Home Palu

Lukisan Mural dapat Menambah Estetika Kota

20
EKSPRESI PELAJAR - Kepala UPT Taman Budaya dan Museum Sulteng, Sri Ramlah Sari (kiri) melihat peserta melukis mural di dinding pagar kantor, Kamis 5 November 2020. (Foto: Metrosulawesi/ Syahril Hantono)
  • UPT TBM Sulteng Gairahkan Lagi Pelajar Melukis Mural

UPT Taman Budaya dan Museum (TBM) Sulteng mencoba membangkitkan lagi gairah seni kalangan pelajar. Kali ini melalui lomba melukis mural tingkat SMA, SMK, dan MA se Kota Palu. Lomba itu dimulai Kamis 5 November 2020 yang digelar dalam rangka menyambut HUT Museum tahun 2020.

Laporan: SYAHRIL HANTONO

LOMBA melukis mural mengambil lokasi di luar ruangan, tepatnya di halaman UPT Taman Budaya dan Museum Sulteng. Wahana melukisnya adalah dinding pagar beton yang berada di sisi barat dan selatan kantor tersebut.

Pantauan koran ini, sebelum dilukis pagar beton itu sudah dicat putih terlebih dahulu. Masing-masing peserta mendapat ruang 2 meter pada dinding beton. Mereka bisa melukis apa saja pada dinding itu, namun tetap mengacu pada tema yakni ”Melestarikan potensi budaya Sulawesi Tengah”.

Karena itu karya mural pada dinding itu antara lain patung Pelindo, simbol Tadulako, dan lain-lain. Berbeda dengan melukis di kanvas, melukis mural ini menggunakan cat warna warni serta peralatan kuas berbagai ukuran.

Kepala UPT Taman Budaya dan Museum Sulteng Dr Sri Ramlah Sari mengatakan, lomba melukis mural bertujuan untuk membangkitkan gairah seni di kalangan siswa. Menurutnya lukisan mural tidak hanya coretan gambar di dinding beton tanpa makna. Tetapi dalam perkembangannya lukisan mural mengandung pesan moral kepada masyarakat yang melihatnya.

”Di kota-kota lain lukisan mural dapat memperindah kota,” kata Sri Ramlah Sari.

Salah seorang pelukis Sulteng, Endeng Mursalim mengapresiasi UPT Taman Budaya dan Museum Sulteng yang menggelar lomba melukis mural. Dia mengatakan perkembangan mural di daerah ini sudah lama ada. Menurutnya lukisan mural bisa ikut berpartisipasi mempromosikan potensi budaya Sulteng.

”Seperti lomba kali ini, lukisan mural mengangkat tema-tema kebudayaan Sulawesi Tengah seperti Patung Palindo atau ciri khas daerah kita lainnya, ini yang menarik,” kata Endeng yang juga salah satu juri dalam lomba tersebut.

Endeng juga menyinggung pesan moral yang banyak disampaikan oleh pelukis-pelukis mural. Menurutnya pesan moral lukisan mural umumnya dapat ditemukan di jalan-jalan kota. Misalnya pesan untuk menjaga lingkungan, tidak membuang sampah dari dalam mobil, tidak membuang sampah di sungai, dan lain-lain.

Dia juga mengatakan, lukisan mural saat ini sebagai sarana ekspresi anak muda. Hal ini dapat dilihat di kota-kota seperti di Bandung, Jogjakarta, dan lain-lain sehingga kota menjadi menarik.

”Jadi benar seperti dikatakan ibu (Kepala UPT Taman Budaya dan Museum Sulteng) tadi, bahwa mural menjadi estetika kota. Karya seni tidak hanya di dalam ruang tetapi juga di luar ruang,” ujarnya.

”Karena itu saya mengapresiasi kepala Taman Budaya dan Museum Sulteng yang menggelar lomba melukis mural. Kepada anak-anak lomba ini juga harus diperkenalkan bahwa melukis itu tidak hanya di kertas atau kanvas,” kata Endeng.

Dengan terus dibimbing dalam bidang melukis mural, bukan tidak mungkin suatu saat nanti kemampuan ini bisa menjadi faktor pendapatan.

”Perkembangan saat ini melukis dengan media dinding tidak hanya menjadi penyalur hasrat seni tapi kini juga bisa dijadikan bisnis yang manis. Karena jika Anda lihat sekarang berbagai properti dari mulai restoran, hotel, apartemen, mall hingga rumah menggunakan mural sebagai alat untuk mempercantik interior,” katanya. (*)

Ayo tulis komentar cerdas