Home Sulteng

Sulteng Juga Kekurangan Stok Kedelai

23
Trie Iriany Lamakampali. (Foto: Ist)

Palu, Metrosulawesi.id – Kedelai, salah satu bahan kebutuhan pokok tempe dan tahu, tengah langka secara nasional. Kepala Dinas Hortikultura dan Tanaman Pangan Provinsi Sulawesi Tengah, Trie Iriany Lamakampali, mengakui Sulteng juga masih kekurangan stok kedelai.

“Bicara kedelai memang persoalan nasional karena selama ini ketergantungan negara kita lebih banyak impor. Kalaupun ada produksi di Sulawesi Tengah, tetapi antara kebutuhan dan ketersediaan stok tidak seimbang. Artinya, masih lebih besar kebutuhan dari ketersediaannya,” ungkap Trie kepada Metrosulawesi, Rabu, 6 Januari 2021.

Trie membeberkan salah satu kendala yang dihadapi belum memadainya stok terkait ketersediaan benih kedelai. Hal ini menjadi yang utama harus disiapkan untuk bisa menggenjot produksi kedelai.

Kendala lainnya yaitu sebagian besar petani terkesan takut untuk menanam kedelai karena terkait harga jual saat panen. Diakui, dalam beberapa musim, petani terpaksa harus merelakan hasil panen kedelai dijual dengan harga murah karena banyaknya stok impor.

“Karena adanya impor dan dengan harga yang murah, tentu hasil produksi petani kita akan terganggu harganya. Ini perlu menjadi perhatian pemerintah sekalipun ada impor harus diperhatikan hasil produksi petani,” ujar Trie.

Dia mengharapkan momentum melambungnya harga kedelai seperti saat ini bisa memacu semangat petani untuk kembali menanam kedelai. Pemerintah disebut tetap akan memberikan bantuan dalam produksi kedelai.

Bantuan pemerintah yang ditetapkan terdiri  sarana produksi meliputi benih kedelai bersertifikat, pupuk hayati, rhizobium dan herbisida yang diberikan kepada kelompok tani/Gapoktan.

Untuk Sulteng, beberapa kabupaten dikatakan menjadi lumbung penghasil kedelai seperti Banggai, Parigi Moutong, dan Poso. Untuk tahun 2019, realisasi tanam kedelai di Sulteng mencapai 3.633 hektare dengan rata-rata hasil produksi 1,2 ton per hektare.

“Ke depan, ditarget produksi kedelai Sulawesi Tengah paling tidak harus 7.523 hektare dengan kontribusi dari Oktober, November, Desember 2020 sampai September tahun berjalan (2021),” ucap Trie.

Ia mengaku tetap optimis karena dari target tersebut telah terealisasi produksi mencapai 2.294 hektare dalam tiga bulan terakhir pada 2020 lalu. Optimisme dikuatkan dengan adanya program Upsus Pajale (padi, jagung, dan kedelai) yang dibiayai melalui APBN.

“Berkat Upsus Pajale, Sulawesi Tengah pernah cukup lumayan produksi kedelai di tahun 2018 saat becana gempa. Intinya sekarang tinggal dari petani kita, ada atau tidak produksi/kegiatan,” pungkasnya.

Reporter: Michael Simanjuntak
Editor: Yusuf Bj

Ayo tulis komentar cerdas