Home Ekonomi

BI Kembangkan Pilot Project Urban Farming di Palu

11
PENGEMBANGAN HIDROPONIK - Program Urban Farming yang didukung Bank Indonesia Sulawesi Tengah untuk pengembangan hidroponik. (Foto: Dok BI Sulteng)
  • Dari Pekarangan Pun Bisa Dapat Penghasilan

Palu, Metrosulawesi.id – Tidak dapat kita pungkiri bersama bahwa Pandemi memberikan efek domino kepada masyarakat baik itu terhadap perekonomian ataupun perubahan kebiasaan dalam beraktifitas sehari-hari.

Salah satunya, yang dialami oleh Sri Lestari, ibu rumah tangga yang mengalami surutnya sumber penghasilan utama keluarga dari suaminya yang berprofesi sebagai tukang parkir, karena menurunnya jumlah pengunjung di pertokoan sebagai dampak pandemi Covid-19.

“Kondisi tersebut mengharuskan saya harus membantu suami mencari sumber penghasilan baru untuk menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak,” ujar Sri Lestari.

Dalam rangka meningkatkan penghasilan masyarakat serta sebagai salah satu upaya dalam penanggulangan inflasi volatile food, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tengah (KPwBI Sulteng) berinisiasi mendorong implementasi urban farming melalui Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) pada kelompok masyarakat perkotaan di Lorong Sintuwu I di Kelurahan Lolu Utara, Kota Palu sebagai pilot project.

Kantor Perwakilan BI Sulteng memberikan bantuan berupa rangkaian hidroponik yang merupakan salah satu metode dalam budidaya menanam dengan memanfaatkan air dengan menekankan pada pemenuhan kebutuhan hara nutrisi bagi tanaman tanpa media tanah. Kebutuhan air pada hidroponik lebih sedikit daripada kebutuhan air pada budidaya dengan tanah, serta tentunya dapat dilakukan pada lahan yang terbatas. Bantuan yang diberikan antara lainhHidroponik sistem Deep Flow Technique (DFT) 50 set, sistem Nutrient Film Technique (NFT) 200 titik 2 set, sistem fertigasi 15 set, Green House Produksi dan taman edukasi.

Program ini diharapkan dapat menjadi alternatif sumber pemasukan baru serta menjadi pemenuhan kebutuhan konsumsi masyarakat, melalui budidaya hortikultura dan komoditas inflasi volatile food lainnya seperti tanaman cabai, tomat, bawang merah, kangkung, sawi dan sejenisnya. Hal ini sesuai dengan sebagaimana yang dirasakan oleh Ibu Nanda selaku Lurah di Lolu Utara.

Program hidroponik dari Bank Indonesia ini merupakan salah satu cara meningkatkan produktivitas dan kegotongroyongan masyarakat. Hasil panen hidroponik dimanfaatkan sebagai konsumsi masyarakat dan dijual untuk menambah pendapatan rumah tangga” ungkapnya. Pemanfaatan hidroponik juga dirasakan oleh keluarga Sri Lestari.

“Saya awalnya ragu dengan menanam menggunakan hidroponik karena tidak punya pengetahuan yang memadai, tapi saat kami diberi pelatihan oleh Bank Indonesia Sulteng, kami merasakan manfaat yang banyak karena kegiatan menanam menjadi produktif,” kata Sri Lestari.

Dari ilmu yang diberikan, kami bersama-sama mengelola hidroponik di rumah dan di green house untuk dapat memenuhi kebutuhan sayur sehat konsumsi keluarga, mengembangkan bantuan yang diberikan dan menjadi penghasilan untuk keluarga.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari anggota kelompok, konsumen bukan hanya dari dalam kota Palu melainkan juga dikirim ke Kab. Tolitoli. Setiap masa panen kelompok memperoleh penghasilan ±Rp8.000.000,00 yang kemudian dibagikan kepada anggota kelompok dan disisihkan untuk kas.

Tentunya dalam mensukseskan program tersebut, KPwBI Sulteng bersinergi dengan komunitas Peduli Hidroponik Kota Palu untuk turut mendampingi dan memberikan edukasi terkait proses pemanfaatan hidroponik, mulai dari pemilihan bibit, proses persemaian, penyediaan media tanam, proses pindah tanam, pemeliharaan tanaman pada media hidroponik, pemupukan, proses panen sampai pasca panen.

Belum berakhir sampai disitu saja, melalui kerjasama yang telah dilakukan komunitas Peduli Hiroponik Kota Palu telah komitmen untuk membantu dari sisi pemasaran dan penjualan hasil panen. Masyarakat pun menjadi lebih aware untuk selalu menjaga kebersihan dilingkungan dan mengolah sampah plastik menjadi produk yang bernilai (menuju go green).

Rencana kedepannya, KPwBI Sulteng dengan dukungan stakeholder terkait, akan mendorong lingkungan urban farming di Kelurahan Lolu Utara menjadi project percontohan lingkungan cashless society di Kota Palu dengan memanfaatkan Quick Respons Indonesian Standard (QRIS) sebagai sistem pembayaran nontunai.

Upaya tersebut tentunya sebagai upaya pencegahan penularan COVID-19 melalui uang tunai, meningkatkan literasi keuangan digital bagi masyarakat dan sebagai bentuk penyesuaian transformasi sistem pembayaran diera digital saat ini.

Kemudian dari sisi pemasaran, KPwBI Sulteng pun akan berupaya untuk meningkatkan akses pemasaran produk kelompok melalui sinergi dengan marketplace lokal dan korporasi pasar modern di Sulawesi Tengah. (*/ptr)

Ayo tulis komentar cerdas