Home Artikel / Opini

Menilik Perjalanan Panjang Sejarah Vaksinasi di Indonesia, Ikhtiar dalam Pencegahan Penyakit

43
ILUSTRASI - Relawan disuntik vaksin Covid-19. (Foto: Ist/ cnn.indonesia)
  • Oleh Mohamad Rivani

DUNIA  seakan dihebohkan dengan kemunculan Virus Corona (Covid-19) yang untuk kali pertama terjadi di Wuhan Cina tahun 2019. Covid-19 seakan menjadi momok yang sangat menakutkan bagi seluruh umat manusia di dunia tak terkecuali di Indonesia.

Covid-19 menyerang manusia dan menginfeksi lainnya melalui percikan liur (Airborne) dari seseorang ke orang lainnya, dan untuk Indonesia, kasus pertama dari Virus ini terjadi medio maret 2020. Setelah setahun berlalu, saat ini masyarakat dunia bisa bernapas lega karena adanya penemuan Vaksin Covid-19 oleh beberapa perusahaan farmasi dunia ternama, sebut saja Pfizer, Moderna, Sputnik dan lain-lain.

Vaksin bukanlah hal baru buat masyarakat Indonesia. Sudah puluhan tahun Indonesiaakrab dengan vaksin. Sejarah vaksin di Indonesia secara resmi dimulai tahun 1956, ketika dilakukannya vaksinasi cacar. Pemberian vaksin ini diakui sebagai salah satu upaya pencegahan yang cukup efektif dalam upaya memerangi satu wabah penyakit.

Upaya vaksinasi di Indonesia tidak hanya berhenti sampai disitu saja, akan tetapi berlanjut pada tahun-tahun berikutnya, vaksinasi campak pada tahun 1963, BCG untuk penyakit TBC di tahun 1973, vaksinasi tetanus toksoid tahun 1974 dan imunisasi difteri, pertusis, tetanus (DPT) tahun 1976, dan vaksinasi polio yang dimulai tahun 1981.

Pada tahun 1991 dirilis kembali vaksinasi untuk polio, kemudian vaksinasi Hepatitis B tahun 1997, hingga kampanye pencegahan kanker serviks untuk anak perempuan, dan vaksin HPV pada tahun 2016. Setahun setelahnya, pemerintah juga mengedarkan vaksin Rubella dan Haemophilus Influenza tipe B (HIV). Selain pencegahan, vaksinasi yang dilakukan pemerintah merupakan upaya melindungi rakyatnya dari wabah penyakit yang mematikan.

Jika kita menoleh kembali ke belakang, upaya perlindungan pemerintah dapat kita lihat dengan tindakan nyata Kementerian Kesehatan yang massif mengkampanyekan penanggulangan luar biasa untuk mencegah difteri pada anak selama 3 putaran – yang dimulai sejak Desember 2017 hingga akhir tahun 2018.

“Pada tahun 2018, Kementrian Kesehatan (Kemenkes) menggelar Outbreak Responses Immunization atau ORI. Aksi ini merupakan salah satu upaya penanggulangan luar biasa difteri yang bertujuan untuk meningkatkan kekebalan masyarakat. Program ini menyasar bayi berusia 1 tahun sampai dengan anak berusia kurang dari 19 tahun.”

Selain melakukannya secara massal, Indonesia juga mengenal pemberian vaksin secara rutin, yang bisa diakses seluruh anak Indonesia di seluruh penjuru nusantara. Pemberian vaksin ini lebih dikenal dengan istilah imunisasi oleh seluruh lapisan masyarakat di Indonesia.

“Kalau imunisasi rutin diberikan pada anak di umur tertentu. Misalkan pemberian Hepatitis 0 yang baru diberikan kepada bayi baru lahir. Pada hal-hal tertentu kita bisa memberikan imunisasi secara bersamaan, massal, dikampanyekan, seperti yang akan diberikan pada COVID-19 nanti,” terang dr. Jane Supardi, Pakar Imunisasi dalam forum yang sama.

Dengan adanya Covid-19 maka vaksinasi untuk pencegahan harus dilakukan secara massal dengan tentunya melakukan edukasi terlebih dahulu terhadap masyarakat, sehingga masyarakat menerima informasi yang utuh dan tidak setengah-setengah apalagi informasi yang tidak benar (hoaks).

Hal ini senada dengan penyampaian Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian Statistik (KIPS) Sulawesi Tengah Faridah Lamarauna dalam Webinar yang bertema “Vaksin Aman, Masyarakat Sehat” yang diinisiasi oleh Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN) bekerjasama dengan Kominfo sebagai publikasi dan diseminasi informasi untuk mengedukasi masyarakat dalam penanganan Covid-19.

“Materi vaksin Covid-19 tentunya sangat penting diketahui masyarakat karena sampai saat ini uji klinis tahap ke tiga masih sementara berjalan dan diestimasi awal tahun 2021 secara bertahap pemberian vaksin Covid-19 secara gratis dapat dilaksanakan,” ujarnya.

“Masyarakat harus diberikan pemahaman tentang kebijakan Pemerintah dalam pemberian imunisasi Covid-19 dan pemahaman tentang bagaimana agar tidak mudah terhasut dengan berita berita hoaks tentang calon vaksin Covid-19 yang sampai saat ini uji klinisnya masih berlangsung,” ucap Faridah.

Memberikan  pemahaman yang benar tentang Imunisasi Covid-19 tentunya sangat dibutuhkan ditengah-tengah masyarakat saat ini. Tenaga kesehatan sebagai garda terdepan pengawalan kesehatan masyarakat, diharapkan berperan aktif memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat sehingga masyarakat dapat sadar dan paham bahwa vaksin berperan aktif meningkatkan angka harapan hidup manusia.

Saat ini, pemerintah tengah berupaya keras menyediakan vaksin Covid-19 yang sangat di nanti kehadirannya. Tugas pemerintah yaitu memastikan  tahapan uji klinis berjalan sesuai prosedur, kehalalan, keefektifannya serta memastikan vaksin Covid-19 dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Semoga cepat terwujud.(*)

Ayo tulis komentar cerdas