Home Artikel / Opini

Sigit dan Hoegeng

9

MENATAP wajah Jenderal Sigit, lengkapnya Listyo Sigit Prabowo, Kapolri, yang baru saja dilantik oleh Presiden Joko Widodo, tiba-tiba aku mengingat-ingat wajah Jenderal Hoegeng, mantan Kapolri itu. Apakah aku membayangkan kepemimpinan Sigit ke depan mendekati gaya kepemimpinan Hoegeng yang dikenal sebagai Kapolri yang hidupnya sederhana, dekat dengan rakyat, karena itu dicintai oleh rakyat? Boleh jadi. Memang harapan aku seperti itu.

Meski ini masih sebuah harapan, namun keyakinan itu terus tumbuh dalam benakku. Ramalan ini, kalau pun mau disebut sebuah ramalan–tentu bukan ramalan seorang dukun atau ahli peramal–lantaran ada datanya. Coba renungi cuplikan-cuplikan ungkapan Sigit sebelum terpilih dan dilantik sebagai orang nomor satu di lembaga kepolisian.

Sigit berucap begini: “… tidak boleh lagi ada hukum tajam ke bawah, tapi tumpul ke atas.” Bila benar ungkapan ini ke luar dari nurani seorang Sigit, tidak sekadar sebuah slogan pencitraan, maka sesungguhnya dia mengikuti jejak pendahulunya, Hoegeng. Seperti yang terbaca dalam riwayat Hoegeng, pada zamannya, dia sangat konsisten menjalankan prinsip itu, meski riziko berat mengadangnya.

Cuplikan berikutnya: “…. ke depan, masyarakat bisa mendapatkan pelayanan Polri semudah memesan pizza.” Terbayang, betapa mudahnya urusan-urusan masyarakat yang berhubungan dengan pihak kepolisian. Kalau selama ini, misalnya pengurusan SIM, pengurusan SKCK (surat keterangan catatan kepolisian), pengaduan masyarakat karena ada masalah yang dihadapi, dll, dikeluhkan lantaran rumit dan bertele-tele, kini tentu tidak lagi.

“Semua akan mudah, semudah memesan pizza,” janji Sigit.

Ada lagi: “… jangan utamakan tilangnya, tapi utamakan mengurai kemacetan di jalan…” Ini penting dipahami dan dipraktikkan oleh polisi yang bertugas di jalan atau lebih dikenal polisi lalu-lintas. Pemandangan keseharian di jalan-jalan kota, kemacetan sudah menjadi rutinitas. Pihak kepolisian mengadakan razia di sebuah jalan, sementara jalan lainnya penuh kemacetan, tak satu pun polisi yang tampil mengurai. Kenyataan ini, tentu tidak akan terulang lagi, semoga.

Terakhir cuplikan yang aku sempat baca: “… ke depan tidak boleh lagi ada kasus Nenek Minah yang mencuri kakao (tiga butir) kemudian diproses hukum karena hanya untuk (alasan) kepastian hukum. Betul penegakan hukum harus dilakukan secara tegas, namun humanis.” Sigit adalah seorang bijak, hal itu terbaca dalam ucapan-ucapannya yang aku yakini ke luar dari lubuk hatinya yang dalam.

Ke depan Sigit akan menemukan kendala untuk menjadikan obsesi-obsesinya itu menjadi nyata. Kendala akan muncul dari berbagai penjuru angin, termasuk angin senayan dan angin istana.

Aku meyakini Sigit memahami dan akan menghadapi kendala itu dengan caranya sesuai zamannya, seperti Hoegeng dengan zamannya yang lain. (#)

Ayo tulis komentar cerdas