PENTAS SENI - Kriya karya siswa dipamerkan setelah mengikuti program GSMS dan tampilan siswa SMKN 7 Palu pada acara pameran dan pentas akhir GSMS di Auditorium Dinas Dikbud Sulteng, Rabu 16 Desember 2020. (Foto: Metrosulawesi/ Syahril Hantono)

Program Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) tahun 2020 di Sulteng resmi berakhir. Seperti biasanya para siswa menampil karyanya melalui acara pameran dan pentas akhir GSMS, di Auditorium Dinas Dikbud Sulteng, kemarin (16/12).

Laporan: Syahril Hantono

ADA enam sekolah di Kota Palu yang mendapat program GSMS tahun ini, yakni SMA Karuna Dipa, SMAS Muhammadiyah 1, SMAS Katolik Santo Andreas, SMA Lab School Untad Palu, SMANOR Tadulako, dan SMK Negeri 7 Palu atau dikenal SMA Perikanan. Sedangkan seni yang diajarkan kepada siswa di enam sekolah itu masing-masing seni musik, teater, puisi, seni peran, dan seni kriya.

GSMS tahun 2020 tidak bisa full dilakukan tatap muka antara seniman dengan siswa. Ini karena terjadi pandemi Covid-19 dimana semua sekolah ditutup untuk menghindari penularan virus corona. Para seniman yang menjadi pengajar seni harus mengajar secara virtual alias daring.

Para seniman mengakui pengajaran tidak bisa maksimal sejak adanya pandemi Covid-19. Semestinya ada 14 kali pertemuan dengan siswa.

”Tetapi karena ada corona pengajaran dilakukan secara daring. Memang tidak maksimal, tapi ini menjadi tantangan bagi seniman,” kata seniman Eman Saja yang mengajar seni pertunjukan kepada siswa di SMAS Katolik Santo Andreas Palu.

Hal senada dikemukan Arifin Baderan. Sutradara ini mengajar teater di SMANOR Tadulako. Karena pandemi hal itu tidak bisa dilakukan. Lagi pula para siswanya selama diliburkan sekolahnya memilih pulang kampung. Pengajaran yang dilakukan bukan teater tetapi puisi.

”Yang penting di sini para siswa mendapat pengetahuan tentang seni, bahwa seni itu bukan semata-mata hiburan,” kata Arifin.

Pengajaran secara virtual juga dilkukan seniman peran Fitriani Idris. Wanita berhijab itu mengajar kepada siswa di SMA Lab School Untad. Dia mengaku para orang tua siswa tak mengisinkan anak mereka mengikuti pertemuan tatap muka.
Karena itu dia membuat materi acting monolog kemudian diinterprestasikan melalui peran atau acting oleh siswa. Acting monolog tersebut ditampilkan dalam pameran dan pentas kemarin.

Pengamatan koran ini, selain acting monolog, baca puisi juga ditampilkan melalui rekaman video. Rekaman puisi dibawan siswa SMANOR dan SMAS Katolik Santo Andreas Palu.

Yang menarik lokasi rekaman tidak dibatasi di ruang tertentu oleh pengajar. Sebab dari tampilan video itu ada yang merekam dari dalam kamar, ruang tamu, bahkan di dapur.

Karya siswa lainnya yang ditampilkan adalah seni musik yang dibawakan siswa SMKN 7 Palu, asuhan Natsir Umar. Para siswanya tampil dengan seragam khas kelautan. Maklum sekolah ini dikenal sebagai sekolah kelautan dan perikanan.

Kemudiam seni kriya yang diajarkan seniman Dahniar kepada siswa SMA Karuna Dipa dan seniman Ramadania kepada siswa SMAS Muhammadiyah 1 Palu. Ada bermacam-macam kriya yang diampilkan, misalnya tas sekolah, lukisan kaos oblong, hingga hiasan meja. Yang menarik pada kriya hiasan meja, dimana bahannya dibuat dari paralon bekas.

Kepala Bidang Kebudayaan, Dinas Dikbud Sulteng, Dr Rachman Ansyari mengapresiasi karya kriya siswa. Dia berharap kriya tersebut dapat memberi manfaat secara ekonomi kepada siswa.

Rachman mencontohkan tahun 2019 lalu, karya kriya berbentuk kaligrafi dan foto tokoh yang dibuat siswa SMAS Muhammadiyah Palu dibeli oleh pengunjung.

”Ini salah satu contoh karya kriya siswa bisa memberi manfaat secara ekonomi kepada pembuatnya,” kata Rachman.

Karena itu dia meminta para seni kriya tersebut dapat terus dikembangkan oleh siswa.

”Jangan sampai setelah gerakan seniman masuk sekolah ini selesai, maka selesai juga semuanya. Jangan begitu, teruslah berkarya,” katanya.

Rachman mengatakan, di tahun 2020 Provinsi Sulteng termasuk salah satu daerah yang mendapat program GSMS. Hal ini harus disyukuri karena secara nasional hanya hanya ada 16 kabupaten di Indonesia yang mendapat program ini.

”Termasuk di Sulteng ada beberapa daerah yakni Kabupaten Sigi, Donggala, Tojo Una Una, Banggai, Buol, dan Kota Palu,” kata Rachman.

Dia menjelaskan GSMS bertujuan untuk mendukung program ekstra kurikuler sekolah, khususnya pembinaan terhadap siswa yang memiliki bakat seni. Penjaran seni dilakukan bukan agar siswa menjadi seniman, tetapi minimal memiliki pengetahuan dasar tentang seni yang diminati.

Dia sependapat dengan sutradara Arifin Baderan bahwa setelah GSMS selesai bukan berarti selesai semnya. Minimal setelah ini interaksi antara siswa dengan seniman tetap berjalan. (*)

Ayo tulis komentar cerdas