Home Artikel / Opini

Macron dan Mercon

34

MACRON adalah sumbu yang meletuskan mercon. Akibatnya, letupan dan asap mercon kini mendengung, bukan hanya di Prancis–tempat Macron berkuasa–tapi juga di sejumlah negara, khususnya kaum muslim, merasa tersinggung dengan sumbu yang disebar sang presiden.

Indonesia, negara yang penduduknya mayoritas beragama Islam, ikut merasakan ketersinggungan itu. Lantaran itu–tentu saja dapat diduga–juga meletuskan mercon-mercon, bukan hanya di ibu kota negara, tapi juga di ibukota-ibukota provinsi.

Untung Presiden Jokowi cepat turun tangan dengan ucapan yang mengecam ucapan Presiden Macron yang menghubung-hubungkan Islam dengan tuduhan terorisme dan ekstremisme. Meski Jokowi dinilai agak terlambat, tapi lumayanlah, mampu meredam meluasnya letupan-letupan mercon di seantero negeri. Memang tidak mempan mematikan bara mercon, tapi nyalanya sudah mulai meredup. Semoga.

Dulu, musim mercon biasanya ramai menjelang lebaran, kini–akibat sumbu yang dinyalakan Macron–api dan letupannya pun menyebar di zaman pandemi yang terus memakan korban dan tak ada yang bisa meramalkan kapan berakhir, kecuali ramalan seorang dukun, mungkin.

Letupan mercon sebagai simbol refleksi kemarahan umat muslim di seluruh dunia, tak akan terjadi andaikan seorang warga Prancis tidak bermain-main dengan membuat karikatur sosok Nabi Muhammad, lalu Presiden Macron mau menahan diri untuk tidak membela warganya itu dengan nada-nada menyudutkan umat dan agama Islam.

Mercon dan letupannya telanjur menyebar. Bila Macron tetap menganggap ucapannya yang melahirkan luka bagi umat muslim itu adalah sebuah kebenaran yang didasari nilai kebebasan atau demokrasi yang hidup pada bangsanya, maka tidakkah seorang pemimpin besar sebesar Macron wajib memiliki tenggang rasa kepada mereka yang memiliki keyakinan keagamaan dan pikiran-pikiran bijak? Sekadar bertanya, untukmu: Macron! (#).

Ayo tulis komentar cerdas