Home Ekonomi

Stabilitas Jasa Keuangan Terjaga di Tengah Pandemi

28
Gamal Abdul Kahar. (Foto: Metrosulawesi/ Tahmil Burhanuddin)

Palu, Metrosulawesi.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Tengah menyebut kondisi sektor jasa keuangan di daerah ini dalam kondisi stabil, meskipun kondisi ekonomi secara nasional tengah digempur pandemi.

“OJK menilai stabilitas sektor jasa keuangan dalam kondisi stabil dan terjaga. Namun tetap dalam kewaspadaan mengantisipasi tekanan perekonomian akibat pandemi Covid-19,” ungkap Kepala OJK Sulawesi Tengah Gama Abdul Kahar kepada wartawan, Kamis 17 Desember 2020.

Hal itu bisa terlihat dari indikator pertumbuhan perbankan di Sulawesi Tengah. Menurut data OJK, total aset bank umum konvensional secara year to year (yoy) per 31 Oktober 2020 mencapai Rp44,290 triliun atau naik 4,55 persen.

Nilai kredit bank konvensional umum juga meningkat dengan total Rp30,759 triliun atau naik 5,37 persen, dana pihak ketiga (DPK) bank konvension senilai Rp26,009 triliun atau naik 5,13 persen.

Sementara kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) hanya sebesar 2,25 persen atau -19,66 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan likuiditas bank (LDR) sebesar 118,26 persen atau naik 0,32 persen dari sebelumnya.

Selain bank konvensional, pergerakan positif juga terjadi pada bank syariah maupun bank perkreditan rakyat (BPR).

“Dengan penanganan Covid yang membaik dan pelaksanaan protokol kesehatan yang ketat diharapkan mampu mengakselerasi perekonomian melalui berbagai stimulus pemerintah, BI dan OJK,” katanya.

Kondisi ini juga mendorong lembaga jasa keuangan dan masyarakat melakukan aktivitas ekonomi untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional.

Selain berbagai kebijakan pemerintah, sumber daya daerah juga disebut Gamal sebagai salah satu pendorong pertumbuhan positif industri jasa keuangan di Sulawesi Tengah.

“Kita itu sebenarnya memiliki sumber daya alam yang luar biasa melimpah, itu terbukti secara nasional kita yang bisa tumbuh positif dalam kondisi sekarang ini. Meskipun di tengah pandemi,” katanya.

Selain itu, kebijakan restrukturisasi yang dikeluarkan pemerintah pun sangat berpengaruh terhadap akselerasi industri jasa keuangan.

“Inilah manfaat restrukturisasi, yang mampu mempertahankan NPL. Restrukturisasi mampu menekan NPL. Kalau kita mampu tekan sampai kondisi ini membaik, IJK di Sulteng bisa stabil. Mudah-mudahan kondisi di akhir tahun ini industri jasa keuangan tetap membaik,” jelasnya.

Reporter: Tahmil Burhanuddin
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas