Home Artikel / Opini

Benci dan Rindu untuk Rizieq

8

ENTAH berapa orang di negeri ini yang membenci sosok Habib Rizieq Shihab. Meski sulit menghitungnya, namun saya dapat memastikan: banyak! Refleksi kebencian atau ketidaksukaan itu begitu mudahnya ditemukan di media sosial (medsos).

Berbagai macam kata yang tak menyenangkan ditujukan kepada warga negara Indonesia satu ini. Simpulan atau lebih tepatnya tuduhan sepihak selalu mengarah ke dirinya. Disebut sepihak lantaran tak terkonfirmasi ke objeknya secara langsung.
Andaikan hal itu dilakukan, boleh jadi, akan terbantahkan. Karena rasa emosional itu lebih dominan dan fokus, sehingga mereka yang membenci atau tidak suka dengannya, terus menaburkan benih beraura negatif, tak berujung.

Di sebuah kedai kopi, di meja sudut, dekat jendela, saya merenung dan bertanya dalam hati. Ada apa ya sehingga banyak yang membenci manusia yang selalu memakai sorban dengan baju gamis berwarna putih bersih ini.

Apakah karena dia sering mengkritik pemerintahan Jokowi? Bukankah setiap warga negara dijamin dalam undang-undang boleh mengkritik pemerintah, termasuk presiden. Indonesia menganut paham demokrasi.

Apakah karena dia sering membela agamanya dan tokoh-tokoh agamanya? Salahkah bila suara pembelaan itu dia teriakkan. Apakah karena dia sering melontarkan kata-kata anti PKI, Partai Komunis Indonesia? Kita semua paham, partai ini terlarang, dan menjadi bahaya laten. Tentu, bila ada yang masih menyimpan romantisme untuk menghidupkan yang terlarang itu, wajib dilawan, baik oleh pemerintah yang berkuasa maupun rakyat biasa yang tak berkuasa.

Atau karena suara serak dan gaya pakaiannya? Suara serak itu, tentu, tak dapat diganggu-gugat. Itu pemberian Tuhan. Mungkin karena gaya pakaiannya dan caranya bertongkat kalau jalan? Belum ada aturan di negeri ini melarang warga negaranya memakai baju gamis, sorban, dan bertongkat.

Atau karena ormas FPI (Front Pembela Islam) yang dipimpinnya? FPI bukan komunitas terlarang. Ada izin pendiriannya dari pemerintah. Lalu mengapa mereka tidak suka? Tanyakan kepada mereka, para pembenci itu, bukan pada rumput yang bergoyang, seperti ajakan Ebiet G. Ade.

Di seberang sana, ternyata banyak juga orang yang merindukannya. Lihatlah ketika dia pulang dari Arab Saudi, massa yang berpakaian putih-putih itu membeludak di bandara Jakarta hendak menjemputnya. Sekira sepanjang tujuh kilometer jalanan penuh orang berdesakan ingin melihat langsung lelaki yang dirindukannya itu. Saat bertemu, mereka kompak, bagaikan paduan suara mendengungkan kata-kata kecintaan kepada sosok yang dikaguminya. Dalam sejarah penjemputan di bandara di negeri ini, penjemputan Habib Rizieq Shihab, inilah yang terbesar. Mungkin.

Begitu juga saat dia menikahkan anaknya dan menggelar acara Maulid Nabi Muhammad SAW, meski tak banyak diundang, massa tetap membanjiri acara tersebut.

Rizieq adalah sebuah fenomena. Kehadirannya dibenci dan dirindukan. Pemerintah yang cerdas pasti memandang warga negaranya satu ini dengan kaca mata bijak. Tidak larut dengan kebencian itu, tidak terlena dengan kerinduan itu. Jokowi adalah ayah di negeri ini. Rizieq adalah salah satu anakmu, rakyatmu. Manfaatkanlah kekuatannya, binalah kelemahannya, tentu di jalan yang benar dan adil, demi mencapai sebuah nilai kemanfaatan untuk kemajuan bangsa. Rizieq manusia biasa: boleh salah, boleh benar–seperti kita semua–rakyat Indonesia. (#)

Ayo tulis komentar cerdas