Home Inspirasi

Gerakan Perempuan Bersatu Sulteng Gelar Doa Damai Lintas Iman

38
DOA DAMAI. Suasana acara doa damai lintas iman oleh Gerakan Perempuan Bersatu Sulteng di atrium Taman GOR Kota Palu, Rabu (2/12/20) malam. (foto: faiz)

PALU, Metrosulawesi.id – Gerakan Perempuan Bersatu Sulawesi Tengah, menghelat acara doa lintas iman, pasca kejadian kekerasan keji di Dusun Lewonu, Desa Lembantongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulteng, Jumat (27/11/2020) lalu.

Dewi Rana, direktur organisasi swadaya masyarakat, Libu Perempuan (Lingkar Belajar Untuk Perempuan), yang juga sebagai salah satu penggagas agenda perenungan itu mengatakan, acara doa lintas iman diprakarsai oleh Gerakan Perempuan Bersatu Sulteng.

“Kegiatan ini dibelakangnya itu kolaborasi semua organisasi perempuan dan organisasi gerakan yang peduli terhadap penghapusan segala bentuk kekerasan, termasuk kelompok rentan lainnya,” kata Dewi Rana di atrium Taman GOR Kota Palu, Rabu, 2 Desember 2020 malam.

Krisis kemanusiaan di Lembantongoa beberapa hari lalu, dikatakan Dewi, merupakan rentetan kejadian derita terbaru sejak beberapa tahun terakhir, yang memperkeruh situasi masyarakat Sulawesi Tengah.

“Kita tahu bahwa kita baru saja terkena bencana (alam), setelah itu kita dapat Covid-19 lagi, setelah itu terorisme. Begitu panjang penderitaan yang kita hadapi,” ujarnya.

Dia berkaca ketika tragedi pembunuhan oleh kelompok teroris di Lembantongoa, membuat korban terkhusus perempuan dan anak yang paling dirugikan.

ketika kejadian Lembantongoa, Dewi merasa begitu terpukul saat tertatihnya istri korban yang dibunuh sadis harus lari menyelamatkan diri dari lokasi kejadian sembari memapah anak dan ibunya.

“Semua tragedi bencana maupun (bencana) kemanusiaan perempuan dan anak lah yang menjadi korban utama,” lugas Dewi.

Doa lintas iman gerakan perempuan bersatu Sulteng. (foto:faiz)

Dewi Rana, diakhir acara doa lintas iman Gerakan Perempuan Bersatu Sulteng, mewakili satu suara seluruh peserta menegaskan agar menghentikan segala bentuk kekerasan.

Terlebih lagi kekerasan berbuntut pembunuhan oleh seperti kelompok teroris yang menurut mereka perilaku bejat serta biadab.

“Penghapusan segala bentuk kekerasan dan penindasan yang berwajah patriarki,” pungkas Dewi Rana didampingi para pemimpin organisasi kemanusiaan se-Sulteng.

Di samping itu, doa yang dipanjatkan oleh masing-masing agama yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha itu dirangkaikan dengan menyalakan lilin dan bunga mawar putih sebagai lambang persaudaraan dan cinta kasih.

Juga diselingi dengan pembacaan puisi menyayat emosi oleh beberapa sastrawan asal Sulteng, dan diakhiri oleh pernyataan sikap dan penandatanganan seluruh peserta di atas bentangan kain putih sepanjang puluhan meter. (*)

Reporter: Faiz

Ayo tulis komentar cerdas