Home Artikel / Opini

Dor.. Dor.. Dor..

34

DOR… DOR… DOR… Ini bukan anak-anak sedang bermain perang-perangan. Ini sungguhan. Enam anak muda tergelepar. Lunglai. Tubuhnya berdarah. Mati. Tertembus peluru panas. Polisi bertanggung jawab. Tanpa dilacak, sang pelaku mengaku pelakunya.

Dalam jumpa pers, Kapolda Metro Jaya, didampingi Pangdam Jaya, dengan gagah memegang dua pistol. Memamerkan di hadapan sejumlah wartawan. Disiarkan di televisi. Beritanya meluas. Rakyat melihatnya seperti sedang menonton film detektif yang menegangkan. Kata Pak Kapolda, kedua pistol itu milik para anak muda yang tewas itu. Juga ada samurai.

Penembakan yang menyebabkan kematian itu diawali tembak menembak. Lantaran melawan petugas dengan menyerang, polisi pun terpaksa memuntahkan peluru tajam.

Berhentikah pengakuan sepihak itu? Ternyata tidak. Pihak FPI, Front Pembela Islam–ormas keenam anak muda yang kini telah terkubur itu–memastikan tak ada peristiwa tembak menembak. Apa yang mau mereka tembakkan. Mereka tak memiliki senjata. Itulah argumen FPI. Begitu yakinnya anggota atau laskar tak memiliki pistol seperti yang dipamerkan Kapolda Metro Jaya, pihak FPI menyebut tuduhan itu adalah fitnah besar.

Bermula keenam anak muda yang bergelar anggota laskar itu–di tengah malam–mengawal Imam Besarnya, Habib Rizieq, menuju ke sebuah tempat. Dalam perjalanan, entah bagaimana mulanya, pihak polisi–yang boleh jadi–mengikuti dari belakang rombongan ini, tiba-tiba mengamankan keenam anak muda itu. Esoknya, kita pun tercengang. Keenamnya dinyatakan telah meninggal dunia ditembak lantaran melawan dan mengancam petugas dengan kedua pistol itu.

Benarkah sebelumnya terjadi tembak menembak dan kedua pistol itu milik anggota laskar FPI? Tak gampang menjawabnya. Lantaran itu Komnas HAM pun turun tangan menyelidiki tragedi berdarah di akhir tahun ini.
Perdebatan antara pihak kepolisian dan pihak FPI adalah tanggung jawab lembaga negara independen Komnas HAM untuk memberikan penilain objektif. Tentu saja berdasar temuan pembuktian di lapangan. Kinilah saatnya Komnas HAM diuji kemampuan dan moralitasnya untuk mengungkap kebenaran fakta. Bukan kebenaran yang lahir dari kompromi.

Begitu juga kelak, bila peristiwa pembunuhan yang dilakukan petugas kepolisian ini sampai di meja hijau, maka harapan keadilan ada pada manusia bernama hakim. Mampukah Pak Hakim atau Ibu Hakim mengingat sumpahnya untuk selalu setia dengan nurani keadilannya? Kita tunggu! (#).

Ayo tulis komentar cerdas