Home Artikel / Opini

Pahlawan atau Pecundang?

11

JANGAN pernah berharap–pada sebuah zaman–pahlawan lahir dari dunia politik. Apakah karena apriori atau memang tingkah mereka tak lagi mencerminkan kata-kata yang ke luar dari bibirnya dengan perbuatan kesehariannya, sehingga vonis itu lahir? Pertanyaan yang tak perlu dijawab lagi, lantaran sudah terjawab secara terang benderang. Kasat mata, begitu. Dalam diamnya, sesungguhnya rakyat menyimpannya dalam hati, hati yang sakit.

Kaum politikus telah memposisikan rakyat sebagai penonton sinetron yang mereka mainkan. Dunia sinetron hanya menyuguhkan apa maunya pemain. Tak ada urusan apa maunya penonton. Meski penonton tak sepaham, para pemain tetap memainkan perannya. Mirip dengan praktik demokrasi terpimpin. Apa maunya penguasa, harus jalan. Namanya saja terpimpin. Siapa yang tidak taat, gampang dicarikan jalan, penguasa punya polisi, bisa saja dicarikan pasal karet yang memudahkan mereka dimasukkan ke bui. Ya, begitulah, mau apa lagi. Kini demokrasi terpimpin itu berubah nama, yakni tontonan terpimpin. Bila mereka membuka dialog, itu hanya bagian dari permainan sinetron.

Tanpa rasa malu, mereka bisa berwajah serius seakan-akan memperjuangkan kehendak rakyat, padahal–diam-diam–menentang keinginan rakyat. Mirip orang yang memakai topeng, ataukah mereka memang benar-benar memakai topeng? Artinya, lain di depan lain di belakang. Sama dengan uang koin, tak sama bagian depan dengan bagian belakang.

Demi sebuah pemaksaan aturan atau undang-undang, misalnya, mereka bersiasat atas nama wakil rakyat, di sebuah gedung milik rakyat, di malam yang gelap, dengan rasa tak gentar mereka menjatuhkan palu sidang menandai diberlakukannya undang-undang, meski suara penolakan mendengung di seantero negeri. Korban-korban berjatuhan. Ratusan pengunjuk rasa ditangkap polisi, padahal mereka mempertanyakan aturan yang akan diberlakukan untuk kehidupan pekerjaan mereka. Mereka menilai undang-undang tersebut akan mengebiri hak-haknya.

Para politikus itu bukannya mendengar suara rakyat yang dulu–dalam pemilu–menghadiahkannya kursi di senayan, justru mereka mendustai nurani rakyat. Apakah tingkah-tingkah mereka yang memposisikan rakyat sebagi penonton sepihak yang tak berdaya itu, mereka berada di jalan-jalan menuju kepahlawanan atau mereka memilih jadi pecundang?

Persekutuan–wakil rakyat dengan pemerintah–yang mereka jalin mesrah yang tak melibatkan mereka yang wajib dilibatkan–bahkan menyakitinya–tentu sejarah mencatatnya pada lembaran buram. Tapi apakah mereka memikirkannya? “Memangnya gue pikirin.” Begitukah jawaban mereka? Mungkin.

Katanya, dalam dunia politik: tak ada kawan dan lawan yang abadi. Yang ada adalah bagaimana mencapai tujuan. Nasib! (#)

Ayo tulis komentar cerdas