan kudeta?”

“Ketua Partai Demokrat, Agus Bambang Harimurti Yudhoyono atau AHY yang menyampaikan kepada wartawan bahwa ada pihak tertentu yang telah mematangkan rencana kudeta kepada dirinya.”

“Ah, kau ini bisa saja… Aku kira kudeta beneran, ternyata kudeta lucua-lucuan..hahaha…”

Kedua lelaki ini pun menyambar kopi dan pisang goreng di depannya yang sudah dingin sembari tertawa terbahak. (#)

Ayo tulis komentar cerdas