TEKEN BERITA ACARA - Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sulawesi Tengah menandatangani berita acara rekapitulasi hasil penghitungan suara pemilihan gubernur dan wakil gubernur Sulawesi Tengah 2020, Ahad, 10 Desember 2020. (Foto: Istimewa)
  • Partisipasi di Pilgub Tak Capai Target

Palu, Metrosulawesi.id – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sulawesi Tengah menetapkan rekapitulasi hasil penghitungan suara pemilihan gubernur dan wakil gubernur Sulawesi Tengah 2020, Ahad, 10 Desember 2020.

Rapat pleno disaksikan oleh saksi pasangan calon serta diawasi oleh Bawaslu Sulawesi Tengah. Hasil penghitungan suara dari KPU kabupaten kota dijumlahkan. Hasilnya, pasangan Mohamad Hidayat Lamakarate-Bartholomeus Tandigala meraih 604.033 suara atau sekitar 40 persen. Sedangkan pasangan Rusdy Mastura-Ma’mun Amir unggul dengan 891.334 suara atau sekitar 60 persen.

Berdasarkan hasil rekapitulasi yang berlangsung sejak Jumat 18 Desember 2020 di Kantor KPU Sulawesi Tengah, pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Sulawesi Tengah, Rusdy Mastura-Ma’mun Amir menang di sembilan kabupaten/kota dan kalah perolehan suara di empat kabupaten.

Rusdy Mastura hanya kalah perolehan suara di daerah Banggai Kepulauan, Banggai Laut, Morowali Utara, dan Poso.

Berdasarkan data yang diperoleh dari KPU Sulawesi Tengah, Rusdy Mastura-Ma’mun Amir meraih 30.765 di Banggai Kepulauan. Sedangkan lawannya Mohamad Hidayat Lamakarate-Bartholomeus Tandigala meraih 31.549 atau unggul tipis yakni 784 suara. Di Banggai Laut, Cudy hanya meraih 13.898 suara, sedangkan lawannya 26.809 suara atau selisih 12.911.

Selanjutnya di Poso, Rusdy Mastura-Ma’mun Amir meraih 53.892 suara.Sedangkan lawannya Mohamad Hidayat Lamakarate-Bartholomeus Tandigala meraih 71.005 suara. Artinya selisih suara cukup jauh yakni 17.113 suara.Begitu juga di Morowali Utara, Cudy dan pasangannya hanya 29.238 suara. Sedangkan lawannya 37.861 suara atau selisih 8.623 suara.

Adapun sembilan kabupaten kota dimenangkan oleh pasangan Rusdy Mastura-Ma’mun Amir vs Mohamad Hidayat Lamakarate-Bartholomeus Tandigala. Banggai (116.135 vs 83.329), Buol (47.410 vs 21.345), Donggala (97.762 vs 45.214), Kota Palu (109.414 vs 51.785), Morowali (36.551 vs 20.234), Parigi Moutong (134.343 vs 79.302), Sigi (75.551 vs 63.655), Tojo Unauna 55.980 vs 37.013, dan Tolitoli 90.395 vs 34.932).

Ketua KPU Sulawesi Tengah, Tanwir Lamaming mengatakan, penetapan calon gubernur dan wakil gubernur Sulawesi Tengah terpilih masih menunggu apakah ada gugatan ke MK atau tidak.

“Kami masih menunggu bukti registrasi perkara konstitusi (BRPK) dari MK (Mahkamah Konstitusi),” ujar Ketua KPU Sulawesi Tengah, Tanwir Lamaming seusai rapat pleno.

Partisipasi

Diketahui, jumlah pemilih dalam daftar pemilih tetap (DPT) dan daftar pemilih tambahan (DPtb) sebanyak 2.037.819. Tetapi yang menggunakan hak pilih hanya 1.518.821. Dengan begitu, maka pastisipasi pemilih pada pemilihan gubernur dan wakil gubernur Sulawesi Tengah 2020 tidak mencapai target. Partisipasi hanya 74,53 persen dari target 77,5 persen.

Tidak tercapainya target tersebut dipicu karena partisipasi ada lima kabupaten kota yang tak capai 77,5 persen. Morowali adalah yang terendah yakni hanya 51,83 persen. SelanjutnyaKota Palu 63,06 persen, Donggala 70,01 persen, Parigi Moutong 72,97 persen, dan Banggai Kepulauan 74,34 persen. Adapun tingkat partisipasi yang tertinggi yakni Banggai Laut yang mencapai 84,66 persen.

Menurut Anggota KPU Sulawesi Tengah, Sahran Raden rendahnya partisipasi pemilih di Kabupaten Morowali disebabkan karena tingginya penerbitan KTP untuk kepentingan melamar pekerjaan di perusahaan dimana mereka berasal dari luar daerah.

“Rendahnya pemilih terdapat di Kecamatan Bahodopi sebagai daerah tambang. Banyaknya pemilih yang tidak ditemui saat pendistribusian form C Pemberitahuan,” ungkap Sahran Raden kepada Metrosulawesi seusai rapat pleno rekapitulasi, Minggu 20 Desember 2020.

Selain itu, kata dia tingkat penularan Covid 19 yang tinggi di Morowali yang menyebabkan adanya kehawatiran masyarakat datang ke TPS.

Berbeda dengan Kota Palu. Menurutnya, di Kota Palu aspek ekonomi dimana masyarakat lebih mementingkan pekerjaan saat hari pemungutan suara. Selain itu, hasil evaluasi menunjukkan bahwa adanya hunian tetap yang jauh dari alamat asal sehingga pemilih enggan memimilih di tempat asal meskipun KPU Kota Palu telah mendata untuk mengurus pindah memilih. Selain itu, tingginya jumlah penularan Covid-19 di Kota Palu.

Menurutnya, ada beberapa faktor pendukung untuk mencapai target partisipasi pemilih tahun 2020. Pertama, dukungan dan tumbuhnya kesadaran dan kedewasaan politik bagi masyarakat. Kedua, dukungan organisasi masyarakat sipil yang dapat bekerja sama dengan KPU provinsi dan KPU kabupaten kota untuk melaksanakan pendidikan pemilih. Ketiga, dukungan media massa cetak dan elektronik dalam rangka pelaksanaan sosialisasi tahapan pemilihan serentak di Sulawesi Tengah. Keempat, peserta pemilihan, partai politik yang melakukan kampanye secara massif kepada pemilih.

Oleh karena itu, kata dia ke depan perlu mendesain program pendidikan pemilih secara berkelanjutan selama siklus pemilu. Selain itu, pembuatan kerangka hukum pemilu melalui peraturan sosialisasi, pendidikan pemilih dan partisipasi masyarakat yang lebih inklusif.

“Mendesain progam sosialisasi yang berbasis digital dan dengan pendekatan marketing sosial dan membuat segmentasi dan target yang terukur serta berkesinambungan,” ujarnya.

Reporter: Syamsu Rizal
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas