Home Palu

Wali Kota Baru Semoga Ada Perubahan

23
USAI MEMULUNG - Hendro (kanan) saat berfoto bersama Ilman di teras rumahnya usai memulung. (Foto: Metrosulawesi/ Yusuf Bj)
  • Curahan Asa Pemulung TPA Kawatuna pada Pemimpin Baru

Kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Kelurahan Kawatuna, Palu Timur, memberikan kehidupan tersendiri bagi puluhan pemulung. Setiap hari mereka berjibaku, mengais sampah yang baru saja diturunkan dari truk pengangkut. Di antara puluhan ton sampah itu, ada sampah yang bisa ditukar menjadi duit.

Laporan: Yusuf Bj

TUMPUKAN sampah menjadi pemandangan keseharian pasangan suami istri, Hendro dan Ima yang menghuni sebuah gubuk sederhana di kawasan TPA Kawatuna. Bagi pasangan yang memiliki dua orang anak balita ini, sampah berarti penopang ekonomi keluarga.

“Saya dengan suami mulai kerja pagi jam setengah 7. Jam itu kami sudah mulai memulung sampah plastic seperti botol plastik, kaleng cat, jerigen oli, gelas plastik. Biasanya sampai jam 9 kami istirahat makan, urus anak. Alhamdulilllah Pak, memulung ini bisa menghidupi keseharian saya dan suami. Saya sudah 16 tahun tinggal di sini Pak,” kata Ima saat ditemui Metrosulawesi di rumahnya, Selasa, 29 Desember 2020.

Layaknya bendahara, Ima kerap kali mengurus penjualan sampah plastik yang dilakukan para pemulung di kawasan itu kepada pihak ketiga. Saat ditemui media ini, Ima sedang melakukan negosiasi dengan salah seorang pengepul sampak plastik berupa jerigen oli bekas. Dibantu oleh suaminya, kurang lebih 10 karung jerigen oli bekas dinaikkan di atas mobil open cap milik pengepul usai terlebih dulu ditimbang.

“Semua penjualan saya catat pada buku album. Setelah itu hak pemulung lainnya saya berikan. Karena ada juga tadi sampah mereka yang ditimbang,” katanya.

Sementara itu, Hendro yang mengaku sudah memulung sampah sejak 2013 ini mengatakan memulung sampah plastik, kemudian memisahkan dan membersihkannya adalah pekerjaan yang jika ditekuni bisa memberikan tambahan penghasilan yang cukup lumayan.

“Tadi yang dibeli oleh pengepul itu adalah sampah yang telah kami kumpul selama tiga minggu, itu sudah termasuk membersihkannya, karena pengepul menerima sampah plastik yang bersih, kalau bersih harganya cukup lumayan, sekitar Rp2.600 per kilo, itu kami jual ke pengepul swasta ya,” ungkapnya.

Hendro pun berharap pemulung di TPA Kawatuna bisa diberdayakan oleh pemerintah setempat.

“Kami di sini ingin diberdayakan, misalnya kami diberi pendampingan cara mengelolah sampah plastik yang baik itu seperti apa, tapi hingga hari ini belum pernah ada. Kemarin memang ada pengelolaan sampah disini, tapi sudah rusak, tidak lama bertahan,” kata pria asal Surabaya ini.

“Sampah plastik tidak pernah habis di sini Pak, makanya saya bilang cukup lumayan penghasilannya jika dikelola dengan baik. Pemerintah cuma sering janjikan kepada kami ini dan itu, tapi tidak ada realisasi,” ungkapnya
Hal senada disampaikan Ilman, tetangga Hendro yang juga berprofesi sebagai pemulung di TPA Kawatuna.

“Saya bersyukur Pak ada TPA ini, kalau cuma mau cari uang Rp20.000 sehari bisa,bahkan bisa lebih. Dulu waktu saya jadi tukang bangunan susah cari uang begitu. Memang sekali terima uang waktu itu banyak, tapi cepat juga habis, baru kerjanya tidak tiap hari,” kata Ilman.

Tak hanya Hendro, Ilman pun ingin pemerintah setempat memberikan perhatian terhadap pemulung di TPA Kawatuna.

“Harapan kami ada bantuanlah, seperti bantuan ternak kambing atau pembangunan pabrik pengelolaan sampah di sini. Kalau ada pabrik disini, pasti sampah plastik yang kami kumpul harganya lebih bagus. Disini cocok ternak kambing, karena banyak sampah sayur seperti kangkung yang dibuang disini, gampang kambing cari makan disini,” kata Ilman yang merupakan penduduk asli Kawatuna.

“Alhamdulillah kami mendapat izin dari pemilik tanah untuk menempati kawasan ini, Alhamdulillah kerja di sini cukup buat makan keluarga sehari-hari. Ini sekarang sudah Wali Kota baru, Gubernur baru semoga ada perubahan bagi kami pemulung TPA Kawatuna,” katanya.

Ayo tulis komentar cerdas