Home Artikel / Opini

Tuhan Masih Mencintai Indonesia

16

MESKI bencana bersahut-sahutan bagaikan nyanyian burung yang bertengger dari dahan ke dahan, sesungguhnya Tuhan masih mencintai Indonesia.

Beda dengan Ebiet G. Ade. Penyair lirik itu berpandangan: bencana beruntun terjadi lantaran mungkin manusia sudah bangga dengan dosa-dosa. Namun bila dia diburu untuk menjelaskan siapa yang dia maksud manusia sudah bangga dengan perbuatan dosa-dosa itu, Ebiet G. Ade berkelit. “Tanya pada rumput yang bergoyang,” ujarnya sembari mengulum senyumnya, lalu pergi.

Imajiner Ebiet G. Ade itu diungkapkan puluhan tahun yang lalu di saat negerinya dilanda bencana. Entah bagaimana pandangannya melihat bencana terkini yang bagaikan nyanyian burung bersahut-sahutan itu.

Berawal virus corona yang terus memburu mangsanya hingga kini. Jatuhnya pesawat Sriwijaya. Longsornya Sumedang. Gempa dahsyatnya Sulawesi Barat yang hingga kini masih mencekam. Banjir bandangnya Kalimantan yang tak lama lagi menjadi ibu kota negara itu. Pasangnya air laut Manado setinggi empat meter yang menyerbu kota. Banjirnya Aceh yang menyebar ke pelosok, dan sungguh banyak nama daerah untuk menyebutnya satu persatu. Korban pun berjatuhan. Ratusan rakyat meninggal. Puluhan ribu mengungsi. Jutaan ratapan tangis yang tak berujung. Entah sampai kapan.

Jangan bersedih. Sesungguhnya Tuhan masih mencintai Indonesia. Secara statistik, baru beberapa provinsi diguncang oleh bencana. Bersyukurlah tidak semua wilayah dilanda musibah. Itu bukti kalau Tuhan masih mencintai bangsa ini. Indonesia memiliki 34 provinsi. Bayangkan kalau semuanya terguncang dengan waktu yang hampir bersamaan. Tentu, berat membayangkannya. Lantaran itu jangan pernah membuat Tuhan tidak mencintaimu.

Salah satu cara agar Tuhan menurunkan cintanya kepada suatu negeri, sebut saja Indonesia, pemimpinnya harus berbuat adil. Tidak membiarkan penebangan pohon di hutan secara liar. Menjauhi pencitraan. Menjadikan lembaga hukum benar-benar berkeadilan. Dan tentu saja jangan bangga dengan dosa-dosa, seperti kaum koruptor melambaikan tangannya sembari tersenyum di depan wartawan di gedung KPK.

Semoga kehadiran Presiden Jokowi di Kalimantan dan di Sulawesi Barat tidak sekadar menabur simpati dengan membagikan bantuan kepada korban, tapi menemukan sebuah renungan yang dalam untuk bangsa yang dipimpinnya. (#).

Ayo tulis komentar cerdas