Home Ekonomi

Fery: Harapan Kami, PHRI dan Pemda Dapat Bersinergi

27
SIAPKAN VAKSIN - Seorang petugas medis sedang menyiapkan vaksin kepada calon penerima di RSUD Undata, beberapa waktu lalu. (Foto: Metrosulawesi/ Pataruddin)
  • Vaksinasi Corona dan Masa Depan Pariwisata Sulteng

Sudah hampir setahun ini, pandemi Covid-19 menghajar sendi-sendi ekonomi di sejumlah negara, termasuk Indonesia, terlebih Sulawesi Tengah. Sektor Pariwisata salah satunya, yang ikut babak belur dihajar Covid. Berikut laporannya.

DATA Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah menunjukkan tingkat penghunian hotel berbintang selama Desember sebesar 49,69 persen atau turun sebesar 3,80 persen poin dibanding bulan sebelummya. Jumlah tamu yang menginap tercatat sebanyak 12.684 orang terdiri atas 12.667 orang tamu domestik dan 17 orang tamu asing.

Sedangkan, jumlah yang beroperasi selama Desember 2020 hanya sekitar 11 hotel bintang.

Situasi di atas memang membuat sektor pariwisata dan sarana penunjangnya dilematis. Sejak corona dinyatakan sebagai pandemi, sektor pariwisata menjadi yang pertama terdampak. Akses keluar masuk dan transportasi dibatasi sampai pada penutupan bandara.

Hampir setahun bergulir, wabah corona belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Bahkan muncul lagi varian baru yang disebutkan sangat mematikan.

Menyikapi kondisi yang kian tak menentu itu, Ketua Badan Pengurus Daerah Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (BPD PHRI) Sulawesi Tengah Fery Taula angkat bicara. Mulai dari strategi hingga desakan ke BPP PHRI untuk program vaksinasi untuk sektor pariwisata ini.

Salah satu strategi PHRI adalah menggandeng perusahaan penerbangan (airlines) untuk membuat bundling package yaitu paket tiket pesawat plus kamar hotel.

“Bundling package sangat menguntungkan konsumen karena mendapat layanan yang integrated dengan harga yang lebih murah. Di sisi lain hotel dan airline dapat meningkatkan okupansi,” kata Fery.

Kata Fery, jika dipandang perlu post pandemic pun bundling package demikian bisa dilanjutkan untuk menopang kontinuitas pertumbuhan sektor pariwisata secara umum.

Strategi lain adalah hotel menawarkan harga diskon besar. Baik itu diskon dengan full service maupun diskon dengan minimum service. Diskon dengan full service, artinya layanan dan fasilitas kamar tetap seperti kondisi normal tapi harga dipotong. Diskon dengan minimum service, artinya selain potongan harga kamar juga hotel memberikan opsi kepada tamu, with or without breakfast.

Menurut Fery, employment masih antara 30 – 50% dari total kebutuhan tenaga kerja. Tetapi hotel belum bisa merekrut kembali karyawan-karyawan yant sebelumnya sedang dirumahkan. Tapi dibanding awal pandemi yaitu akhir Maret 2020, employment sdh meningkat 20 – 30% di semester II tahun 2020.

‘Harapan kami Pemprov Sulteng, Pemkot Palu dan pemkab se Sulteng bersama dengan PHRI dapat bersinergi dengan intensitas lebih tinggi. Sinergi ini akan menghasilkan program kerja pemerintah yang lebih berdampak positif bagi pembangunan Pariwisata Sulteng.

Selain dengan PHRI, sebenarnya sinergi dg Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) atau Indonesia Tourism Board sangat diperlukan karena GIPI beranggotakan semua asosiasi yang terkait industri pariwisata. Selain itu, DPD Masyarakat Sadar Wisata (MASATA) Sulteng sudah terbentuk. MASATA adalah himpunan para stakeholders yang bukan hanya dari pelaku industri pariwisata melainkan seluruh elemen masyarakat yang peduli dalam pembangunan pariwisata khususnya desa wisata. Ada politisi, akademisi, jurnalis, ASN, TNI/POLRI dll.

Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sulawesi Tengah, Nurhalis Lauselang jika pariwisata dipandang sebagai kompilasi industri pariwisata, maka dapat dikatakan pariwisata sangat terpuruk terutama yang bersentuhan langsung dengan destinasi dan atraksi yang ditutup dan yang selama ini lebih banyak bergantung pada wisatawan asing.

Dari data BPS, tingkat hunian hotel perlahan membaik setelah pembukaan lockdown Juli 2020.

“Kunjungan wisatawan asing dipastikan nol sejak penutupan WNA masuk. Sementara wisnus hanya ramai pada saat liburan,” kata Nurhalis.

Dengan ditutupnya gerbang kunjungan WNA, maka harapan hanya pada wisnus. Sayangnya sumber wisnus kita (kota kota besar di Jawa) justru mengalami tekanan pandemi sehingga menciutkan peluang terjadinya perjlananan wisata.

Soal strategi utama, kata Nurhalis, adalah meningkatkan kesadaran dan membangun budaya yang menangkal penyebaran covid yang dengan itu diharapkan dapat menciptakan confidence dan citra positif di kalangan konsumen calon wisatawan.

“Upaya sosialisasi penerapan dan sertifikasi CHSE ini masih memerlukan kerja keras dan kerjasama dari pihak di industri pariwisata. Masih banyak teman teman industri pariwisata yang tidak memahami makna new normal dan masih terus mempraktekan gaya dan standar pelayanan jaman sebelum pandemi. Tegasnya mereka harus berubah agar bisa normal di new normal,” katanya.

Saat ini baru 13 hotel tiga guest house dan dua restoran yang mendapat sertifikat atau pelabelan memenuhi standar CHSE. Seharusnya semua termasuk atraksi, galery, event, dll sudah menerapkan standar CHSE.

Proses sertifikasi gratis dan prosedur pengajuan secara online yang sangat mudah. Pemerintah sangat berhasrat agar hal ini bisa diwujudkan.

“Seiring dengan upaya penerapan standar CHSE, kami sedang merencanakan penyelenggaraan event yang diharapkan bisa menjadi percontohan sekaligus ajang promosi yang masih dalam koridor yang diizinkan satgas Covid-19. Untuk pemasaran, yaa seperti sudah kami kemukakan sebelumnya, digital marketing,” kata Nurhalis.

Lalu kenapa sektor pariwisata tidak menjadi prioritas program.vaksinasi? Menurut Nurhalis, bukan prioritas oleh pemerintah itu logis karena prioritas itu didasarkan pada urgensi kesinambungan pelayanan masyarakat.

“Meski demikian, Menteri Pariwisata sudah memerintahkan pendataan pekerja pariwisata untuk keperluan program vaksinasi, kita tunggu saja kelanjutannya,” kata Nurhalis.

Kata Nurhalis, vaksinasi tidak banyak berkaitan dengan penyebaran virus tetapi lebih banyak pada ketahanan tubuh jika terpapar. Sementara dampak pariwisata lebih disebabkan pada upaya memperkecil penyebaran virus.

“Secara logika, jika orang merasa percaya diri dengan ketahanan tubuhnya maka akan memperbesar kemungkinan mereka untuk melakukan perjalanan termasuk wisata,” ujarnya.

Jika vaksinasi diikuti dengan pelonggaran persyaratan perjalanan, pembukaan pintu masuk wisatawan dan meratanya penerapan CHSE di semua lini maka diperkirakan, pariwisata akan kembali normal.

Indikator yang dapat dijadikan tolok ukur adalah tingkat hunian sarana akomodasi yg semakin membaik meskipun saat ini penginap mungkin masih lebih banyak pelaku bisnis.

Sertifikasi CHSE (Cleanliness, Health, Safety & Environmental Sustainability) juga sedang berlangsung bagi Usaha Pariwisata, Destinasi Pariwisata & Produk Pariwisata. Sertifikat CHSE akan menjadi jaminan bagi para wisatawan.

Untuk vaksinasi Covid-19 saat ini BPP PHRI sudah meminta data yang akan diberikan suntikan pencegahan dari seluruh PHRI di Indonesia.

Merespons vaksinasi, General Manager Amazing Beach Resort Palu Ali Maheki mengaku siap divaksin. Vaksi tentunya diharapkan mengurangi rasa kekhawatiran tentang pandemi dan dampaknya terhadap perekonomian.

“Mau tidak mau, harus siap, Karena ini kebaikan bersama dengan maksud yang pastinya baik buat semua orang,” kata Ali Maheki ketika dihubungi.

Destinasi wisata yang dikelolanya itu punya karyawan 24 orang, Dan datanya sudah disampaikan ke PHRI untuk segera didata dan didaftarkan sebagai penerima vaksin.

“Kami berharap lebih prioritas ke perusahaan dulu, agar karyawan bisa lebih yakin dan percaya akan manfaat kebersamaan dan tanggung jawab perusahaan dalam memberikan yang terbaik buat karyawannya,” kata Ali Maheki.

Reporter: Pataruddin

Ayo tulis komentar cerdas