Home Nasional

Ribuan Isak Tangis di Peristirahatan Terakhir Syarifah Sa’diyah

50
DISALATKAN - Ribuan jamaah menyalatkan jenazah Syarifah Sa’diyah Binti Idrus Aljufri, Senin (21/12/2020). (Foto: Metrosulawesi/ Faiz)

Palu, Metrosulawesi,id Dunia organisasi Perguruan Islam tersohor Sulawesi Tengah (Sulteng) Alkhairaat, dirundung duka mendalam. Ahad, 20 Desember 2020, menjadi hari terakhir nafas Syarifah Sa’diyah Binti  Idrus Aljufri berhembus. Adalah seorang penggagas salah satu organisasi keislaman terbesar di Wilayah Sulteng berbasis perempuan, yaitu Wanita Islam Alkhairaat (WIA), juga merupakan putri tercinta pendiri Alkhairaat, As-Sayyid Al Habib Idrus bin Salim Aljufri asal Negeri Yaman.

Sa’diyah, yang lahir di Palu, pada  15 Agustus 1937 silam, berpulang ke pangkuan tuhan di rumah sakit Alkhairaat Palu, Jalan Sis Aljufri, ketika lantunan Azan Magrib Masjid Alkhairaat arah utara dan Masjid Nurul Khairaat arah selatan sedang syahdunya berkumandang.

Kepergian abadinya di dunia dalam usia uzur, 83 tahun, menyisakan tak hanya belasungkawa dari segala macam pihak, tetapi juga perilaku dan upaya semasa hidupnya yang mampu mensejahterakan kaum hawa dari ketertinggalan zaman, terkhusus dalam dunia pendidikan Islam melalui WIA-nya.

5 Agustus 1964, tanggal di mana WIA lahir dari hasil buah pikiran ketulusan Sa’diyah, dan seketika ia didapuk sebagai ketua umum hingga akhir hayatnya.

Selain WIA, perilaku adil ditunjukkan Sa’diyah dengan berkecimpung di organisasi luar bentukan Abinya, seperti Ketua Umum IKWI (Ikatan Keluarga Wanita Islam) dan Ketua BAKESWI (Badan Kerjasama Wanita Islam).

Melalui WIA, Sa’diyah layak disanjung sosok pendobrak tradisi patriarkat di tubuh Alkhairaat. Ia berhasil melunakkan pandangan sang Abi bahwa “Wanita tidak perlu sekolah tinggi, tempat wanita adalah rumah”. Ia adalah perempuan pertama yang sekolah dan menyelesaikan pendidikan di Sekolah Muallimin Alkhairaat tahun 1953. Tamat dari sekolah, dia mengabdikan diri sebagai seorang guru.

Ungkapan duka cita bukan kepalang baik dari pelayat langsung di rumah duka Jalan Wahid Hasyim Palu, maupun dari luar Pulau Sulteng hingga tersiar di Arab Saudi nan jauh di sana, semata bukan karena Sa’diyah sebagai pengampu ilmu Agama Islam, pun tak hanya aktivis perempuan, namun juga pribadi yang sangat peduli dan menghidupi anak-anak yatim piatu yang antah berantah nasibnya.

Seperti yang diungkapkan salah satu anak dari total delapan orang anaknya, Habib Hasan bin Idrus Alhabsyi, “suatu ketika ada seorang anak yatim piatu, anak itu suka mencuri, mengambil berbagai macam, saya usir anak tersebut. Waktu saya usir, Umi (Syarifah Sa’diyah) lihat saya, Umi usir saya ‘kau yang keluar dari rumah nak’,” kata Hasan diselingi isak tangis mengutip perkataan Umi Sa’diyah.

MENGANTAR JENAZAH – Ribuan jamaah mengantar jenazah Syarifah Sa’diyah Binti Idrus Aljufri ke tempat peristirahatan terakhirnya, Senin (21/12/2020). (Foto: Metrosulawesi/ Faiz)

“Umi usir saya? Iya Umi usir kau. Kau paham agama, kalau kau di luar kau pasti cari Umi mu, tapi kalau anak ini kau usir dia bisa jadi WTS di luar sana.” Hasan mengisahkan bentuk kecintaan Sa’diyah kepada anak yatim piatu, di momen teguran mendiang Uminya di depan ribuan pelayat, Senin (21/12/2020), pukul 10.30 pagi.

Begitu terpukulnya Hasan kehilangan Umi Sa’diyah yang juga mewakili tujuh saudara kandungnya, hingga Hasan mengatakan Umi Sa’diyah gembira telah berpulang ke Rahmatullah pertanda terbebas dari belenggu serangkaian penyakit yang diidap Syarifah Sa’diyah, bertahun-tahun lamanya.

Dari delapan orang anaknya, Syarifah Sa’diyah pun meninggalkan 35 orang cucu, sekitar 27 cicit, serta mendahului kehidupan kakak semata wayang, Syarifah Sidah binti Idrus bin Salim Aljufri. Dari delapan anak hingga berpuluhan cicit Sa’diyah itu, lahir dari rahim ibunda tercinta bangsawan Kaili, Intje Ami Dg.Sute, ketika dinikahi Sayyid Idrus bin Salim Aljufri atau Guru Tua, pada tahun 1931 M.

Saking membludaknya manusia ingin menaruh rasa haru kehilangan Umi Sa’diyah, sampai empat kali dilakukan salat jenazah, dimulai dari rumah duka jalan Wahid Hasyim, Kelurahan Baru, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu, di Masjid Jami Kampung Baru, serta berakhir di halaman samping dan di dalam Masjid Alkhairaat Palu.

Pintu belakang mobil ambulans yang telah bersiap mengangkut jenazah Sa’diyah di Masjid Kampung Baru pun tak terpakai, sebab sanak keluarga serta pelayat seperti kerumunan semut sontak memapah keranda Umi Sa’diyah berjalan kaki ke pusara di Masjid Alkhairaat, 3 kilometer jauhnya.

Memasuki pukul 12.00 WITA, seluruh jamaah maupun pelayat langsung melaksanakan salat Zuhur yang di depannya berada keranda berisi jenazah mulia Syarifah Sa’diyah. Ketika salat Zuhur usai seketika kerumunan ribuan manusia merangsek ingin masuk ke pelataran sekitar makam Umi Sa’diyah, yang sebentar lagi akan berkumpul kepada kedua orang tuanya.

Pukul 13.13 WITA, tibalah waktu di mana tanah yang diangkut menggunakan karung, sedikit banyak, menutupi seluruh tubuh Syarifah Sa’diyah di liang lahad sembari lantunan doa dan zikir yang terus menggema tanpa henti, mengiringi ruh Syarifah Sa’diyah binti Idrus Aljufri kembali ke sisi tuhan seluruh alam semesta, Allah SWT. (*)

Reporter: Faiz

Ayo tulis komentar cerdas