Home Pendidikan

Hatija: Hati-Hati Kelola Aset Negara

25
LAUNCHING - Plt Kepala Cabang Dinas Pendidikan Menengah Wilayah 1, Dr Hatija Yahya, saat melaunching Aplikasi Adata Belota, di salah satu Hotel di Palu, Sabtu, 21 November 2020. (Foto: Metrosulawesi/ Moh Fadel)

Palu, Metrosulawesi.id – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulteng, melalui Cabang Dinas Pendidikan Menengah Wilayah 1 Kota Palu dan Kabupaten Sigi, menggelar Sosialisasi Pengelolaan Aset SMK sekaligus melaunching Aplikasi Adata Belota, di salah satu Hotel di Palu, Sabtu, 21 November 2020. Kegiatan itu mengusung tema “Digitalisasi Data Sarana Prasarana SMK di Kota Palu dan Sigi Dalam Mewujudkan Informasi yang Akurat, Relevan, dan Tepat Waktu”.

“Saya sangat berharap kepada seluruh Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) sapras SMK mempunyai Permendikbud 34 Tahun 2018, tentang standar nasional sarana prasarana khususnya sekolah menengah kejuruan,” kata Plt Kepala Cabang Dinas Pendidikan Menengah Wilayah 1, Dr Hatija Yahya.

Hatija meminta para Wakasek agar mengcopy (salin) Permendikbud itu sesuai dengan tanggungjawabnya dalam mengelola sapras.

“Tidak perlu di salin semua, sebab di lembaran Permendikbud itu sangat tebal, dan didalamnya memiliki delapan standar kompentesi, saya sangat berharap SMK wajib hukumnya mempunyai Permendikbud itu,” ungkapnya.

Selain itu, Hatija mengingatkan kepada Wakasek Sapras agar berhati-hati dalam mengelola aset negara.  

“Jangan sampai ada aset yang hilang, jika misalnya hilang kalian harus mempunyai dokumen atas kehilangan barang itu. Kalau di swasta barang itu bisa disebut hibah, tetapi kalau di negeri harus mencatat baik-baik,” imbuhnya.

Olehnya itu, Hatija mengapresiasi kepada para teman-teman di cabang Dinas Wilayah 1 melakukan inovasi, kreatifitas, dengan membangun suatu jaringan sistem informasi yang disebut Aplikasi Adata Belota.

“Saya sangat berharap seluruh operator, wakasek, pengelola barang yang ada di sekolah agar mendukung aplikasi ini. Karena dari enam cabang dinas wilayah menengah yang ada di Sulteng baru satu-satunya cabang dinas wilayah ini yang melakukan hal kreatif seperti ini,” ujarnya.

Hatija berpesan tetap kritisi jika sekiranya aplikasi ini ada yang kurang.

“Perlu diketahui aplikasi di SMK secara khusus terkait dengan ketersedian sarana prasarana kita punya tersendiri secara nasional, sehingga terkait dengan sarana dan kebutuhan sapras hanya bisa di akses lewat aplikasi Takola, dan di SMA tidak punya aplikasi tersebut, untuk itu kita berbeda,” katanya.

Reporter: Moh. Fadel
Editor: Muh. Yusuf

Ayo tulis komentar cerdas