Home Hukum & Kriminal

Kelompok Ali Kalora Kian Terimpit

19
KETERANGAN PERS. Kapolda Sulteng, Irjen Pol Abdul Rakhman Baso., didampingi Danrem 132/Tadulako Brigjen TNI Farid Makruf, saat memberikan keterangan, kepada wartawan, Minggu 29 November 2020.(foto: edy)
  • Kapolda Sulteng: Kita Obrak-abrik Terus!

PALU,  Metrosulawesi.id – Kepala kepolisian daerah Sulawesi Tengah, sekaligus komandan operasi Satuan tugas Tinombala jilid III, Irjen Abdul Rakhman Baso, mengungkapkan, pergerakan kelompok sipil bersenjata Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso, yang masuk dalam DPO Poso semakin terdepak.

Kondisi tersebut dibuktikan Abdul Rakhman, dari intensitas pengejaran hingga berhasil melumpuhkan dua anggota MIT yaitu Wahid alias Aan alias Bojes dan Aziz Arifin alias Aziz di Desa Bolano Barat, Kabupaten Parigi Moutong, Selasa 17 November 2020.

Sepekan kemudian, kelompok MIT pimpinan Ali Kalora itu mendatangi rumah warga di Dusun Lewonu, Desa Lemba Ntongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, pada Jumat 27 November 2020.

            Sekaitan dengan dua peristiwa itu, Abdul Rakhman, meyakini, upaya pengejaran Satgas Tinombala beberapa waktu terakhir berhasil mengimpit pergerakan gerilya Ali Kalora cs.

“Mereka (kelompok MIT) ini saya katakan terdesak di atas itu. Terdesak, karena pasukan kita sudah tergelar di sana sedimikian rupa, “ lugas Abdul Rakhman saat lakukan konferensi pers di rumah jabatan Kapolda Sulteng, jalan Suprapto Kota Palu, Minggu 29 November 2020.

“Karena pergerakan kita di atas sana memecah mereka (kelompok MIT),” kata Abdul Rakhman.

Tragedi Jumat tragis di Desa Lemba Ntongoa lalu pun dipastikan kapolda  pelakunya adalah kelompok MIT Poso.

Berkaca dari keterangan saksi hidup yang didengar langsung oleh Abdul Rakhman di sekitar TKP, kelompok MIT awalnya memasuki bagian belakang salah satu rumah warga dan mengambil beras sekitar 40 kilogram.

“Setelah itu (pelaku) melakukan penganiayaan tanpa ada statement, kemudian mengakibatkan empat orang tewas,” kata jenderal dua bintang itu.

Penganiayaan yang menewaskan warga bernama Yasa, Rino, Naka dan Tedy itu belum berakhir. Pelaku juga membakar enam unit rumah termasuk rumah warga yang digunakan sebagai pelayanan umat Nasrani dengan jadwal tentatif. Kapolda pun  tak membenarkan adanya berita gereja yang juga dibakar pelaku.

“Mereka (korban) dianiaya tidak berpri kemanusiaan, biadab,” Abdul Rakhman melontarkan kalimat tegas terhadap para pelaku dari tragedi itu.

Di samping itu Abdul Rakhman menuturkan, dari hasil olah TKP menunjukkan bahwa pelaku adalah kelompok MIT.

Mengejutkannya, ketika kepolisian melacak identitas pelaku melalui saksi hidup dengan memperlihatkan foto DPO Ali Kalora, saksi itu mengungkapkan wajah di foto tersebut mirip dengan orang yang melakukan pembantaian dihadapan dirinya.

Di samping itu cara penganiayaan pelaku ketika di Desa Lemba Ntongoa Jumat lalu, menurut Kapolda  sama seperti penganiayaan oleh kelompok MIT dari waktu ke waktu sebelumnya. Terlebih lagi Abdul Rakhman mengaitkan kejadian pembantaian terakhir diduga merupakan aksi pembalasan kelompok MIT, usai dua anggotanya tewas ditembak aparat Satgas Tinombala pekan lalu.

“Yang jelas untuk perburuan kita eksis terus. Kita obrak-abrik terus,” Kapolda Sulteng  menegaskan.

Sementara itu lokasi TKP di Dusun Lewonu Desa Lemba Ntongoa, Kapolda  menuturkan telah menempatkan aparat kepolisian guna tindak pengamanan sembari melakukan upaya pemulihan psikis atau trauma healing para keluarga dan kerabat korban jiwa penganiayaan.

“Kami juga telah berkoordinasi dengan Dinas Transmigrasi agar segera membangunkan kembali enam rumah warga yang terbakar itu, karena itu masuk daerah transmigrasi. Insya Allah satu minggu selesai rehabilitasi bangunannya,” pungkas Kapolda Sulteng, Irjen Pol Abdul Rakhman Baso.

KUNJUNGI TKP. Kapolda Sulteng Irjen Pol Abdul Rakhman Baso mendatangi lokasi penyerangan kelompok Ali Kalora cs di Dusun Lewonu, Desa Lemba Ntongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi Sabtu (28/11/2020) (foto: ist/dok.polda sulteng)

Sementara itu, Komandan Korem (Danrem) 132/Tadulako, Brigjen TNI Farid Makruf, M.A, selaku Wadansatgas Oprasi Tinombala 2020,  menyampaikan sinergitas TNI-Polri hinga saat ini sangat efektif,

Hal ini dibuktikan dengan seringnya kelompok ini berpindah-pindah dari Poso ke Sigi, Parigi hingga ke Moutong karena mereka terdesak di Gunung Biru yang selama ini mejadi tempat basis mereka.

“Pasuka kita TNI-Polri sangat banyak disana dan jalur –jalur klasik yang biasa mereka lalui sudah kita kuasai atau kita duduki, sehingga mereka merasa terancam dan berusaha mencari jalur baru. Jalur-jalur baru tersebut sedang kita pelajari melalui pengintaian udara dan kita akan berusaha mengejar dan menangkap mereka,” ungkapnya.

Farid Makruf, juga meminta kepada masyarakat untuk berhenti membantu kelompok MIT Poso, dengan menyediakan atau memberi bahan makanan dan memberikan informasi keberadaan anggota TNI-Polri yang sedang melaksanakan pengejaran.

“Kita lihat bagaiamana kekejaman kelompok ini memenggal kepala orang, merampok serta membakar rumah itu sudah sangat keterlaluan dan sudah tidak berperi kemanusiaan,” ungkapnya.

“Mari kita sama-sama saling membantu agar masalah kelompok MIT ini segera tuntas dan tidak berlarut-larut. Mereka tidak memperjuangkan Ideolgi Islam, tidak ada ajaran Islam mengajarkan seperti apa yang kelompok MIT tersebut lakukan,” tegasnya.

Danrem juga mengingatkan kepada masyarakat agar tidak menyebarkan video atau kabar yang belum tentu kebenerannya atau Hoax karena hal tersebut sangat berpengaruh besar seperti kejadian kemarin dikabarkan ada Gereja yang dibakar ini akan menimbulkan SARA dan konflik di masyarakat.

“Jadi saya bersama Kapolda menyampaikan melalui rekan-rekan media yang hadir dan agar diketahui juga oleh seluruh masyarakat bahwa kabar tersebut tidak benar adanya. Hentikan penyebaran kabar atau video yang dapat membuat kelompok MIT ini semakin eksis,” tutupnya.

Sementara itu Kepala Desa Lembontongoa, Deki Basalulu, kepada wartawan Metrosulawesi.id, Minggu 11 November 2020, melalui telefon mengatakan,  saat ini sebagian warganya masih berada di tempat pengungsian, dan sudah ada juga yang kembali ke rumahnya.

“Sudah mulai kondusif, dan sebagaian warga sudah ada yang kembali kerumahnya. Untuk warga yang rumahnya berbatasan langsung dengan hutan, masih khawatir untuk kembali, dan mereka mengungsi di beberapa loksai yang disiapkan pemerintah,” ucapnya.

“ Hari ini kami membagikan bahan pokok kepada warga, yang berada di pengungsian ataupun di sekitar lokasi,” tambahnya. (*)

Reporter: Edy – Faiz

Ayo tulis komentar cerdas