Home Ekonomi

NTNP Sulteng Naik Nilai Tukar 1,87%

18
Seorang nelayan di Kelurahan Pantoloan Boya, Kota Palu sedang membersihkan alat tangkapnya usai melaut. (Foto: Metrosulawesi/ Pataruddin)

Palu, Metrosulawesi.id – Selama Desember 2020, subsektor perikanan mengalami kenaikan indeks nilai tukar sebesar 1,87 persen atau berubah dari 97,66 pada November 2020 menjadi 99,49.

“Kondisi ini disebabkan oleh peningkatan indeks harga yang diterima petani (It) sebesar 2,08 persen lebih besar dari peningkatan indeks harga yang dibayarkan petani (Ib) sebesar 0,20 persen,” kata Kepala BPS Sulteng, Dumangar Hutauruk dalam rilis secara virtual, Senin, 4 Januari 2021.

Menurutnya, pada kelompok perikanan tangkap (NTN) juga terjadi peningkatan nilai tukar petani sebesar 2,12 persen yakni dari 97,40 pada November 2020 menjadi 99,47 pada Desember 2020.

Sementara peningkatan nilai tukar pada subkelompok perikanan tangkap disebabkan oleh indeks harga yang diterima petani (It) naik sebesar 2,34 persen lebih besar dari peningkatan indeks harga yang dibayar petani sebesar 0,21 persen.

Dumangar menyampaikan bahwa pada kelompok perikanan budidaya (NTPi) mengalami penurunan indeks nilai tukar sebesar 0,97 persen yakni dari 100,72 pada November 2020 menjadi 99,75 pada Desember 2020.

“Hal ini karena turunnya It sebesar 0,91 persen sementara indeks harga yang dibayar petani naik sebesar 0,05 persen. Penurunan It pada kelompok perikanan budidaya disebabkan oleh turunnya indeks harga pada subkelompok budidaya air laut sebesar 2,08 persen,” ucapnya.

Sedangkan, ia mengungkapkan untuk subkelompok budidaya air tawar dan budidaya air payau mengalami kenaikan indeks masing-masing sebesar 1,20 persen dan 2,07 persen.

“Secara keseluruhan, Ib subsektor perikanan naik sebesar 0,20 persen yang berasal dari meningkatnya indeks harga konsumsi rumahtangga sebesar 0,13 persen serta indeks biaya produksi dan penambahan barang modal naik sebesar 0,32 persen,” terangnya.

Begitu pula dengan kelompok perikanan tangkap (NTN) terjadi peningkatan indeks harga konsumsi rumah tangga dan indeks biaya produksi dan penambahan barang modal masing-masing sebesar 0,14 persen dan 0,34 persen.

“Khususnya kelompok perikanan budidaya (NTPi) indeks harga yang dibayarkan meningkat sebesar 0,05 persen yang disebabkan oleh kenaikan indeks harga untuk konsumsi rumah tangga sebesar 0,01 persen diikuti oleh peningkatan indeks biaya produksi dan penambahan barang modal sebesar 0,13 persen,” tuturnya.

Reporter: Fikri Alihana
Editor: Pataruddin

Ayo tulis komentar cerdas