Home Palu

Masih Ada Nelayan Teluk Palu Luput Bantuan Perahu

NELAYAN TELUK PALU - Rina, perempuan nelayan Teluk Palu memegang dayung di perahunya. Rina luput dari bantuan perahu bermesin sehingga masih harus mendayung setiap kali melaut. (Foto: Metrosulawesi/ Pataruddin)

Palu, Metrosulawesi.id Pasca bencana gempa bumi, tsunami dan likuifaksi yang menerjang pesisir Teluk Palu, 28 September 2018 silam, ternyata masih menyisakan sejumlah masalah. Salah satunya adalah masih adanya warga nelayan yang sama sekali belum tersentuh bantuan. Masalahnya adalah persoalan domisili.

Rina (40), bisa jadi satu-satunya nelayan perempuan yang menggantungkan hidupnya dari hasil laut Teluk Palu. Pendapatannya pun kembang kempis alias tidak menentu setiap harinya. Kadang lumayan dan pas buat kebutuhan dapur saja. Belum lagi harus membiayai kuliah dan sekolah enam anaknya.

“Saya memang asal Ternate. Sejak kecil sudah tinggal di Kampung Lere setelah bersama tante ke sini (Palu),” kata Rina, Sabtu, 19 Desember 2020, pagi.

Dalam perjalanannya, Rina melaut berbekal sebuah perahu tanpa mesin. Setiap kali turun melaut, Rina harus mendayung hingga beberapa ratus meter dari bibir Teluk Palu. Kondisi itu dijalaninya hingga 15 tahun lamanya.

“Saya pernah mengajukan permohonan bantuan tetapi tidak bisa karena tmpat tinggal saya di pesisir pantai dan bukan hak milik,” kata Rina.

Nelayan lainnya, Asmaun justru mengkhawatirkan kehadiran buaya di Teluk Palu dan menjadi ancaman setiap sat bagi nelayan.

“Kami takut karena bisa saja kami jadi korban berikutnya. Buaya kadang adda di samping peahu saat kami hendak turun di subuh hari,” kata Asmaun.

Dia meminta kepada pemerintah atau pihak terkait agar bisa ‘menertibkan’ buaya-buaya di Teluk Palu agar bisa memberikan rasa aman kepada nelayan dan masyarakat umum.

Sementara itu, Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara), dalam Emergency Response pasca bencana dua tahun silam sudah menyalurkan 650 perahu bagi para nelayan Pesisir Teluk Palu dan Donggala. Perahu-perahu dipesan dan dibuat di di Mamuju dan Majene, Sulawesi Barat.

Deputi Monitoring, Evaluation, and Learning (MEL) Kiara, Nibras Fadhillah menyebutkan, bantuan perahu bagi nelayan itu sudah dilengkapi dengan mesin. Satu perahu dibandrol tarif produksi hngga Rp7 juta dan ditambah mesin menjadi Rp10 juta.

“Terutama di wilayah pesisir Kabupaten Donggala, Teluk Palu, dan sekitarnya. KIARA mencatat setidaknya terdapat lebih dari 7000 kapal dan alat tangkap yang rusak akibat bencana gempa dan tsunami yang terjadi di tahun 2018. Dalam merespon situasi dan kondisi tersebut, KIARA bersama dengan CCFD dan AFD (Agence Française de Développement) melihat akan pentingnya pemulihan mata pencaharian masyarakat pesisir, khususnya nelayan Teluk Palu dan Donggala, harus menjadi prioritas,” kata Nibras.

Lanjut Nibras, namun pemulihan ini juga harus disertai dengan pengetahuan terkait mitigasi reduksi bencana dan pengembangan kapasitas lainnya yang dibutuhkan oleh nelayan dan masyarakat pesisir Teluk Palu dan Donggala. Termasuk menyertakan perempuan dan inklusif pesisir yang juga menjadi sasaran program KIARA dalam tiga tahun ke depan. Nonsense bicara memberikan kapasitas, menambah pengetahuan dan penyadaran jika livelihood masyarakat nelayan belum bisa dipulihkan.

Secara perlahan sejak akhir tahun 2018, KIARA mulai melakukan bantuan distribusi alat produksi perahu sebanyak 650 perahu kepada 650 keluarga nelayan, yang dibuat dengan cara tradicional dan menggunakan kearifan lokal berdasarkan permintaan yang dibutuhkan nelayan, seperti perahu harus dibuat dari kayu-kayu yang memang kuat dibawa melaut, harus bercadik, dan harus dibuat oleh para pembuat perahu tradisional perahu khas Sulawesi yang berada di Mamuju dan Majene. Pembuat perahu di Mamuju dan Majene ini telah dikenal sebagai kelompok pembuat perahu tradicional khas Sulawesi. Perahu ini dipercaya kuat dan tidak mudah rusak jika diajak melaut.

Sejauh ini KIARA telah membagikan sebanyak 630 perahu dengan total mesin 500 buah yang telah didistribusikan ke beberapa desa dan kelurahan di Teluk Palu dan Donggala, seperti Kelurahan Lere, Talise, Mamboro, Pantoloan, dan Desa Tompe.

Dalam catatan KIARA kini perahu bantuan KIARA ini telah memulihkan secara perlahan ekonomi nelayan dalam setahun terakhir. Kini rata-rata nelayan bisa mendapatkan penghasilan rata-rata perhari sekitar 200 – 700 ribu. Secara perlahan mereka kini bisa kembali menyekolahkan anak, menyicil motor yang hilang guna membantu mobilitas kerja. Beberapa kelompok nelayan juga berupaya membangun kembali rumah yang sempat rusak dan porak poranda dari hasil menangkap ikan di laut dengan perahu KIARA. (*)

Reporter: Pataruddin

Ayo tulis komentar cerdas