Home Palu

Sosok Akademisi-Politisi yang Sarat Pengalaman

10
PERSIAPAN PEMAKAMAN - Anggota Satuan Polisi Pamong Praja Sulawesi Tengah sedang mengusung keranda jenazah Prof Aminuddin Ponulele meninggalkan rumah duka Jalan Lasoso, Palu Barat menuju Biromaru Kabupaten Sigi untuk dimakamkan, Kamis pagi, 28 Januari 2021. (Foto: Metrosulawesi/ Pataruddin)
  • Almarhum Prof Aminuddin Ponulele di Mata Para Tokoh

Sulawesi Tengah berduka. Rabu, 27 Januari 2021, salah satu putra terbaiknya telah dipanggil Sang Pencipta. Adalah Prof (Emeritus) Drs H Aminuddin Ponulele, MS, mantan Gubernur dan Ketua DPRD Sulawesi Tengah menghembuskan nafas terakhirnya karena sakit di ruang perawatan intensif (ICU) Rumah Sakit Budi Agung, Kota Palu. Aminuddin Ponulele dinyatakan meninggal dunia tepat pukul 10:55 Wita.

SONTAK saja kabar duka itu menyebar ke seluruh khalayak Sulawesi Tengah. Kabar itupun langsung memadati status warga di media sosial. Saling mengabari, menyampaikan dan memberikan informasi-informasi baik situasi terkini maupun hal-hal mengenai almarhum semasa hidup.

Di rumah duka Jalan Lasoso, Kecaamatan Palu Barat, kesibukan ‘menyambut’ jenazah pun dipersiapkan. Sejumlah kerabat maupun warga sekitar saling membantu menyiapkan segala sesuatunya mulai dari ranjang persemayaman di ruang tamu hingga pengaturan tenda dan kursi di depan rumah.

Menjelang Dzuhur, jenazah Prof Aminuddin Ponulele pun tiba di rumah duka dikawal kerabat dekatnya. Jenazah kemudian dibawa masuk ke rumah dan diletakkan di tempat yang sudah disiapkan. Sebuah foto berukuran besar dipajang. Foto itu menggambarkan almarhum semasa menjabat Gubernur Sulawesi Tengah.

Satu persatu mulai dari Wakil Gubernur Sulawesi Tengah H Rusli Dg Palabbi, Wakil Ketua DPRD Sulawesi Tengah H Muharram Nurdin dan kerabat serta dari berbagai kalangan tiba dan membacakan doa secara bergantian di samping jenazah. Gubernur Sulawesi Tengah H Rusdy Mastura juga hadir dan membacakan doa.

Rusdy Mastura pun memberikan testimoninya.

“Kesan saya, dia punya keberanian dalam hal apa saja. Apa saja. Yang saya sempat saksikan sendiri, kalau dia marah dia tidak pusing,” kata Rusdy Mastura yang akrab disapa Cudy itu.

Kata Cudy, Aminuddin Ponulele menguasai masalah kepemimpinan. Saat menjabat gubernur, almarhum memperbaiki administrasi keuangan, menyelesaikan adiministrasi yang rumit di Sulawesi Tengah.

“Itu dia bisa selesaikan,” kata mantan Walikota Palu dua periode itu.

Menurutnya, setiap pemimpin punya tugas masing-masing. Aminuddin Ponulele sudah menyelesaikan tugasnya ketika dia menjabat sesuai dengan visi dan misinya, berarti dia sukses.

Sebagai gubernur terpilih, Rusdy Mastura mengaku gaya kepemimpinan almarhum dan bakal diadopsi adalah tegas, berani tapi penyayang. “Dia itu penyayang karena saya ini tukang lawan tapi dia tetap sayang,” kata Rusdy.

Dari sisi keagamaan, almarhum dikenal cukup instens dalam mendorong dan membantu peningkatan kapasitas ulama serta pendidikan ulama maupun dalam melahirkan ulama.

Adalah Ketua Tanfidziah Nahdhatul Ulama Sulawesi Tengah Abdullah Latopada ‘bersaksi’ untuk hal satu ini. Semasa Aminuddin Ponulele menjabat gubernur maupun saat menjabat Ketua DPRD Sulawesi Tengah, ada lima angkatan pengkaderan calon ulama dan setiap angkatan diikuti 25 orang. Semua itu diprakarsai almarhum dan masih berlangsung hingga hari ini.

“Pak Aminuddin Ponulele di mata saya sebagai Ketua NU, luar biasa. Luar biasanya yaitu dengan membangun masjid Iqra, dia menciptakan sampai lima angkatan kader ulama. Oleh karena itu saya melihat beliau yang peduli dalam hal keagamaan,terhadap dakwah Islamiyah. Itu yang lihat luar biasa kepeduliannya, sehingga mengajak kita membuat, melaksanakan, melatih untuk menjadi kader ulama dan sebagai mubaligh di tengah-tengah masyarakat,” kata Latopada.

Secara pribadi Latopada mengaku dekat dengan almarhum. Dalam berhubungan, berkomunikasi, almarhum tidak membeda-bedakan siapapun.

Hal yang sangat berkesan, kata Latopada, yaitu bagaimana almarhum selalu memberikan petuah agar kita sebagai manusia itu harus bisa bermanfaat bagi orang lain.

Di dunia politik, kata Latopada, almarhum mengatakan, ketika reformasi semua berubah. Saat itu almarhum memimpin Golkar yang begitu kuat mempertahankan partai dan posisinya. Dan selama menjabat pun, almarhum tidak pernah mendapat protes dan semua bisa menerima.

Salah seorang keponakan almarhum, Danny Wawolumaja mengaku sangat beruntung karena masih diberi kesempatan untuk merawat almarhum sekitar satu setengah tahun.

“Saat itu, beliau ingin keluar halaman dan berusaha membuka pintu gerbang. Namun tiba-tiba terjatuh. Karena kondisinya, keluarga pun membawa ke Makassar untuk berobat. Sejak itulah kondisi kesehatan sudah beda dengan sebelumnya,” kata Danny.

Soal kiprah semasa hidup, kata Danny banyak sekali kalau mau diurai.

“Pesan almarhum yang tetap tertanam di diri saya hingga saat ini yaitu bila ingin berorganisasi dengan baik, maka patuhilah peraturan organisasi itu,” kata Danny.

Sementara itu, Gubernur Sulawesi Tengah H Longki Djanggola tak kuat menahan kesedihan hingga menangis di ujung sambutan upacara pelepasan jenazah Prof Aminuddin Ponulele dari rumah duka Jalan Lasoso menuju pemakaman di halaman Masjid Al Ikhlas Biromaru, Kabupaten Sigi. Longki Djanggola mengatakan almarhum merupakan gambaran sosok yang paripurna.

“Almarhum orang tua kita, Prof Aminuddin Ponulele dapat saya gambarkan merupakan sosok yang paripurna dan sarat pengalaman sebagaimana yang telah dibacakan dalam daftar riwayat hidup tadi,” kata Longki Djanggola mengawali sambutan pelepasan jenazah Prof Aminuddin Ponulele, Kamis, 28 Januari 2021.

Almarhum adalah Gubernur Sulawesi Tengah periode 2001-2006 dan Ketua DPRD Sulawesi Tengah beberapa kali.

“Almarhum juga merupakan sosok akademisi. Pernah menjabat Rektor Universitas Tadulako,” kata Longki.

Kata Longki, semasa menjabat gubernur, almarhum memiliki konsep pembangunan masyarakat madani yang dinilai sangat konstruktif.

Setelah pelepasan, jenazah kemudian disalatkan di masjid Iqra yang tidak jauh dari rumah duka.

Pernyataan duka juga disampaikan Ketua DPRD Sulawesi Tengah Hj Nilam Sari Lawira atas wafatnya Prof Aminuddin Ponulele.

“Kita semua berduka, Sulawesi Tengah berduka. Beliau merupakan pejabat yang banyak berkontribusi di Sulawesi Tengah sehingga kita semua merasa kehilangan. Kita hanya bisa berdoa agar dilapangkan kuburnya dan diampuni segala dosanya ,” kata Nilam Sari Lawira.

Gubernur Longki Djanggola, Ketua DPRD Sulawesi Tengah dan Wakil Rektor Universitas Tadulako menyerahkan santunan duka dan sertifikat kematian kepada keluarga yang diterima istri almarhum Hj Nurhayati Ponulele.

Pelepasan jenazah dihadiri ratusan keluarga, pejabat pemerintahan, swasta maupun masyarakat umum.

Almarhum lahir di Palu, Sulawesi Tengah, 5 Juli 1939. Ia pernah menjabat Ketua DPRD Provinsi Sulawesi Tengah periode 2009-2014. Ia juga pernah menjabat sebagai Gubernur Provinsi Sulawesi Tengah dari tahun 2001 hingga 2006.

Selamat Jalan Prof Aminuddin Ponulele….

Reporter: Pataruddin

Ayo tulis komentar cerdas