Home Inspirasi

Manfaatkan Tanah Samping Huntaranya Sebagi Workshop

29
BIKIN SANGKAR - Yudha saat memilah kayu untuk membuat sangkar merpati. (Foto: Metrosulawesi/ Faiz)
  • Yudha, Pengrajin Kandang Merpati

INI sementara bikin tempat makannya,” katanya “oh iye harus cari kayu lagi karena masih kurang,” lanjut  Yudha (20) saat mencari sebilah dua bilah kayu bekas.

Pukul 6 pagi, dalam udara berbungkus halimun itu Yudha sudah memulai waktu menuangkan kreativitasnya menyusun, memilah, merangkai kayu, bambu hingga menjadi rumah burung merpati.

Yudha pun menyulap lahan kosong samping bilik hunian sementara (huntara) milik keluarganya sebagai workshop pembuatan rumah hewan balap itu.

Suara khas gigi tajam gergaji menggerogoti serat kayu, kerap terdengar di lahan kosong tak bertuan ini. Di lahan tak kurang dari 2×3 meter itu, Yudha mengembangkan idenya ditemani beberapa anak kecil yang sedang sumringah bermain.

Bersama keenam anggota keluarganya, Yudha saat ini tinggal di huntara Layana Indah, Kelurahan Layana, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu. Terhitung telah satu semester atau enam bulan Yudha sekeluarga menghuni huntara tersebut sejak tragedi bencana 28 September 2018 silam.

Dari waktu ke waktu di bilik sementara itu dilakoninya dengan memelihara burung merpati, merawatnya hingga beranak adalah momen yang paling dinantinya.

“Sekarang burung sudah enam pasang, anaknya total ada lima ekor,” katanya memperlihatkan satu per satu binatang bersayap itu kepada jurnalis Metrosulawesi beberapa waktu lalu.

“Daripada tiada kerjaan, mending bikin kandang baru dijual,” Yudha berucap tonjolkan semangatnya.

Untuk rumah merpati, Yudha pun menawarkan varian harga, untuk dua pintu dalam satu buah sangkar burung dipatoknya dengan harga Rp75 ribu, Rp150 ribu ukuran 4 pintu sangkar, adapun yang paling mahal seharga Rp400 ribu memakai 12 pintu siap menampung hingga 15 pasang merpati. Butuh waktu minimal lima jam merangkai sangkar siap jual. Sangkar 12 pintu, kata Yudha adalah yang paling lama pengerjaannya, memakan waktu sehari.

Estetika rumah merpati tak luput dari ketekunannya menjalani bisnis ini, diberinya cat mentereng berbagai warna kemuda-mudaan dibaluti motif mural. Tak lupa wadah makanan dan air bagi merpati yang juga telah tersedia di sangkar buatannya.

Yudha mengaku menjual merpati hasil peliharaannya dikisaran Rp50 ribu hingga Rp200 ribu.

“Umur satu bulan atau anakan baru siap saya jual. Dijamin burungnya aman sehat.” Katanya.

Untuk melebarkan sayap bisnisnya, Yudha memanfaatkan Facebook untuk memasarkan produk sangkar dan burung merpati peliharaannya. Berkat pasar digital itu, rumah merpati buatan Yudha telah terjual hingga ke Kabupaten Poso pernah bertransaksi sangkar maupun burung merpatinya.

“Keuntungan tak tentu, kadang satu bulan cuma satu atau dua pesanan, kadang juga dalam satu bulan tidak ada pesanan,” kata pemuda yang memulai bisnis sangkar merpati sejak tinggal di Huntara Layana Indah enam bulan lalu ini.

Keuletan Yudha dalam mengais pundi pundi rupiah patut diapresiasi, jika tidak ada pesanan bisnis burung merpati, Yudha memaksimalkan tenaga dan waktunya sebagai nelayan di Teluk Palu dan sekitarnya.

Sebagai nelayan, Yudha diberi upah Rp75 ribu sekali melaut. Ikan rono, katombo, maupun lajang kasil tangkapannya dijual di Pasar Manonda Palu, pinggir jalan Kampung Lere, hingga Kota Makassar.

“Biar orang tua terbantu juga biayai adik ku tiga orang yang masih sekolah itu, kalau saya nantilah kalau kuliah.” Ungkapnya dilapisi raut wajah sedih.

Syamsuddin, ayah Yudha,  sebelum bencana 28 September 2018 berprofesi sebagai penjual mebel peralatan rumah seperti lemari, meja, dan kursi. Namun, semua itu lenyap seketika ditelan gelombang maut tsunami, sekaligus toko mebel mereka di Jalan RE Martadinata, Kelurahan Layana Indah, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu.

“Hanya satu buah motor yang bisa diselamatkan, rumah pun toko tersisa tinggal lantai retak di sana-sini,” kata Yudha.

Yudha pun mengaku bersyukur dirinya sekeluarga telah pindah ke Huntara Layana Indah.

“Insyaallah kami bisa pindah di Huntap Tondo, karena administrasinya kami telah rampungkan,” katanya.

Reporter: Faiz

Ayo tulis komentar cerdas