Home Pendidikan

Pengamat: Waktu Pembelajaran Daring Perlu Diubah

81
Dr Asep Mahpudz. (Foto: Metrosulawesi/ Moh Fadel)

Palu, Metrosulawesi.id – Kondisi pandemi Covid-19 menyebabkan perubahan dratis di dalam proses pendidikan, dan itu berdampak sekali terhadap efektifitas dari proses pembelajaran itu sendiri. Demikian dikatakan Pengamat Pendidikan Provinsi Sulawesi Tengah, Dr Asep Mahpudz, melalui ponselnya, Rabu, 6 Januari 2021.

Olehnya itu kata Asep, di 2021 ada tiga catatan yang harus diperhatikan untuk lebih memperbaiki proses pembelajaran secara daring. 

“Yang pertama dari sistemnya atau mekanisme pembelajaran daring, ternyata sekarang sekolah masih terjebak di dalam proses pencapaian tujuan pembelajaran dengan sebanyak-banyaknya materi. Seharusnya dalam proses pembelajaran daring waktunya itu tidak harus sama dengan pembelajaran tatap muka,” ungkapnya.

Misalnya kata Asep, waktunya pembelajaran tatap muka kalau di jenjang SD 2×35 menit, kalau bisa di daring ini jangan waktunya sampai seperti itu, kalau di SD 30 menit saja itu sudah sangat cukup untuk satu mata pelajaran.

“Begitupun di SMP waktunya 2×40 menit, jika ini dilaksanakan secara daring pasti semuanya jengkel dan capek dari sisi waktu,” ujarnya.

Catatan kedua dari sisi materi kata Asep, semua materi mau disampaikan oleh guru baik itu lewat Zoom maupun aplikasi lainnya, hal ini harus diperbaiki. Bukan materi yang harus banyak tetapi materi yang esensial atau materi pokok.

“Sebaiknya meteri di semester ini yang diberikan kepada siswa adalah materi yang pokok-pokok saja. Misalnya dengan tata konsep, atau mind mapping, yang jelas materi-materi pokok yang disampaikan sehingga proses diskusinya berjalan, sehingga keaktifan belajar akan terjadi kalau materi yang disampaikan oleh Guru menantang dan siswanya merespon dengan positif,” katanya.

Catatan ketiga, kata Asep, dari sisi metode pembelajarannya, biasanya selama ini guru menyampaikan pembelajaran lewat Zoom atau aplikasi lainnya, dan faktornya itu karena jaringan internet terkendala.

“Contohnya gurunya menjelaskan terus karena jaringan bagus sementara siswanya tidak pantau karena jaringannya belum tentu bagus, akhirnya misalkan dari 20 orang yang menyimak tetapi ternyata hanya lima saja yang dapat mendengar dengan jelas, selebihnya terganggu akhirnya tidak efektif penyampaiannya,” jelasnya.

Olehnya itu Asep menyarankan faktor jaringan bantuan kuota memang harus dilihat konteksnya, karena tidak semua siswa memiliki jaringan bagus, meskipun siswa itu dapat bantuan kuota dari pemerintah, tetapi ternyata tidak semua termanfaatkan dengan optimal.

“Dari tiga faktor itu maka saya menyarankan waktunya itu perlu diatur, karena kondisi di Sulteng banyak daerah-daerah blank spot, jadi faktor ini harus diperhatikan dari waktu pelaksanaan pembelajarannya,” ujarnya.

Asep mengatakan, jika sekolah mengatur waktu pembelajaran daring pagi maka harus memastikan signalnya bagus.

Reporter: Moh. Fadel
Editor: Yusuf Bj

1 COMMENT

  1. Mata pelajaranya saja dikurangi..ndk usah waktunya pak dosen, otak tidak dapat mencerna mp dalam waktu singkat, otak kan berproses dalam menangkap materi.

Ayo tulis komentar cerdas