Home Palu

Tergugah Karena Pernah Merasakan Bencana

26
FOTO BERSAMA - Lurah Alfin Hi Ladjuni foto bersama warga penyintas likuifaksi sebelum berangkat membawa bantuan menuju Mamuju, Sulbar di Kantor Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu, Rabu, 20 Januari 2021. (Foto: Metrosulawesi/ Michael Simanjuntak)
  • Ketika Penyintas Likuifaksi Petobo Menyumbang untuk Sulbar

Ungkapan berbagi tak harus menunggu berkecukupan diamalkan penyintas bencana likuifaksi di Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu. Saat masih kekurangan, penyintas likuifaksi Petobo ikut menyumbang untuk korban bencana gempa bumi di Sulawesi Barat (Sulbar). Berikut laporannya.

Laporan: Michael Simanjuntak

KANTOR Kelurahan Petobo di lokasi Hunian Sementara (Huntara) terlihat ramai oleh warga mulai pukul 07.20 WITA pada Rabu, 20 Januari 2021. Bukan untuk demo, warga ramai karena hendak berangkat membawa bantuan menuju Kabupaten Mamuju, Sulbar.

Warga tersebut merupakan korban bencana likuifaksi di Petobo yang terjadi pada 28 September 2018 lalu. Tujuh kendaraan roda empat digunakan penyintas membawa bantuan yang terdiri dari sembako beras, air mineral kemasan gelas, mie instan, perlengkapan mandi dan selimut serta popok bayi.

Lurah Petobo, Alfin Hi Ladjuni, melepas keberangkatan penyintas menuju Mamuju, Sulbar tepat pukul 08.00 WITA. Alfin berujar ada sekitar 30 orang lebih warganya yang berangkat pagi itu.

Disebutkan, bantuan yang diantar merupakan sumbangan dari penyintas di Kelurahan Petobo dan sekitarnya. Pernah menjadi korban bencana menjadi penggugah hati nurani penyintas menyumbang untuk warga terdampak gempa bumi 6,2 SR di Sulbar.

“Ini murni gerakan hati oleh penghuni Huntara korban likuifaksi di Kelurahan Petobo. Warga tergugah karena pernah merasakan bencana. Saya juga selaku korban. Warga sudah merasakan penderitaan dalam satu dua hari, bahkan sampai satu minggu kita kelaparan pasca bencana,” ujar Alfin.

Tidak butuh waktu lama, bantuan yang terkumpul hanya dalam empat hari sebelum pemberangkatan. Total beras mencapai 600 kilogram, mie instan 100 dos, dan air mineral kemasan gelas 400 dos, ditambah bantuan lainnya.

Lurah berpesan, saat di lokasi bencana warganya harus tetap menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 dengan memakai masker,menjaga jarak, dan mencuci tangan (hand sanitizer).

Adapun bantuan menuju Sulbar dikomandoi Koordinator Rombongan, Iwan Herawan, selaku warga sekaligus salah satu Ketua RT di Kelurahan Petobo. Senada dengan Lurah Alfin, Iwan juga menuturkan bantuan yang dikumpulkan atas inisiatif warga penyintas melalui koordinator Huntara Petobo dan sekitarnya.

“Bantuan yang terkumpul tanpa ada paksaan dan patokan, itu sesuai hati nurani masing-masing karena warga Petobo sudah pernah menerima bantuan saat bencana lalu,” tuturnya.

Iwan melanjutkan bantuan akan dibawa ke posko induk di Kabupaten Mamuju, Sulbar. Ia bersama warga lainnya dikatakan bergabung dengan rombongan Pemerintah Kota (Pemkot) Palu yang berangkat pada hari yang sama.

“Kami sama-sama rombongan Pemkot karena kita dengar masih ada penjarahan bantuan, jadi biar dikawal,” ucap Iwan.

Dia memastikan bantuan yang dibawa akan disalurkan kepada warga yang menjadi korban bencana. Teknis penyaluran bantuan akan dikoordinasikan dengan pemerintah setempat di Mamuju.

“Semoga bantuan dari warga Petobo bisa meringankan beban saudara-saudara kita di Sulbar,” tandas Iwan. (*)

Ayo tulis komentar cerdas