Home Ekonomi

Nurdin, Kakek 72 Tahun Tetap Setia Sebagai Penjahit Sepatu

26
DEMO EKONOMI - Nurdin, kakek 72 tahun yang terus bekerja demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. (Foto: Metrosulawesi/ Fikri Alihana)
  • Sehari, Untung-untungan Dapat Rp50 Ribu

Nurdin, lelaki tua ini masih tetap menekuki profesinya sebagai penjahit sepatu. Usianya yang sudah menginjak kepala tujuh tak menghalangi dia untuk bekerja. Jari jemarinya masih lincah memainkan jarum. Menusukkannya ke dalam sepatu kemudian ditarik lagi. Begitu seterusnya.

Laporan: Fikri Alihana

PAGI itu di tengah hiruk pikuk suara bising kendaraan yang melintas di Jalan Igusti Ngurah Rai, Kota Palu. Terlihat seorang kakek dengan penuh semangat bekerja sebagai penjahit sepatu.

Bisa dibilang demi mengumpulkan pundi-pundi uang, usia tak menjadi penghalang dalam mengais rezeki. Hal inilah ditunjukkan oleh Nurdin di usianya yang tidak muda lagi.

Bagi sebagian orang usia senja memang merupakan momen untuk duduk santai di rumah sambil menunggu uang pensiunan. Namun, tidak untuk Nurdin yang terus menjalani kehidupan ini.

Ketika dijumpai Metrosulawesi di lapaknya, Selasa 22 Desember 2020 lalu, Ia menuturkan sudah menjalani profesi itu sejak sekitar lima tahun lalu.

Setiap hari Nurdin memperoleh hasil dari menjahit sepatu dan sendal hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

“Walaupun sedikit namanya juga usaha seperti ini harus dicukupkan. Dari pada diam diri di rumah mending kita kerja,” ucapnya sambil tersenyum.

Apalagi, lanjut Nurdin, ditambah dengan adanya kondisi pandemi Covid-19 membuat omset yang diraupnya semakin menurun. Ia mengungkapkan pelanggan yang datang pun saat ini sangat sepi.

“Tidak menentu kalau penghasilan per hari, ya untung-untungan bisa dapat sampai Rp50 ribu. Kadang biasa hanya Rp30 ribu. Tergantung yang datang bawa sepatu dan sendal,” tuturnya.

Raut wajah lelah tampak jelas di muka Nurdin, namun ia tetap tekun mengerjakan jahitan sepatu dan sendal milik pelanggan. Bermodalkan jarum dan benang sebagai alat bekerja, ia dapat menaklukkan perputaran roda kehidupan ekonomi.

“Kalau untuk harga menjahit sepasang sepatu dan sendal Rp15 sampai Rp20 ribu per pasang,” katanya.

Sebelum bekerja sebagai penjahit sepatu, Nurdin adalah seorang petani di Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala.

“Tapi karena umur sudah tidak mampu lagi, terpaksa pekerjaan ini yang saya ambil,” jelas Nurdin.

Biasanya, ia mengelar lapak setiap hari mulai pukul 09.00 Wita hingga menjelang petang atau sebelum adzan magrib berkumandang. Nurdin berlindung dari teriknya matahari siang di sebuah lapak yang berukuran tidak terlalu besar.

“Saya juga adalah salah satu korban bencana di wilayah Perumnas Balaroa. yang sekarang bersama istri masih mendiami Hunian sementara (Huntara) yang ada di Kelurahan Tavanjuka,” ungkapnya.

Sosok pria tua yang tangguh inilah yang harus menjadi sumber inspirasi. Sebab, walaupun sudah tua renta masih mau berusaha semampunya untuk menghidupi keluarganya tanpa mengharapkan belas kasih dari orang lain. (**)

Ayo tulis komentar cerdas