Home Artikel / Opini

Menteri Jujur

12

PENDIDIKANNYA tinggi. Alumni luar negeri. Ilmuwan yang disegani. Berintegritas lantaran jujur. Untuk mengamalkan ilmu dan kejujurannya itu dia tak memilih dunia akademisi untuk pengabdiannya, tetapi pilihannya jatuh pada partai politik. Pertimbangannya, banyak rakyat merasakan kelebihannya bila dia berada pada posisi kekuasaan. Partai politik itulah yang dapat mengantarkannya ke kekuasaan.

Benar saja, saat dia dipilih oleh presiden menjadi seorang pembantunya–lebih keren menterinya–dia tampil bertanggung jawab. Posisi menteri yang berhubungan rakyat banyak itu memang menjadi impiannya. Dengan banyaknya rakyat lapisan bawah yang akan ditemuinya, tentu ilmu dan karakter kejujurannya lebih bermanfaat dan tepat sasaran.

Begitulah perjalanan awal sang menteri jujur. Karena tiap hari memikirkan nasib rakyat yang berada dalam kekuasaan kementeriannya, dia pun mendapat pujian, bukan hanya dari rakyat, tetapi juga dari atasan langsungnya, Bapak Presiden. Tentu saja presiden selalu menyunggingkan senyum saat dia berjumpa dengan pembantunya satu ini. Langkah-langkah kedekatannya dengan rakyat yang didasari karakternya yang jujur dan ikhlas itu, presiden merasa visi kepemimpinannya berjalan mulus sesuai dengan cita-citanya. Tak mengherankan, bila menteri jujur itu datang ke istana, biasanya presiden yang duluan menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Tidak hanya sampai di situ, tetapi presiden menepuk-nepuk pundaknya dengan lembut. Tanpa kata-kata. Hanya kuluman senyum.

Didasari kejujurannya itu sang menteri tak segan menegur langsung gubernur bila merasa program kerakyatannya dihalangi.

“Jangan coba-coba menghalangi program saya untuk kesejahteraan rakyat. Semua untuk rakyat, bukan untuk pribadi saya. Catat itu.” Begitulah gaya sang menteri di depan wartawan. Dapat dibayangkan, esok harinya media ramai memberitakan ucapan menteri itu.

Gelar barunya sebagai menteri jujur mendapat pengesahan dari lembaga riset yang diduga dekat dengan kekuasaan. Sang periset mengumumkan lewat pers: dalam setahun kinerja sang pembantu dinilai sebagai menteri terbaik dalam kabinet ini. “Gelar ‘Menteri Jujur’ itu memang wajar melekat pada dirinya. Dia sosok bersih dari korupsi, dan anti korupsi,” kata periset itu dengan wajah tanpa senyum.

Tak heranlah, menteri jujur itu pernah diundang ke studio televisi swasta terkenal untuk diwawancarai.

“Bapak hebat, bergelar menteri jujur. Apa komentarnya?” tanya presenter.

“Biasa saja. Semua saya lakukan didasari keikhlasan untuk kepentingan rakyat,” jawab sang menteri.

“Bagaimana kiatnya agar integritas Bapak dapat ditularkan ke banyak pejabat agar tidak melakukan perbuatan amoral, seperti korupsi?”

“Sederhana saja. Seharusnya mereka tidak korupsi. Karena sekali saja korupsi, maka yang menanggung malu bukan hanya sang pejabat, tetapi istri dan anak-anaknya akan menanggung penderitaan batin seumur hidupnya.”


Hanya sekira tiga bulan setelah lembaga riset dan hadirnya di studio televisi menyampaikan kiat anti korupsi, menteri jujur itu dijemput di rumah jabatannya oleh sejumlah petugas. Bukan diantar ke istana untuk menghadap ke presiden, tetapi menghadap ke penyidik untuk mempertanggungjawabkan perbuatan korupsinya milyaran rupiah. Di depan pers, dengan tangan terborgol, sang menteri memilih bungkam!

“Pak Menteri, bagaimana kabarnya istri dan anak-anaknya?” Seorang wartawan bertanya. Mendengar pertanyaan itu, sejumlah wartawan lainnya yang hadir tertawa terbahak. (#)

Ayo tulis komentar cerdas