Home Ekonomi

BKPM: Sulteng Tujuan Investasi Terbesar Ke-3

24
KUNJUNGAN KE IMIP - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia melihat maket pengembangan Kawasan Industri PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), saat melakukan kunjungan kerja di kawasan itu, Rabu 15 Juli 2020 lalu. (Foto: Humas IMIP)
  • Realisasi Investasi Sulteng Rp21,95 Triliun

Palu, Metrosulawesi.id – Menurut Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Sulawesi Tengah Ir Christina Shandra Tobondo MT, realisasi investasi Provinsi Sulawesi Tengah secara kumulatif Januari – September 2020 sudah di angka Rp21,95 triliun.

“Realisasi investasi sampai triwulan III Tahun 2020 yaitu kumulatif realisasi periode Januari-September 2020 yang mencapai Rp21,95 triliun, meningkat sebesar 18,84 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada Tahun 2019 yang hanya mencapai Rp18,47 triliun,” ungkap Shandra baru-baru ini.

Capaian realisasi investasi periode ini berhasil menyerap tenaga kerja Indonesia sebanyak 7.085 orang.

Capaian realisasi investasi Januari – September 2020 menyerap penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp4,19 triliun. Sementara realisasi penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp17,76 triliun.

Secara nasional realisasi investasi Sulawesi Tengah masih berada di peringkat ke-11, posisi tersebut sama seperti tahun sebelumnya di periode yang sama.

Berdasarkan lokasi proyek dengan nilai realisasi terbesar (lima besar) yaitu Kabupaten Morowali sebesar Rp15,76 triliun, Kabupaten Morowali Utara Rp3,28 triliun, Kabupaten Poso Rp 2,34 triliun, Kota Palu Rp268,27 miliar dan Kabupaten Banggai Rp107,0 miliar.

Sementara lima negara teratas dengan realisasi investasi terbesar yakni RR Tiongkok sebesar Rp9,31 triliun (52,45 persen), Singapura Rp6,37 triliun (35,89 persen), Hongkong RRT Rp1,85 triliun (10,41 persen), Taiwan Rp75,01 miliar (0,42 persen) dan Inggris Rp33,64 miliar (0,19 persen).

“Ada enam sektor usaha dengan nilai realisasi terbesar. Tapi yang paling besar yakni industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya. Nilainya mencapai Rp15,74 triliun (sekitar 71,1 persen),” ungkap dia.

Selain itu, Provinsi Sulawesi Tengah masih memiliki stock investasi yaitu PT Huayue Nickel Cobalt yang bergerak di sektor usaha industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya dengan kapasitas 60.000 ton per tahun yang rencananya selesai kontruksi pada 2021.

“PT Huayue Nickel Cobalt pada tahun 2021 masuk pada tahap comisioning dan tahun 2022 masuk dalam tahap komersil,” katanya.

Selain itu ada PT QMB Energy Materials yang bergerak di sektor usaha industri logam dasar, barang logam, Bukan mesin dan peralatannya dengan kapasitas produksi 50.000 ton per tahun.

“Perusahaan tersebut adalah penghasil bahan baku baterai dan rencananya di tahun 2022 selesai konstruksi dan di pertengahan Tahun 2023 masuk pada tahap comisioning serta di tahun 2024 masuk pada tahap komersil,” jelasnya.

Kedua Perusahaan tersebut berlokasi di PT IMIP Kabupaten Morowali Provinsi Sulawesi Tengah. Di Kabupaten Morowali Utara terdapat juga kawasan industri yaitu PT Stardust Estate Investment yang merupakan perusahaan bergerak di bidang industri pertambangan yang sedang melakukan kegiatan prosesing pembagunan mega smelter tahap awal berkapasitas 24 tungku.

“Perusahaan ini dengan total target 60 tungku itu dan selebihnya akan diprogres pada tahap lanjutan, pada areal yang sama. Pada objek Kawasan Industri tersebut, Smelter yang dikerjakan oleh Pihak PT SEI itu, yakni PT Gunbuster Nickel Industry (GNI), Pada awal Tahun 2023 selesai dalam tahap konstruksi dan di tahun 2023 juga masuk dalam tahap comisioning serta di tahun 2024 dalam tahap komersil,” dia menambahkan.

Di dalam PT SEI terdapat juga tenant selain PT GNI yaitu PT Nadesiko Nickel Industri yang masih dalam tahap konstruksi.

Selain kedua kawasan industri tersebut di atas, terdapat juga kawasan industri lainnya, yaitu PT Transon Bumindo Resources terletak di Kabupaten Morowali yang saat ini telah memiliki 4 tenant didalamnya.

Kemudian ada juga PT Anugerah Tambang Industri yang terletak di Kabupaten Morowali dan PT 69 Kawasan Industri terletak di Kabupaten Morowali Utara.

“Selain kawasan industri yang terletak di Kabupaten Morowali dan Morowali Utara, di Kota Palu yaitu di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Palu terdapat juga perusahaan yang bergerak di Sektor Usaha industri logam dasar, barang logam, Bukan mesin dan peralatannya. Salah satunya yaitu PT Trinitan Metals and Minerals (TMM) merupakan perusahaan pabrik pengolahan dan pemurnian mineral (smelter) berbasis hidrometalurgi dengan kapasitas hingga 5.000 ton nikel murni per tahun”.

“Dalam pengoperasiannya, yang merupakan solusi bagi pengolahan bijih nikel laterit kadar rendah di Indonesia, dengan nilai investasi yang efisien, tapi mampu menghasilkan nikel 99,96 persen, serta nikel sulfat dan kobalt sulfat battery grade,” Shandra melengkapi.

PT Trinitan Metals and Minerals (TMM) melakukan tahap konstruksi sampai tahun 2021 dan juga comisioning di tahun 2021 tersebut. Pada tahun 2022 PT Trinitan Metals and Minerals (TMM) masuk dalam tahap komersil.

Sementara untuk terget investasi 2021 pihaknya masih menunggu dari Badan Koordinasi Penanaman Modal RI.

Terbesar Ke-3

Terpisah, Badan Koordinasi Penanaman Modal Republik Indonesia (BKPM-RI) menyambut baik kesiapan PT Perusahaan Listrik Negara memasok listrik kegiatan investasi dan industri di wilayah Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Gorontalo (Suluttenggo).

Saat ini, PLN memiliki cadangan lebih dari 100 MW.

“Eksistingnya ada 900 MW on grid, cadangan lebih dari 100 MW,” ujar Anggota Komite Investasi BKPM, Rizal Calvary Marimbo di Manado, Sulut, usai melakukan pertemuan dengan General Manajer PLN Suluttenggo Leo Basuki dan jajarannya baru-baru ini.

Rizal mengatakan, BKPM dan PLN Suluttenggo harus mengantisipasi potensi lonjakan permintaan listrik di wilayah ini ke depan sebagai dampak dari pesatnya pertumbuhan investasi.

“Tadi saya diskusi dengan Pak GM dan ada juga bupati terpilih Morowali Utara dokter Delis, bahwa kita sepakat harus antisipasi lonjakan investasi, utamanya di wilayah Sulawesi Tengah, seperti Morowali Utara,” ujar Rizal.

Rizal mengatakan, pertumbuhan investasi di Sulteng belakangan ini sangat pesat. Hasilnya, Sulteng kini menjadi daerah tujuan investasi terbesar ke-3 di Indonesia.

“Sulteng dan Sulut ini kan wilayah seksi semua untuk investasi ke depan. Konektivitas di Sulut juga sudah sangat bagus dengan adanya jalan tol Manado-Bitung. Ini akan memacu investasi ke depan. Butuh listrik banyak,” ujar Rizal.

Rizal mencontohkan, pihaknya mendapat penjelasan dari GM Sulutenggo, saat ini PLN tengah merampungkan pembangunan jaringan distribusi tegangan tinggi dari Poso ke Morut, guna mengantisipasi lonjakan permintaan listrik industri maupun rumah tangga di wilayah tersebut.

“Pertengahan 2021, akan selesai. Industri di sana tak usah takut, sebab keandalan listrik akan tersedia,” ucap dia.

Rizal mengatakan, pemerintah saat ini mendorong utilisasi daya listrik PT Perusahaan Listrik Negara (Persero). Sebab itu, investor dan BUMN dihimbau berkoordinasi dengan PLN dalam pemenuhan daya listrik. Ke depan, ujar Rizal, pihaknya akan saling bertukar informasi terkait rencana dan kegiatan investasi di wilayah ini dengan PLN.

“Yang menarik kita ngobrol dengan Pak GM, selama ini PLN belum punya data-data terkait rencana-rencana dan kegiatan investasi di wilayah ini. Kalau kita pasok data kan, tinggal dicocokkan. Hambatan investasi terkait ketersediaan listrik bisa teratasi dengan cepat,” ucap dia.

Reporter: Tahmil Burhanuddin, Saiful Sulayapi
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas