Home Sulteng

Tiga Karya Budaya Sulteng yang Menjadi WBTB Indonesia Perlu Dilestarikan kepada Generasi Muda

8
PERLU DILESTARIKAN - Rumah Adat Tambi di Kabupaten Poso yang ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda Indonesia tahun 2020. (Foto: detiktravel)

Pada Oktober 2020 lalu tiga karya budaya Sulawesi Tengah ditetapkan menjadi warisan budaya tak benda (WBTB) Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Ketiga karya budaya itu masing-masing Tari Dero, Tari Pamonte, dan Rumah Adat Tambi.

Laporan: Syahril Hantono

KEPALA Bidang Kebudayaan, Dinas Dikbud Sulteng Dr Rachman Ansyari mengatakan, sejak tahun 2015 Pemprov Sulteng melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tengah tidak pernah absen mengusulkan karya budaya dari kabupaten dan kota ke pemerintah pusat untuk ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda nasional. Tentu tidak semua ditetapkan jadi warisan budaya nasional karena harus diseleksi dan bersaing dengan usulan dari seluruh Indonesia. 

Yang teranyar di tahun 2020 tiga karya budaya Sulawesi Tengah ditetapkan menjadi warisan budaya tak benda (WBTB) Indonesia, yaitu Tari Dero, Tari Pamonte, dan Rumah Adat Tambi. Sebelumnya Dinas Dikbud Sulteng mengusulkan 11 karya budaya Sulteng. 

Dikutip dari presentasi Dinas Dikbud Sulteng, Dero merupakan tarian tradisional masyarakat suku Pamona, Kabupaten Poso yang hingga kini terus dipertahankan. Tradisi lama masyarakat suku Pamona ini sering ditampilkan dalam momen upacara adat, pesta adat, panen raya, upacara penyambutan, dan lain-lain. 

Tari Dero sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan, biasanya dilakukan secara massal atau melibatkan banyak orang, baik anak-anak, pris maupun wanita, serta tua maupun muda. Dengan diiringi musik dan nyanyiar syair mereka menari dengan gerakan khas dan penuh keceriaan.

Selain sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan, tarian ini dimaknai sebagai pemersatu masyarakat Suku Pamona. Semangat kebersamaan dan rasa persatuan sangat terasa dalam tarian ini. Karena itu Tari Dero terus dipertahankan dan tetap lestari hingga saat ini.

Rachman mengatakan, usulan Tari Dero sebagai salah satu WBTB tidak lain sebagai upaya perlindungan terhadap karya budaya dari tanah Poso itu. Upaya pengembangan juga tetap dilakukan melalui penampilan dalam iven pertunjukan seni, festival budaya, pariwisata, dan lain-lain.

‘’Kemudian upaya pemanfaatan dengan menjadikan Tari Dero sebagai daya tari wisatawan dalam daerah maupun luar negeri. Wisatawan tidak hanya menonton tetapi bisa ikut bergabung menari tarian ini,’’ kata Rachman beluma lama ini.

Tari Pamonte sudah ada dan dikenal masyarakat Sulteng pada tahun 1957. Tari ini diciptakan seniman besar dan putra asli Sulteng bernama Hasan Bahasyuan. Oleh penciptanya, tarian ini terinspirasi dari aktivitas dan kebiasaan gadis-gadis suku Kaili saat menyambut panen padi tiba. Masyarakat Suku Kaili yang mayoritas petani menyambut panen dengan riang gembira, sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan.

Pamonte berasal dari bahasa Kaili Tara yakni Pomonte yang artinya Penuai atau Menuai Padi. Tarian ini menggambarkan kebiasaan gadis-gadis memanen padi dengan penuh kegembiraan. Rasa gembira dilakukan dengan saling bergotong royong, bahu membahu sehingga larut dalam semangat kebersamaan yang tinggi.

Terkait perlindungan tarian ini, Rachman mengatakan selain ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda juga dimasukkan dalam perlindungan hak kekayaan intelektual (HKI). Sedangkan upaya pembinaan dilakukan dengan mengenalkan tarian ini kepada anak-anak usia dini melalui sanggar-sanggar seni.

Setiap daerah memiliki rumah adat. Di dataran tinggi Kabupaten Poso ada rumah adat yang dinamakan Tambi. Tambi merupakan rumah adat Suku Lore yang mendiami lembah Bada, Behoa, dan Napu. Dibuat dari kayu khusus, Tambi berbentuk rumah panggung yang dibangun di atas batu (Ari’i).

Dalam proses pembuatannya menggunakan ramuan-ramuan khusus yang dinamakan Lolinga, Rampea, dan Panente Kaho. Rumah Tambi berbentuk panggung namun tingginya tidak jauh dari permukaan tanah. Atapnya berbentuk segi tiga yang dilapisi ijuk.

Jika dilihat dari luar Rumah Tambi berbentuk prisma. Di dalamnya hanya terdapat satu ruang yang disebut Lobona. Di ruang itu juga ada dapur di bagian tengah, yang berfungsi untuk menghangatkan penghuni rumah.

Proses pembangunan rumah adat ini disebut Moaroha Tambiada. Menurut Rachman tradisi membuat Tambi kini hampir punah. Karena itu sangat perlu dilestarikan kepada generasi muda.

‘’Menjadikan Rumah Tambi sebagai warisan budaya tak benda merupakan upaya pelestarian. Selain itu dilakukan upaya pembinaan karya budaya dimana pembangunannya melibatkan generasi muda agar Rumah Tambi tetap bertahan dan lestari,’’ kata Rachman. (*)

Ayo tulis komentar cerdas