Home Hukum & Kriminal

RS Woodward, RS Madani dan Presiden Digugat Rp1,3 Miliar

60
PDP inisial H (59 tahun) jenis kelamin perempuan dimakamkan dengan protokol Covid-19 di di Pemakanam Umum Poboya, Kota Palu, Senin, 11 Mei, sekitar pukul 16.15 WITA. (Foto: Metrosulawesi/ Djunaedi)

Palu, Metrosulawesi.id – Salah seorang warga Kota Palu, Dr Sahlan SH SE MS, melalui kuasa hukum Hartawan Supu dan partners menggugat Kepala/Direktur RS Woodward Palu (tergugat I) dan Gubernur Sulteng cq Direktur RSUD Madani (tergugat II) sebesar Rp1,3 miliar. Nilai gugatan tersebut juga menyasar Presiden RI cq Menteri Kesehatan Republik Indonesia (tergugat III).

Hartawan mengatakan gugatan telah berproses di Pengadilan Negeri Palu dan akan sidang kedua pada 24 Februari mendatang. Gugatan dilayangkan atas perbuatan melawan hukum oleh tergugat dengan dugaan telah mencovidkan penggugat (Sahlan) dan almarhum istrinya, Grace Visca Sandagang.

“Kami selaku kuasa hukum penggugat telah memohon kepada Majelis Hakim Yang Mulia agar menghukum para tergugat membayar kerugian materil yang dialami penggugat sebesar Rp300 juta dan kerugian immateril sebesar Rp100 miliar,” ujar Hartawan dalam salinan materi gugatan yang diterima Metrosulawesi, Senin, 1 Februari 2021.

Hartawan menjelaskan dugaan dicovidkannya penggugat dan almarhum Grace Visca Sandagang berawal saat keduanya memeriksakan diri ke RS Woodward atau yang juga dikenal RS BK pada 27 September 2020. Saat itu, penggugat dan istri memeriksakan diri karena merasa pusing.

Pihak RS Woodward kemudian langsung memeriksa kedua pasien untuk mengecek apakah terpapar Covid-19 atau tidak. Menuggu hasil pemeriksaan sekitar satu jam, pihak RS Woodward kemudian menyimpulkan penggugat dan istri tidak ada gejala Covid-19.

Dengan hasil tersebut, kedua pasien selanjutnya dibawa ke ruang IGD (instalasi gawat darurat) RS Woodward untuk pemeriksaan lanjutan. Pemeriksaan dari IGD keluar hasil Sahlan menderita tipes dan almarhum Grace Visca Sandagang menderita diabetes. Selanjutnya keduanya menjalani perawatan dalam satu kamar di RS Woodward selama lima hari.

Setelah lima hari, penggugat (Sahlan) diperbolehkan pulang tepatnya pada 2 Okotober 2020. Sementara itu, istri penggugat belum diperbolehkan pulang karena masih dalam kondisi belum pulih.

“Karena istri penggugat belum diperbolehkan pulang, kemudian meminta suaminya (Sahlan) untuk tetap tinggal agar sama-sama pulang bila sudah diizinkan pihak tergugat I. Keesokan harinya, pada 3 Oktober 2020, istri penggugat sudah diperbolehkan pulang oleh tergugat I namun harus terlebih dahulu menjalani rapid test,” jelas Hartawan.

Dia melanjutkan dari hasil rapid test tersebut penggugat (Sahlan) dinyatakan reaktif sedangkan istrinya (Grace Visca Sandagang) non reaktif. Adanya hasil rapid itu, pihak RS Woodward selaku tergugat I kemudian tidak memperkenankan kedua pasien untuk pulang.

“Penggugat dan istri tidak diperkenankan pulang tetapi harus dirujuk ke RSUD Madani. Penggugat, terlebih istri (Grace Visca Sandagang) yang non reaktif sangat keberatan karena sama sekali tidak mempunyai ciri-ciri atau gejala terpapar Covid-19 seperti sesak napas, batuk, flu, pusing, dan demam,” ucapnya.

Penggugat disebut telah meminta agar diisolasi mandiri di rumah namun ditolak oleh tergugat I. Tergugat I beralasan penggugat dan istri harus diisolasi karena selalu bersama-sama dalam satu kamar. Pihak RS Woodward dikatakan tetap bersikeras dan sempat bersitegang dengan kedua pasien.

“Penggugat dan istri juga keluarga keberatan dengan alasan bahwa hasil rapid test tidak bisa dijadikan dasar yang akurat untuk mengisolasi seseorang sebagai terpapar Covid-19. Namun piahk RS Woodward tetap memberangkatkan penggugat dan istri untuk dirujuk ke RSUD Madani selaku tergugat II sekitar pukul 24.00 WITA,” ungkap Hartawan.

Hartawan menilai tindakan RS Woodward merupakan perbuatan melawan hukum dan bertentangan dengan hak asasi manusia karena Grace Visca Sandagang tidak terpapar Covid, terlebih masih dalam kondisi lemah.

Tiba di RSUD Madani, kedua pasien dimasukkan dalam satu kamar yang sama dan selanjutnya menjalani swab test oleh tergugat II. Namun hasil swab test tersebut tak kunjung diterima pasien.

Pada 7 Oktober 2020, istri penggugat Grace Visca Sandagang dinyatakan meninggal dunia. Oleh pihak RSUD Madani beber Hartawan, Grace Visca Sandagang disebut meninggal karena penyakit diabetes bukan karena Covid-19.

“Dengan meninggalnya istri penggugat yang dinyatakan tergugat II karena diabetes membuktikan bahwa tergugat I dan II telah melakukan perbuatan melawan hukum dengan. Tergugat sengaja mengisolasi istri penggugat seolah-olah adalah pasien terpapar Covid-19 yang membuat Ny. Grace Visca Sandagang mengalami syok dan stres berat sehingga mengakibatkan kematian,” pungkas Hartawan.

Menanggapi hal ini, Direktur RSUD Madani, dr Nirwansyah Parampasi, menuturkan gugatan merupakan hal biasa. Dia menyebut pihaknya telah mempercayakan kepada kuasa hukum untuk menghadapi gugatan Sahlan.

“Tidak apa-apa, itu gugatan perdata, sekarang sudah berjalan, ada lawyer kami,” ucap Nirwansyah kepada Metrosulawesi, Senin, 1 Februari 2021.

Reporter: Michael Simanjuntak
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas