Home Hukum & Kriminal

Warga Morowali Praperadilan Polres dan Kejari

16
Muslimin Budiman. (Foto: Istimewa)

Palu, Metrosulawesi.id – Dua warga Morowali, Syamsu Alam dan Andi Agus melalui kuasa hukumnya dari LBH HAM Sulteng akhirnya mengajukan praperadilan terhadap Polres (termohon I) dan Kejaksaan Negeri (termohon II) Morowali . Menyusul dugaan penganiayaan yang dilakukan permohon I.

Direktur LBH HAM Sulteng, Dr Muslimin Budiman SH MH mengatakan, surat permohonan praperadilan itu sudah didaftarka di Pengadilan Negeri Poso.

“Sudah kami daftarkan lagi setelah direvisi,” kata Budiman kepada Metrosulawesi, Rabu 11 November 2020.

Selain Budiman, lima advokat mewakili kedua pemohon, yakni: Idris Mamonto SH MH, Moh Safaad SH, Armawati SH MSi, Hidayat Hasan SH dan Muhadjirin Ladide SH.

Gugatan praperadilan ini berawal ketika 13 dari 21 warga Desa Topogaro, Kecamatan Bungku Barat, Kabupaten Morowali, ditangkap anggota Polres Morowali dengan tuduhan menduduki lahan yang diklaim oleh PT Bukit Jejer Sejahtera (BJS).

Dalam surat gugatan praperadilan itu Budiman dan rekannya menyebutkan, pemohon selakuk pemilih lahan dan warga lainnya menduduki lahan tersebut, karena tidak ada penyelesaian harga dari PT BJS.

“Sebelum pendudukan itu, pemohon bersala seorang pemilik lahan melakukan keberatan melalui upaya mediasi, hingga dibuat kesepakatan antara pemohon dan PT BJS tanggal 16 Desember 2019 mengenai penyelesaian, tetapi tidak ada penyelesaian, hingga akhirnya mereka memilih menduduki lahan tersebut pada 3 Oktober 2020 hingga 14 Oktober 2020,” jelas Budiman.

Pada 14 Oktober sore kata Budiman, personel Polres Morowali dengan senjata lengkap melakukan penangkapan, tanpa ada alasan yang sah, dan tidak jelas atas laporan siapa, dan karena apa.

“Apalagi lahan yang mereka duduki adalah milik pemohon,” kata Budiman.

Yang ironis katanya, setibanya di kantor Polres Morowali pemohon dianiaya hingga mengakibatkan babak belur pada bagian tubuh dan wajah.

Budiman mengatakan, tindakan termohon I yang melakukan penangkapan, penahanan dan melakukan pemukulan terhadap para pemohon merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia.

Anehnya kata Budi, meski pemohon sudah ditahan sejak 14 Oktober 2020, namun surat penahanannya baru diberikan pada 17 Oktober 2020.

“Tindakan ternohon I yang melakukan penangkapan lebih dari 24 jam dan kemudian melakukan penahanan atas diri para pemohon telah jelas melanggar ketentuan Pasal 17 KUHAP dan Pasal 19 ayat (1) KUHAP,” jelas Budiman.

Adapun kata Budiman, Kejari Morowali dilibatkan sebagai termohon II dalam perkara tersebut karena Kejari telah menerbitkan perpanjangan penahanan terhadap diri para pemohon pada tanggal 27 Oktober 2020, meskipun diketahuinya upaya hukum penangkapan dan penahanan atas diri para pemohon adalah tindakan yang sewenang-wenang dan tidak sah.

Di bagian akhir gugatan praperadilan tersebut, pemohon meminta pengadilan mengabulkan gugatan praperadilan dan menyatakan penangkapan, penahanan terhadap para pemohon tidak sah.
Pemohon juga minta agar pengadilan menghukum termohon I untuk membayar ganti rugi sebesar Rp100 juta kepada para pemohon secara tunai dan seketika.

Kabag Ops Polres Morowali, AKP Nasruddin SH, MIK, MH, yang dikonfirmasi sebelumnya mengatakan bahwa kegiatan penangkapan terhadap beberapa orang warga merupakan upaya Polres melakukan penegakan hukum dalam rangka untuk menindaklanjuti laporan perusahaan BJS.

“Jadi itu memang tindaklanjuti adanya laporan perusahaan dalam hal ini PT BJS. Masalah adanya warga yang melakukan pengancaman, termasuk ada juga yang membawa sejata tajam,” terang Nasruddin.

Adapun langkah-langkah pada saat penangkapan, sebut Nasruddin, tidak ada unsur atau tindakan kekerasan yang dilakukan anggota Polisi. Baik dalam penangkapan dari tempat kejadian perkara sampai dengan di Polres Morowali.

“Semua anggota yang berhubungan dengan teknis di lapangan telah diberikan intruksi, mana harus ada penindakan dan mana yang tidak. Jadi memang, kami cukup atensi betul jangan sampai ada usur-unsur kekerasan di saat melakukan penangkapan,” ungkapnya.

Reporter: Murad Mangge, Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas