Home Internasional

PM Johnson: Masa Sulit Akan Datang Karena Varian Baru Covid-19

VARIAN BARU - Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson menyampaikan pesan video Natal, di tengah wabah penyakit coronavirus (Covid-19) di London, Inggris, melalui video pada Kamis (24/12/2020). (Foto: Ist/ Ant/ Reuters)

London, Metrosulawesi.id – Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan masa-masa sulit akan datang karena adanya penyebaran varian baru COVID-19.

Untuk mengatasi varian baru virus corona itu, Johnson memperingatkan bahwa diperlukan pengendalian terhadap penyebaran virus itu secara cepat.

“Saya tahu bahwa ini sangat sulit selama beberapa minggu terakhir dan saya harus memberi tahu masyarakat, itu akan terus sulit, karena kecepatan penyebaran varian baru,” kata PM Inggris saat konferensi pers.

Inggris mengumumkan rekor infeksi baru COVID-19 pada Selasa (22/12) saat berjuang melawan lonjakan infeksi yang disebabkan oleh varian baru virus corona.

Menurut data resmi, tercatat 36.804 kasus baru dan 691 kematian dalam 28 hari usai dinyatakan positif, di mana keduanya meningkat tajam dibanding sehari sebelumnya.

Perdana Menteri Boris Johnson beserta penasihat ilmiah pada Sabtu (19/12) mengatakan bahwa varian virus corona, yang bisa mencapai 70 persen lebih menular, sedang mengganas di Inggris meski tidak dianggap lebih mematikan atau pun menyebabkan penyakit yang lebih serius.

Sejak itu, otoritas menerapkan langkah pembatasan sosial terpadu yang ketat di London, Inggris tenggara dan Wales. Rencana untuk melonggarkan pembatasan selama Natal di seluruh wilayah diminimalisasi secara drastis atau dibatalkan sama sekali.

Banyak negara yang menutup perbatasan mereka untuk Inggris lantaran merasa khawatir dengan galur virus corona yang bermutasi.

600 Ribu Disuntik

DISUNTIK VAKSIN – Margaret Keenan, 90, orang pertama di Inggris yang menerima vaksin Covid-19 buatan Pfizer/BioNTech di Rumah Sakit Universitas. Ia disuntik oleh suster May Parson pada awal program imunisasi terbesar dalam sejarah Inggris, di Coventry, Inggris, Selasa (8/12/2020). Inggris menjadi negara pertama di dunia yang memulai vaksinasi warganya dengan vaksin buatan Pfizer/BioNTech. (Foto: Ist/ Ant/ Reuters)

Lebih dari 600.000 orang di Inggris telah menerima dosis pertama vaksin Pfizer-BioNTech Covid-19 sejak vaksinasi dimulai di negara itu pada awal Desember, kata pemerintah Inggris, Kamis (24/12).

“Pemerintah hari ini menerbitkan angka yang menunjukkan bahwa jumlah orang yang telah menerima vaksin antara 8 Desember dan 20 Desember di Inggris adalah 616.933,” kata Departemen Kesehatan dan Perawatan Sosial melalui pernyataan.

Inggris pada awal Desember menjadi negara pertama di dunia yang meluncurkan penggunaan vaksin yang dibuat oleh Pfizer dan BioNTech.

Secara keseluruhan, negara itu telah memesan 40 juta dosis vaksin Pfizer. Menteri Kesehatan Matt Hancock mengatakan ia  berharap jutaan dosis lagi akan diterima Inggris pada akhir tahun ini.

Vaksin telah diberikan pada penghuni panti asuhan, mereka yang berusia 80 tahun ke atas, serta staf kesehatan dan perawatan sosial melalui lebih dari 500 lokasi vaksinasi, kata pemerintah.

Hancock, Rabu (23/12), mengatakan produsen obat Inggris AstraZeneca Plc menyerahkan paket data lengkap tentang vaksin Covid-19 ke regulator obat Inggris.

Kepala Eksekutif Badan Pengatur Produk Obat dan Kesehatan June Raine mengatakan kepada Reuters pada Kamis bahwa regulator memulai analisis data dan akan membuat keputusan dalam “waktu sesingkat mungkin.”

Secara terpisah, juru bicara Departemen Kesehatan mengatakan kepada Reuters bahwa beberapa anggota staf di laboratorium pengujian Milton Keynes, yang terbesar di Inggris, dinyatakan positif Covid-19.

Varian baru dari virus corona telah menyebar dengan cepat di Inggris baru-baru ini dan sebagian besar wilayah Inggris berada di bawah pembatasan Covid-19 yang paling ketat.

Mutasi yang dikenal sebagai garis keturunan B.1.1.7, disebutkan 70 persen lebih menular dan lebih mengkhawatirkan akan menjangkiti anak-anak.

Perkembangan soal mutasi itu telah menebar kekacauan di Inggris, mendorong sejumlah negara menerapkan larangan perjalanan –yang mengganggu perdagangan dengan Eropa, serta membuat negara pulau itu terancam harus mengisolasi diri. (*/an)

Ayo tulis komentar cerdas