Home Palu

Rentan, PTM Diminta Dikaji Kembali

26
dr. Husaema. (Foto: Metrosulawesi/ Fikri Alihana)
  • 2021, Untad Masih Tetap Kuliah Daring

Palu, Metrosulawesi.id – Kasus positif Covid-19 di Kota Palu terus bertambah. Seiring dengan itu, rencana pemerintah untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM) pada Januari ini diminta untuk dikaji kembali.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Palu, dr Husaema berpendapat, PTM perlu dilakukan peninjauan kembali, jika perlu ditunda dulu pelaksanaannya.

“Apalagi saat ini kota Palu termasuk zona merah, sehingga perlu ditinjau kembali PTM tersebut,” katanya saat dihubungi Metrosulawesi, Senin, 28 Desember 2020.

Saat ini katanya, sudah terjadi penularan Covid melalui transmisi lokal sangat tinggi.

“Kita tidak ketahui lagi siapa yang positif di sekitar kita. Bahkan dari persentase yang terjadi transmisi lokal itu sebanyak 187 kasus, sementara dari pelaku perjalanan hanya 23. Artinya yang terkonfirmasi positif tanpa diketahui sumbernya dari mana, dan tidak ada kontak serta tidak ada riwayat pelaku perjalanan, sehingga sangat rentan untuk anak-anak masuk sekolah dalam kondisi transmisi local saat ini,” jelas Husaema.

Grafik Kasus positif Covid di Kota Palu bukan menurun, melainkan meningkat, sehingga kemungkinan di Januari kasusnya lebih dahsyat lagi.

“Jika misalnya terjadi penurunan mungkin PTM bisa dilaksanakan, tetapi saat ini justru semakin meningkat, sehingga pembelajaran tatap muka tidak memungkinkan untuk dilaksanakan,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulteng, Irwan Lahace mengungkapkan, sesuai instruksi gubernur Sulteng secara lisan dalam pertemuan dengan forkopimda dan beberapa elemen masyarakat belum lama ini, bahwa surat edaran tentang pembelajaran tatap muka yang dikeluarkannya pada 1 Desember 2020 bisa dicabut kembali apabila penularan pandemi covid-19 meningkat.

“Sekarang kita ketahui bersama ternyata penyebaran Covid-19 bukan menurun, melainkan trendnya meningkat sesuai informasi grafis yang dirilis oleh tim gugus tugas provinsi Sulteng. Olehnya saya besok (hari ini-red) akan melaporkan kembali perkembangan Covid-19 kepada bapak gubernur,” kata Irwan.

Sebab kata Irwan, jika merujuk pada SKB empat menteri penentuan di buka atau tidaknya sekolah itu kewenanganya diserahkan ke pemerintah daerah dalam hal ini Gubernur dan Bupati/Walikota.

“Jadi secara lisan pak gubernur sudah menginstruksikan kepada saya, apabila kasusnya meningkat beliau akan menunda pembelajaran tatap muka di 2021,” ungkapnya.

Prof Dr Ir Mahfudz MP. (Foto: Dok)

Masih terkait dengan pendidikan, Universitas Tadulako (Untad) akan tetap memberlakukan kuliah daring atau online pada 2021 mendatang.

“Kita harus kuliah daring mengingat kondisi pandemi yang ada di Sulawesi Tengah dan sekitarnya masih sangat kontan,” ungkap Rektor Untad, Prof Dr Ir Mahfudz MP, di Palu, Senin, 28 Desember 2020.

Prof Mahfudz mengakui untuk pelaksanaan kuliah tatap muka belum memungkinkan karena laporan pasien terpapar covid masih terus melonjak. Keputusan tetap memberlakukan kuliah daring akan dikeluarkan dalam waktu dekat ini.

Rektor bersama jajarannya disebut akan rapat untuk membahas proses perkuliahan untuk tahun 2021. Akan ditetapkan keputusan terbaru merespon edaran yang dikeluarkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) terkait dibolehkannya pembelajaran tatap muka (PTM) mulai 2021.

Diketahui, Mendikbud Nadiem Makarim mengatakan bagi yang melaksanakan PTM harus dilakukan dengan syarat yang ketat. Dia menuturkan bahwa pembelajaran tatap muka yang akan dilakukan pada Januari 2021 harus memperhatikan beberapa hal.

Dalam penyelenggaraannya, perguruan tinggi harus tetap memprioritaskan kesehatan dan keselamatan warga kampus yaitu mahasiswa, dosen, tenaga pendidik serta masyarakat sekitar kampus. Aturan pelaksanaan kuliah tatap muka Tak hanya pihak perguruan tinggi yang diwajibkan untuk memenuhi protokol kesehatan, namun sivitas akademika termasuk mahasiswa dan dosen juga harus memenuhi sejumlah syarat.

Dijelaskan, sivitas akademika dan tenaga kependidikan yang melakukan aktivitas di kampus harus dalam keadaan sehat, dapat mengelola dan mengontrol bagi yang memiliki penyakit penyerta (comorbid). Khusus mahasiswa yang berusia di bawah 21 tahun, harus mendapatkan persetujuan dari orangtua atau pihak yang menanggungnya. Bagi mahasiswa yang tidak bersedia melakukan pembelajaran tatap muka dapat memilih pembelajaran secara daring.

Mahasiswa dari luar daerah atau luar negeri wajib memastikan diri dalam keadaan sehat, melakukan karantina mandiri selama 14 hari atau melakukan tes usap atau sesuai peraturan/protokol yang berlaku di daerah.

Reporter: Michael Simanjuntak, Moh. Fadel
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas