Home Hukum & Kriminal

Persidangan Virtual di PN Palu Belum Maksimal, Seringkali Hanya Pakai Handphone

10
SIDANG VIRTUAL - Proses jalannya pemeriksaan perkara pidana melalui sidang virtual di PN Palu. (Foto: Metrosulawesi/ Sudirman)

Pandemi Covid-19 memengaruhi hampir semua aktivitas di perkantoran. Sebut saja misalnya, di Pengadilan Negeri (PN) Palu. Saat ini nyaris semua proses persidangan dilakukan secara virtual atau daring. Kecuali persidangan perkara perdata. Efektifkah? Berikut laporannya.

Laporan: SUDIRMAN – Palu

HALO…halo, apakah sudah dengar suara saya….,” ucap salah satu petugas PN Palu saat akan berusaha menyambungkan jaringan komunikasi dari ruang sidang di PN Palu dengan seorang penerima di Rutan Palu. Petugas di Rutan Maesa yang menerima panggilan itu pun bilang.. Ya.. sudah..tapi masih kresek-kresek”. Dialog seperti itu, acap kali terjadi pada setiap akan dilakukan persidangan pidana digelar.

Tentu saja persidangan secara daring seperti itu sangat memengaruhi berjalannya sidang. Belum lagi ketika jaringan tidak mendukung atau bahkan terputus. Persidangan terpaksa harus berhenti.

Pantauan Metrosulawesi dalam sidang putusan kasus dugaan penggelapan pekan lalu misalnya. Sidang yang mestinya dilakukan pada hari Selasa 26 Januari 2021 itu terpaksa diundur ke hari Rabu 27 Januari 2021, karena gegara jaringan WA tidak tersambung.

Pembatasan proses persidangan langsung, rata-rata pada pemeriksaan perkara tindak pidana, sidang ini sudah lebih domain digelar secara daring atau online. Sedangkan untuk pemeriksaan perkara perdata masih berlangsung di ruang sidang pengadilan. Salah satu pertimbangan sehingga perkara pidana digelar daring atau online, guna membatas mobilisasi tahanan dari rutan kepengadilan, yang dikhawatirkan bisa tertular atau menularkan virus corona.

“Pihak lembaga pemasyarakatan juga menolak untuk mengeluarkan tahanan (Terdakwa), makanya sidangnya online. Setiap terdakwa bersidang dari tempatnya ditahan,” ungkap ketua PN Kelas IA/PHI/Tipikor Palu, Marliyus MS , SH. HM, ditemui belum lama ini.

Untuk mendukung pelakansanaan sidang perkara pidana secara daring, pihak PN Kelas IA/PHI/Tipikor Palu, telah menyiapkan fasilitas berupa dua ruang yang dilengkapi jaringan internet, infocus serta komputer atau laptop. Meski telah lengkap, tetap saja pelaksanaan proses persidangan online dengan sidang bertatap muka secara langsung terdapat perbedaan yang sangat nampak. Salah satunya terletak pada tidak maksimalnya proses pemeriksaan persidangan.

“Jika pihak rutan mau membawa tahanan ke pengadilan, malah lebih bagus. Jujur sidang secara online ini sangat tidak maksimal, kita nanti teriak teriak baru didengar. Nah pembuktian suatu perkara itu perlu kejelasan, karena menyangkut Hak Asasi Manusia,” terang Marliyus.

Banyak hal yang menyebabkan proses sidang perkara pidana secara daring tidak maksimal. Mulai dari jaringan internet yang kadang tidak stabil, hingga fasilitas pendukung yang tidak memadai, baik yang ada di pengadilan maupun yang ada di lembaga lain, seperti Rutan, Lapas, Kejaksaan Negeri, termasuk di Lembaga Kepolisian. Kondisi teknis itu bahkan menyebabkan sidang yang akan digelar kembali mengalami penundaan.

“Belum lagi jika sudah proses sidang online berlangsung. Biasanya di lembaga tempat para terdakwa bersidang virtual, sangat berisik sekali. Bahkan ada yang kesana kemari. Itu nampak terlihat secara virtual,” sebut Marliyus lagi.

Ternyata bukan itu, kata Marliyus hakim di pengadilan yang dipimpinnya sering juga menyindangkan perkara pidana secara online hanya menggunakan applikasi yang ada di handpone, untuk terkoneksi dengan lembaga lain tempat para terdakwa berada. Kondisi itu terjadi, disebabkan antara lain banyaknya perkara yang harus disidangkan, sementara dua ruang sidang yang disiapkan sedang terpakai. Kemudian juga karena untuk menyesuaikan dengan permintaan dan kesiapan pihak dari lembaga lain.

“Karena pemeriksaan persidangan ini adalah hal yang sakral, saya mengharapkan lembaga lain bisa mendukung kami dengan memfasilitasi masing masing lembaganya, menyiapkan ruang sidang virtual, yang nyaman bagi terdakwa, tidak berisik, atau ada yang berlalu lalang, serta dilengkapi alat yang memadai seperti infocus, jaringan internet, dan lain-lain sehingga tidak lagi menggunakan handpone. Sehingga pemeriksaan perkara pidana bisa lebih maksimal,” tandas Marliyus.

Ayo tulis komentar cerdas