Home Palu

Edukasi Masyarakat Melalui Jasa Angkutan Sampah

27
Grobag, Info Sampah. (Foto: Ist)
  • Madani Putro, Founder Grobag.Id

SAAT mendengar kata sampah, hal yang melekat di benak tiap orang adalah sesuatu yang kotor dan akan mengusik dirinya. Tumpukan sampah, dimana pun ditemukan, di dalam rumah sekali pun, perasaan risih dan jijik seketika akan muncul.

Itu juga yang  dialami Madani Putro, pemuda asal Kelurahan Lere, Kota Palu, Sulawesi Tengah, dimana  ketika mendengar kata sampah langsung merasa jejap (jijik), terlebih ketika dirinya berhadapan dengan sampah yang langsung memicu rasa penolakannya.

“Sampah itu jadi hal paling menyebalkan bagi saya dulu. Apalagi kalau di rumah, saya paling benci kalau disuruh buang sampah,” kata sosok yang akrab disapa Dani ini kepada jurnalis Metrosulawesi di  Palu beberapa waktu lalu.

Diketahui bersama, di setiap wilayah hingga ke gang-gang tumpukan sampah mudah ditemui di Kota Palu. Dan hal ini membuat Dani tak bisa diam, harus bertindak membereskannya.

26 Desember 2017, tanggal di mana Dani mulai meredam perspektif keengganan “bergaulnya” dengan sampah menjadi gerakan kecil yang justru bermanfaat bagi orang sekitarnya.

Namun Dani merasa gerakan itu agak bermuluk-muluk, sehingga dirinya pun perlahan mencoba perspektif  atau pandangan lain untuk melakukan manajemen sampah.

“Ya semua orang saya yakin tidak suka dengan sampah. Tapi bagi saya, saya punya perasaan berlebih dari sisi ketidaksukaan itu,” ucap Dani.

Boleh dikata Dani melakukan metode terapi terhadap sampah berawal dari memanfaatkan media sosial Instagram sebagai media edukasi lingkungan, yang jika dikerucutkan berfokus pada persoalan sampah di tengah masyarakat. Tak hanya sebagai media edukasi, gagasan ini dikukuhkan Dani menjadi sebuah komunitas mandiri bernama Grobag.

Terhitung sejak 26 Desember 2017 hingga dua bulan berikutnya yakni awal Januari 2018, kampanye lingkungan melalui media edukasi itu diakui Dani masih minim menarik perhatian orang banyak.

“Saya sadari gagasan ini tetap ada pemerhatinya, tetapi untuk lebih intens orangnya masih kurang juga, kurang sekali kenalan yang satu kepala (gagasan) dengan saya waktu itu,” kata Dani sedikit berkeluh.

Dani pun beranggapan gerakan kampanyenya  lumrah minim peminat karena bersentuhan langsung dengan kotoran seperti sampah.

Dua bulan Grobag mengedukasi masyarakat tentang pengelolaan sampah, namun Dani masih measa kurang efektif jika tanpa praktik. Di sela-sela itu, dia mengajak dua rekannya untuk terlibat langsung. Mereka bertiga pun saling mencari cara guna memuluskan misi mereka, menata sengkarutnya sampah di Kota Palu.

Dani mengaku sempat mengalami trauma saat kedua rekannya tak lagi bisa bersama-sama mengembangkan Grobag. Momentum vakum pun menghampiri usaha Dani hampir dua tahun lamanya.

Singkat cerita, 4 Januari 2020 Dani mulai bangkit. Dani memulainya dengan lebih mengenalkan kembali  Instagram Grobag.id yang telah berusia tiga tahun ke masyarakat dengan menyelipkan ragam  edukasi soal tata kelola sampah.

Jauh-jauh hari pun, Dani kepikiran untuk melebarkan idenya dengan membuka jasa pengangkutan sampah, sembari mengatur strategi dan mencoba menawarkan ke masyarakat tentang jasanya.

Beruntungnya, awal Juli 2020, Dani mulai tancap gas motor matiknya menyusuri rumah klien angkutan sampah pertamanya. Dia menyulap motor yang digunakannya saban hari itu menjadi kendaraan pengangkut sampah.

Jasa angkutan sampah Grobag dibagi menjadi empat wilayah di Kota Palu. Jadwal mengangkut sampah diterapkannya mulai pukul 17.00 hingga larut malam setiap harinya. Penentuan waktu itu dikatakan Dani menyesuaikan waktu pengangkutan sampah di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) oleh truk sampah milik Dinas Lingkungan Hidup Kota Palu mulai pukul 06.00-17.00 wita.

“Aturan (jam) itu ditetapkan DLH. Dan seharusnya siapapun tidak boleh buang sampah selain jam 6 sore hingga 6 subuh karena ada dendanya. Makanya kami mengangkut sampah mulai jam 6 sore setiap hari,” tutur lelaki berusia 25 tahun itu.

“Modal awal saya merintis jasa angkutan barang ini hanya Rp50 ribu, Rp30 ribu beli kantong sampah, 20 ribu pakai beli bensin,” Dani tersenyum menceritakan momen itu.

Saat ini, klien jasa angkutan sampah Grobag sekitar 20 orang dengan upah jasa yang harus dibayar kliennya seharga Rp50 ribu. Dani memberi tenggat waktu hingga tanggal 3 tiap bulan berjalan untuk pembayarannya.

Dani hingga saat ini  masih dibantu satu orang lainnya sebagai kurir pengangkut sampah, yang satu sampai dua hari Dani harus merogok kantong pribadi sebesar Rp20 ribu guna menunjang kurirnya. Rp20 ribu itu dikatakan Dani di luar gaji kurirnya yang mengikuti omzet bulanan Grobag.

“Setiap manusia menghasilkan sampah, dan tantangan terbesarnya adalah tindakan selanjutnya menyikapi sampah itu sendiri”

Dani mengungkapkan  edukasi paling sederhana soal sampah kepada siapapun adalah cara membuang sampah harus terkemas dalam kantongan dan pemilahan antara sampah basah dan kering. Dilanjutkan dengan pengelolaan sampah yang tepat.

“Memiliki Bank Sampah Mandiri guna mendaur ulang limbah sampah jadi target akhir misi saya,” katanya.

Reporter: Faiz
Editor: Yusuf Bj

Ayo tulis komentar cerdas