MELAWAN COVID - Suasana di Cafe dan Hotel d'Kalora di Desa Kalora, Kecamatan Kinovaro, Kabupaten Sigi. Di tengah pandemi Covid-19, pengusaha tetap membangun optimisme. (Foto: Metrosulawesi/ Pataruddin)
  • Pelaku Usaha Soal Dampak Covid-19

Palu, Metrosulawesi.id – Pelaku usaha jasa di era pandemi Covid-19, memang dibuat pusing tujuh keliling. Sejak penerapan pembatasan pelaku perjalanan, penutupan bandara, bekerja dari rumah dan sebagainya langsung meradang hingga hampir gembok kantor.

Seperti yang dialami perusahaan jasa perjalanan umrah dan haji Babussalam. Kantor megah di Jalan Sam Ratulangi itu cukup sepi. Hanya ada dua karyawan yang ditugasi berjaga setiap hari. Itu dilakukan agar kantor tetap bisa melayani manakala ada yang membutuhkan informasi.

Menurut H Ishak, langkah tetap membuka kantor meski sebenarnya sudah tidak ada lagi aktivitas supaya kantor tidak terkesan tutup saja.

“Padahal memang sejak pembatasan dimulai, sudah tidak ada yang mendaftar untuk perjalanan umrah maupun haji,” kata Ishak.

Lebih berat lagi tatkala pemerintah Arab Saudi menutup dua kota tujuan utama umrah dan haji, Makkah dan Madinah.

Sementara itu, Rudy Wijaya, pemilik Cafe dan Hotel d’Kalora di Desa Kalora, Kecamatan Kinovaro, Kabupaten Sigi. Usaha yang dibangun sejak 2016 lalu, ikut merasakan dampak penurunan pendapatan.

“Asal jangan nol saja pendapatan,” kata Rudy.

Penuturan singkat dua pengusaha di atas menunjukkan betapa berdampaknya Covid-19 di sektor jasa.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sulawesi Tengah Fery Taula SE MM menyebutkan, rata-rata tingkat hunian di bawah 9 persen. Event pemerintah dan korporasi yang selama ini menjadi andalan pelaku usaha hotel dan restoran semuanya berhenti.

“Sedikit ada pergerakan setelah ada pelonggaran dan hunian naik hingga 40 persen. Namun tidak lama karena angka penularan naik lagi, sehingga membuat anjlok lagi tingkat kunjungan,” kata Fery dalam sebuah diskusi.

Menurut Fery, para pengelola perhotelan maupun restoran dan destinasi wisata tidak pernah tutup. Hanya saja memang tidak ada orang yang berkunjung.

“Kita berharap pandemi ini segera berakhir dan pariwisata Sulawesi Tengah bisa bangkit lagi,” kata Fery.

Justru di tengan pandemi ini, ada kesempatan untuk meningkatkan sumber daya manusia dalam bentuk pelatihan-pelatihan.

“Kita berharap mereka akan menjadi tenaga siap pakai dan profesional dan bisa mengisi peluang kerja ke depannya. Baik tetap di hotel atau resto juga secara privat,” kata Fery.

Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sulawesi Tengah Nurhalis M Laulesang mengatakan sejak Covid-19 merebak hingga ke Sulaweei Tengah langsung berdampak pada sektor pariwisata dan sarana pendukungnya seperti hotel dan restoran.

“Awalnya kita tidak tahu mau berbuat apa. Namun seiring berjalannya waktu dan penanganan, perlahan mulai tertangani. Namun dengan protokol yang ketat,” kata Nurhalis dalam sebuah dialog.

Menurut Nurhalis, di awal semua aktifitas dan sarana pendukung seperti transportasi, restoran terganggu dan hampir tidak ada aktifitas. Setelah keluar kebijakan pemerintah dengan melakukan pelonggaran, sektor pariwisata pun kembali berdenyut. Tetapi tetap mematuhi protokol Covid-19.

Nurhalis maupun Fery berharap pandemi Covid-19 cepat berlalu agar sektor pariwisata bisa kembali bangkit dengan pola baru.

Reporter: Pataruddin
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas