Home Hukum & Kriminal

Rahim, Pemilik 2.800 Butir Extasy Dituntut Hukuman Mati

31
VIRTUAL - Sidang tuntutan terdakwa Rahim, yang digelar secara virtual kemarin.(Foto: Metrosulawesi/ Sudirman)

Palu, Metrosulawesi.id – Jaksa Penuntut Umum (JPU), Awaluddin Muhammad SH MH, melayangkan tuntutan pidana hukuman mati kepada terdakwa Rahim. Tuntutan hukuman mati disampaikan , dalam sidang pembacaan tuntutan, yang dipimpin hakim ketua Zaufi Amri SH, dan berlangsung secara virtual di Pengadilan Negeri (PN) Kelas IA/PHI/Tipikor Palu, Kamis, 10 Desember 2020.

Rahim, merupakan pelaku tindak pidana narkotika jenis extacy yang diamankan pihak Polres Palu, pada bulan Juni 2020 lalu. Barang bukti narkotika extacy yang diamankan dari dirinya terdakwa sebanyak 2.870 butir, termasuk uang tunai sebesar Rp 800 juta hasil dari penjualan sabu sabu seberat 3 kg.

Dalam amar tuntutan pidana jaksa penuntut umum (JPU), perbuatan terdakwa Rahim dinyatakan telah terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah melakukan tindak pidana narktoika, sebagaimana diatur dalam pasal 114 ayat 2, Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

“Perbuatan terdakwa terbukti melakukan tindak pidana narkotika yakni melakukan perbuatan menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menerima, menjadi perantara dalam jual beli, menukar, menyerahkan, atau menerima Narkotika Golongan I dalam bentuk tanaman yang beratnya melebihi 1 (satu) kilogram atau melebihi 5 (lima) batang pohon atau dalam bentuk bukan tanaman beratnya 5 (lima) gram, Sebagaimana dakwaan primer jaksa penuntut umum,” ujar Awaluddi Muhammad.

Karena itulah terdakwa dijatuhi tuntutan pidana hukuman mati. Tuntutan pidana hukuman mati itu, sebagaimana diuraikan Awaluddin di persidangan, karena telah berdasarkan pertimbangan fakta bukti-bukti dan fakta persidangan. Selain itu tak ada pertimbangan yang meringankan yang bisa memenimalisir kesalahan dan perbuatan terdakwa.

Sementara pertimbangan yang memberatkan, perbuatan para terdakwa merusak generasi muda dan perbuatan terdakwa tidak mendukung program pemerintah dalam hal pemberatasan kejahatan narkotika, dan merupakan pelaku kejahatan narkotika lintas negara.

“Untuk barang bukti narkotik extacy sebanyak 2.870 negara dan beberap bukti lagi dirampas untuk dimusnahkan,” tutup Awaluddin Muhammad.

Terhadap tuntutan itu, majelis hakim memberikan kesempatan kepada terdakwa dan kuasa hukumnya selama sepekan untuk mengajukan pembelaan terhadap tuntutan pidana JPU.

“Atas tuntutan itu, terdakwa kita beri kesempatan seminggu untuk pledoi dan agar berkoordinasi dulu dengan penasehat hukumnya ya,” tegas Zaufi  Amri.

Ditemui usai sidang, kuasa hukum terdakwa Fikri SH mengaku bahwa, tuntutan JPU sangatlah tinggi. Sehingga karena itu, dia mengharapkan majelis bisa memberikan keringanan hukuman bagi kliennya, yang saat ini tengah menjalani penahanan.

“Tuntutan mati itu, cukup berat. Kami harapkan ada keadilan dari fakta-fakta yang ada untuk terdakwa. Sehingga majelis hakim dapat meringankan hukuman terdakwa,” tandas Fikri SH. (*)

Reporter: Sudirman

Ayo tulis komentar cerdas