Home Artikel / Opini

Apa Arti Sebuah Nama

17

KEPULANGAN Rizieq dari Arab Saudi membawa keriuhan untuk negerinya. Setidaknya keriuhan itu mewarnai akhir tahun 2020.

Di balik keriuhan itu, ada juga berpandangan bahwa suasana itu terjadi lantaran “penyambutan” oleh otoritas negara yang memilih gaya reaktif, bukan gaya respon. Tidak mengayomi warga negaranya yang berani berbeda, tapi mengecamnya. Jauh dari dialogis. Apa pun itu, ketegangan dan kecemasan telanjur lahir. Rakyat merasakan keterbelahan. Disebut keterbelahan karena terciptanya rasa benci dan rindu kepada sosok lelaki yang selalu memakai gamis berwarna putih itu.

Rasa emosional itu memang benar terasa. Terefleksi di media sosial. Begitu dahsyatnya permusuhan itu, kata-kata tak elok pun ke luar bagaikan meteor yang mencari sasaran lawannya. Boleh setuju boleh tidak setuju. Nyatanya, memang benci dan rindu itu ada di sana, di negeri ini.

Pada mulanya, saat dia dijemput di bandara oleh para pencintanya. Kerumunan massa yang tak terduga banyaknya itu melahirkan masalah baru di zaman pandemi ini. Dinilai melanggar Protokol Satgas Penanganan Covid-19 yang kian hari kian mencemaskan penyebarannya. Di sinilah awalnya keriuhan itu terjadi, dan mencemari hari-hari akhir tahun.

Ada informasi, melihat suasana makin mengarah kegentingan, Mahfud MD–Menkopolhukam–mencoba mengambil jalan tengah. Dengan kekuasaan yang ada pada dirinya, dia menghubungi seorang pengacara Rizieq. Niatnya untuk berjumpa atau menjalin silaturrahim, semacam rekonsiliasi. Mungkin. Namun niat itu direspon dengan pandangan euforia berlebihan oleh “sang imam besar” dengan permintaan yang tak bakal diterima. “Silaturrahim itu boleh asal terpidana Abu Bakar Ba’asyir dibebaskan dari penjara.” Begitu syarat yang diminta Rizieq. Mahfud MD pun menutup rapat niat itu.

Hanya menghitung hari, Rizieq menerima surat panggilan sebagai saksi dari Polda Metro Jaya. Dia diduga melanggar protokol satgas covid. Panggilan pertama itu tak diindahkan. Polisi sabar. Panggilan kedua, belum juga diindahkan. Polisi mulai tak sabar. Ancaman pun keluar: bila tak hadir, maka penangkapan paksa pun dilakukan. Tampaknya ancaman itu menpan, Rizieq hadir bersama pengacaranya. Setelah lebih sepuluh jam diperiksa penyidik, dia pun menyandang gelar tersangka. Kedua tangannya yang terborgol diangkat tinggi-tinggi untuk dipamerkan ke sejumlah wartawan. Berbeda kaum koruptor yang ditangkap KPK, selalu menyembunyikan tangannya yang terborgol.

Sayang sekali, sebelumnya, keriuhan ini makin mencekam lantaran enam pengawal Rizieq meninggal ditembak oleh polisi. Tragedi ini diawali, kata Pak Polisi, dengan tembak-menembak. Pihak FPI membantah tuduhan itu. Kini masalah ini ditangani Komnas HAM. Dan telah keluar rekomendasinya: penembakan yang menyebabkan kematian laskar FPI itu adalah pelanggaran HAM. Kita pun tunggu respon Presiden Jokowi.
FPI, Front Pembela Islam–ormas yang didirikan Rizieq itu telah dinyatakan terlarang hidup di negeri Indonesia.

Hanya beberapa jam setelah diumumkan sebagai ormas terlarang, para petinggi FPI memaklumatkan ormas baru. Namanya Front Persaudaraan Islam. Singkatannya sama: FPI. Ya, apa arti sebuah nama. (#)

Ayo tulis komentar cerdas